Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dominicus Husada, mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan kelelawar karena hewan tersebut merupakan inang alami virus Nipah (NiV), penyakit yang saat ini kembali muncul di India dan Bangladesh.
Menurut Dominicus, kelelawar telah terbukti dalam banyak penelitian ilmiah berperan besar dalam penularan berbagai penyakit menular, termasuk memengaruhi mutasi virus.
“Kita tidak bisa anggap remeh hewan ini, karena sudah terbukti dalam banyak data ilmiah kelelawar sangat berperan pada penularan penyakit, bahkan mempengaruhi mutasinya,” kata Dominicus dalam konferensi pers daring, Kamis (29/1).
Ia menegaskan, kelelawar yang hidup di Indonesia pun berpotensi membawa sejumlah virus berbahaya, termasuk Nipah. Karena itu, kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan meskipun jumlah kasus masih tergolong sedikit.
“Saya kira kita perlu lebih waspada. Penyakit Nipah jangan juga dianggap remeh sekalipun kasusnya masih sedikit,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, mengingatkan masyarakat untuk tidak mengonsumsi buah yang bekas digigit kelelawar, karena dapat menjadi jalur penularan virus.
“Kalau kelelawarnya mengandung virus Nipah maka bisa menularkan, terutama ke anak-anak,” kata Piprim.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara orangtua, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam melaporkan kejadian tidak biasa, seperti kematian hewan liar maupun ternak.
Piprim meminta masyarakat tetap waspada tanpa terjebak kepanikan massal.
“Kewaspadaan tetap diperlukan supaya hal-hal buruk tidak terjadi pada anak-anak kita. Penyakit Nipah ini sebagian besar menjangkiti orang dewasa produktif, tapi bukan berarti anak tidak bisa terkena,” pungkasnya. (Z-10)
WHO terus memantau sejumlah penyakit infeksi paru berat seperti flu burung, MERS, influenza berat, dan virus Nipah yang berisiko tinggi bagi kesehatan global.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi memasukkan virus Nipah (NiV) ke dalam daftar patogen prioritas yang berpotensi memicu pandemi berikutnya.
Kasus kematian akibat nipah ini menjadi alarm keras bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mengenai risiko penularan virus zoonosis tersebut.
DUNIA kembali dalam kewaspadaan tinggi setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi kematian pertama akibat virus Nipah di Banglades pada awal Februari 2026.
DISEASE Outbreak News (DONs) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan laporan resmi meninggalnya pasien akibat infeksi virus Nipah (NiV) di Banglades
DPRD Jawa Timur mendesak Pemprov Jawa Timur memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk sebagai langkah antisipasi terhadap potensi penyebaran virus nipah
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved