Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
MUNCULNYA kembali kasus Virus Nipah (NiV) di India pada awal 2026 memicu kekhawatiran global. Banyak masyarakat yang secara refleks membandingkan ancaman ini dengan pandemi COVID-19 yang pernah melumpuhkan dunia beberapa tahun silam. Pertanyaan mendasar pun muncul: Apakah Virus Nipah berpotensi menjadi pandemi seperti COVID-19?
Meskipun keduanya merupakan penyakit zoonosis (berasal dari hewan) dan menyerang sistem pernapasan, Virus Nipah dan COVID-19 (SARS-CoV-2) memiliki karakteristik virologi, tingkat fatalitas, dan mekanisme penularan yang sangat berbeda. Memahami perbedaan ini sangat krusial agar masyarakat tidak terjebak dalam kepanikan yang tidak perlu, namun tetap waspada.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai perbedaan Virus Nipah dan COVID-19 berdasarkan data medis dan epidemiologi terkini.
Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah ringkasan perbedaan utama antara kedua virus ini:
| Indikator | Virus Nipah (NiV) | COVID-19 (SARS-CoV-2) |
|---|---|---|
| Keluarga Virus | Paramyxoviridae | Coronaviridae |
| Tingkat Kematian (CFR) | Sangat Tinggi (40% - 75%) | Rendah (< 1% pada 2026) |
| Penularan (Transmisi) | Kontak cairan tubuh, makanan terkontaminasi (Sulit menular) | Airborne/Droplet (Sangat mudah menular) |
| Gejala Khas | Radang Otak (Ensefalitis), Kejang, Koma | Gangguan Pernapasan, Pneumonia, Anosmia |
| Vaksin (Status 2026) | Belum tersedia secara komersial | Tersedia luas & efektif |
Perbedaan paling mencolok dan menakutkan terletak pada tingkat kematian. COVID-19, meskipun sangat menular, memiliki tingkat kematian yang relatif rendah, terutama setelah program vaksinasi global dan terbentuknya kekebalan kelompok. Pada 2026, COVID-19 diperlakukan sebagai penyakit endemis dengan fatalitas di bawah 1%.
Sebaliknya, Virus Nipah jauh lebih mematikan. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tingkat kematian kasus (CFR) Nipah berkisar antara 40% hingga 75%. Artinya, dari 10 orang yang terinfeksi, 4 hingga 7 orang berpotensi meninggal dunia. Tingginya angka ini disebabkan oleh ketiadaan obat antivirus spesifik dan kemampuan virus merusak jaringan otak secara cepat.
Inilah faktor yang membuat para ahli epidemiologi sedikit "lega" dibandingkan saat awal pandemi COVID-19.
Meskipun sama-sama bisa menyebabkan gejala awal seperti flu (demam, batuk, sakit tenggorokan), target akhir kedua virus ini berbeda.
Pembeda utama Nipah adalah kemampuannya menyebabkan Ensefalitis (Radang Otak). Pasien COVID-19 jarang mengalami kejang atau koma di fase awal. Namun pada Nipah, gejala pusing, disorientasi, hingga koma bisa terjadi sangat cepat (dalam 24-48 jam) setelah gejala awal muncul. Inilah yang membuat Nipah sangat berbahaya.
Sementara itu, COVID-19 lebih dominan menyerang saluran pernapasan bawah, menyebabkan pneumonia, badai sitokin, dan pada beberapa kasus menyebabkan Long Covid yang mempengaruhi berbagai organ, namun manifestasi utamanya tetap pada sistem respirasi.
Kedua virus ini berasal dari hewan, namun perantaranya berbeda:
Hingga 2026, dunia telah memiliki berbagai jenis vaksin COVID-19 yang terbukti ampuh mencegah gejala berat. Obat antivirus seperti Paxlovid dan Molnupiravir juga tersedia.
Sebaliknya, untuk Virus Nipah, belum ada vaksin atau obat yang disetujui untuk manusia. Penanganan pasien Nipah saat ini hanya bersifat suportif (mengobati gejala), seperti menjaga keseimbangan cairan, mengatasi kejang, dan bantuan pernapasan. Beberapa terapi antibodi monoklonal sedang dalam tahap uji coba, namun belum tersedia secara luas.
Potensi pandemi selalu ada, namun karakteristik Virus Nipah membuatnya cenderung menyebabkan wabah lokal (outbreak) daripada pandemi global seperti COVID-19, asalkan virus tidak bermutasi menjadi lebih mudah menular antarmanusia.
Masyarakat Indonesia diminta untuk tidak menyamakan Nipah dengan COVID-19 secara membabi buta. Tingkat kewaspadaan harus tinggi karena fatalitasnya, namun cara pencegahannya lebih spesifik: hindari kontak dengan kelelawar, cuci buah dengan bersih, masak nira hingga matang, dan hindari daerah wabah aktif.
(Cah/P-3)
Startup India Sarvam AI mengejutkan dunia dengan Sarvam Vision dan Bulbul, model AI lokal yang mengungguli Google Gemini dan DeepSeek dalam OCR dan suara.
Menkes Budi Gunadi Sadikin mengajak masyarakat untuk meningkatakan kewaspadaan pencegahan virus nipah terutama saat bepergian ke negara-negara seperti India dan Banglades
SEDIKITNYA 31 orang tewas dan 169 lain luka-luka ketika seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan dirinya di suatu masjid Syiah selama salat Jumat di ibu kota Pakistan, Islamabad.
INDIA mengutuk serangan bom bunuh diri di suatu masjid Syiah di Islamabad, Pakistan, yang menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai 169 lainnya pada Jumat (6/2).
POLDA Bali mengungkap jaringan judi online internasional yang beroperasi di wilayah Bali.
Presiden AS Donald Trump resmi menurunkan tarif barang India menjadi 18%. Sebagai gantinya, PM Narendra Modi sepakat menghentikan pembelian minyak Rusia.
Indonesia mencatatkan capaian signifikan dalam upaya pencegahan angka kematian dari kasus demam berdarah (DBD).
Dokter Unair mengingatkan kelelawar adalah inang alami virus Nipah. Masyarakat diminta waspada dan tidak memakan buah bekas gigitan kelelawar.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
KITA tahu bahwa surveilans merupakan tulang punggung penting pengendalian penyakit menular.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved