Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Virus Nipah dan Covid-19 Sama? Ini Rincian dan Pencegahannya

Cahya Mulyana
27/1/2026 17:33
Virus Nipah dan Covid-19 Sama? Ini Rincian dan Pencegahannya
ilustrasi(MI)

MUNCULNYA kembali kasus Virus Nipah (NiV) di India pada awal 2026 memicu kekhawatiran global. Banyak masyarakat yang secara refleks membandingkan ancaman ini dengan pandemi COVID-19 yang pernah melumpuhkan dunia beberapa tahun silam. Pertanyaan mendasar pun muncul: Apakah Virus Nipah berpotensi menjadi pandemi seperti COVID-19?

Meskipun keduanya merupakan penyakit zoonosis (berasal dari hewan) dan menyerang sistem pernapasan, Virus Nipah dan COVID-19 (SARS-CoV-2) memiliki karakteristik virologi, tingkat fatalitas, dan mekanisme penularan yang sangat berbeda. Memahami perbedaan ini sangat krusial agar masyarakat tidak terjebak dalam kepanikan yang tidak perlu, namun tetap waspada.

Berikut adalah analisis mendalam mengenai perbedaan Virus Nipah dan COVID-19 berdasarkan data medis dan epidemiologi terkini.

Tabel Perbandingan Cepat: Nipah vs COVID-19

Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah ringkasan perbedaan utama antara kedua virus ini:

Indikator Virus Nipah (NiV) COVID-19 (SARS-CoV-2)
Keluarga Virus Paramyxoviridae Coronaviridae
Tingkat Kematian (CFR) Sangat Tinggi (40% - 75%) Rendah (< 1% pada 2026)
Penularan (Transmisi) Kontak cairan tubuh, makanan terkontaminasi (Sulit menular) Airborne/Droplet (Sangat mudah menular)
Gejala Khas Radang Otak (Ensefalitis), Kejang, Koma Gangguan Pernapasan, Pneumonia, Anosmia
Vaksin (Status 2026) Belum tersedia secara komersial Tersedia luas & efektif

1. Tingkat Kematian (Case Fatality Rate)

Perbedaan paling mencolok dan menakutkan terletak pada tingkat kematian. COVID-19, meskipun sangat menular, memiliki tingkat kematian yang relatif rendah, terutama setelah program vaksinasi global dan terbentuknya kekebalan kelompok. Pada 2026, COVID-19 diperlakukan sebagai penyakit endemis dengan fatalitas di bawah 1%.

Sebaliknya, Virus Nipah jauh lebih mematikan. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tingkat kematian kasus (CFR) Nipah berkisar antara 40% hingga 75%. Artinya, dari 10 orang yang terinfeksi, 4 hingga 7 orang berpotensi meninggal dunia. Tingginya angka ini disebabkan oleh ketiadaan obat antivirus spesifik dan kemampuan virus merusak jaringan otak secara cepat.

2. Mekanisme Penularan dan Dayaular

Inilah faktor yang membuat para ahli epidemiologi sedikit "lega" dibandingkan saat awal pandemi COVID-19.

  • COVID-19: Juara dalam hal penularan. Virus ini menyebar melalui droplet dan aerosol di udara. Seseorang bisa tertular hanya dengan berada di ruangan yang sama dengan penderita, bahkan tanpa kontak fisik. Angka reproduksi (R0) varian COVID-19 sangat tinggi.
  • Virus Nipah: Penularannya jauh lebih sulit. Virus ini tidak menyebar semudah COVID-19 melalui udara jarak jauh. Penularan antarmanusia biasanya membutuhkan kontak erat yang intens, seperti merawat pasien tanpa APD dan terkena cairan tubuh (muntahan, darah, urine). Rantai penularan Nipah seringkali terputus (stuttering chains of transmission) dan tidak meluas secepat Corona.

3. Target Organ dan Gejala Klinis

Meskipun sama-sama bisa menyebabkan gejala awal seperti flu (demam, batuk, sakit tenggorokan), target akhir kedua virus ini berbeda.

🧠 Fokus Nipah: Serangan Neurologis

Pembeda utama Nipah adalah kemampuannya menyebabkan Ensefalitis (Radang Otak). Pasien COVID-19 jarang mengalami kejang atau koma di fase awal. Namun pada Nipah, gejala pusing, disorientasi, hingga koma bisa terjadi sangat cepat (dalam 24-48 jam) setelah gejala awal muncul. Inilah yang membuat Nipah sangat berbahaya.

Sementara itu, COVID-19 lebih dominan menyerang saluran pernapasan bawah, menyebabkan pneumonia, badai sitokin, dan pada beberapa kasus menyebabkan Long Covid yang mempengaruhi berbagai organ, namun manifestasi utamanya tetap pada sistem respirasi.

4. Inang Alami (Reservoir)

Kedua virus ini berasal dari hewan, namun perantaranya berbeda:

  • Nipah: Inang alaminya adalah kelelawar buah (Pteropus). Virus bisa melompat ke manusia lewat perantara babi atau langsung lewat buah yang terkontaminasi air liur kelelawar.
  • COVID-19: Asal-usul pastinya masih diperdebatkan, namun konsensus ilmiah mengarah pada kelelawar yang kemudian menular ke manusia melalui inang perantara (diduga trenggiling atau hewan pasar basah lainnya).

5. Ketersediaan Vaksin dan Terapi

Hingga 2026, dunia telah memiliki berbagai jenis vaksin COVID-19 yang terbukti ampuh mencegah gejala berat. Obat antivirus seperti Paxlovid dan Molnupiravir juga tersedia.

Sebaliknya, untuk Virus Nipah, belum ada vaksin atau obat yang disetujui untuk manusia. Penanganan pasien Nipah saat ini hanya bersifat suportif (mengobati gejala), seperti menjaga keseimbangan cairan, mengatasi kejang, dan bantuan pernapasan. Beberapa terapi antibodi monoklonal sedang dalam tahap uji coba, namun belum tersedia secara luas.

Kesimpulan: Apakah Nipah Akan Menjadi Pandemi Berikutnya?

Potensi pandemi selalu ada, namun karakteristik Virus Nipah membuatnya cenderung menyebabkan wabah lokal (outbreak) daripada pandemi global seperti COVID-19, asalkan virus tidak bermutasi menjadi lebih mudah menular antarmanusia.

Masyarakat Indonesia diminta untuk tidak menyamakan Nipah dengan COVID-19 secara membabi buta. Tingkat kewaspadaan harus tinggi karena fatalitasnya, namun cara pencegahannya lebih spesifik: hindari kontak dengan kelelawar, cuci buah dengan bersih, masak nira hingga matang, dan hindari daerah wabah aktif.

(Cah/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya