Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Antara Mudik Kultural dan Mudik Spiritual

Biyanto Guru Besar UIN Sunan Ampel, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur
13/3/2026 05:10
Antara Mudik Kultural dan Mudik Spiritual
(MI/Seno)

KEMENTERIAN Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik Idul Fitri tahun ini mencapai 143,91 juta orang (50,6% dari jumlah penduduk negeri tercinta). Para pemudik mulai bergerak dari daerah rantau ke kampung halaman. Bahkan sebagian pemudik berasal dari negara-negara yang selama ini menjadi destinasi pekerja migran.

Menurut pengamatan Andre Moller dalam Ramadan in Java: The Joy and Jihad of Ritual Fasting (2005), fenomena mudik ke kampung halaman merupakan bagian dari aktivitas keagamaan yang unik di Nusantara. Rasanya tidak ada negara yang begitu semarak menyambut Ramadan dan Idul Fitri dengan beraneka tradisi.

Mudik bertujuan merayakan Idul Fitri bersama keluarga tercinta di kampung halaman. Pertanyaannya, apa motivasi yang mendorong pemudik bergerak dari tempat perantauan ke kampung halaman? Padahal, untuk kepentingan mudik mereka harus mengeluarkan biaya besar, meluangkan waktu, berpeluh keringat, dan bersusah payah selama perjalanan.

 

MEMAHAMI MUDIK KULTURAL 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik berasal dari kata udik yang berarti kampung, desa, atau dusun. Kata udik juga berarti hulu sungai, tempat semua aliran air berawal. Dari pengertian itu dipahami bahwa mudik berkaitan dengan ajaran agar seseorang kembali ke daerah asal untuk mengingat masa lalunya saat memulai kehidupan di kampung halaman.

Tentu banyak kenangan indah yang dirasakan bersama keluarga, kerabat, dan teman sekolah sekaligus teman sepermainan. Kenangan indah itulah yang ingin dihadirkan kembali melalui beragam kegiatan selama mudik di kampung halaman. Yang menarik, fenomena mudik telah menjadi budaya lintas etnik dan agama. Perantau dengan berbagai latar belakang agama dan etnik menjadikan mudik layaknya ritual tahunan.

Budaya mudik juga tidak mengenal latar belakang sosial ekonomi. Pemudik berkeyakinan bahwa mudik ke kampung halaman sangat bermakna bagi kehidupan. Selalu ada energi positif yang dirasakan jika seseorang kembali ke kampung halaman. Energi positif itu dapat menjadi penyemangat tatkala pemudik kembali ke kota untuk bekerja.

Berbagai motivasi turut menyertai para pemudik, seperti rindu kampung halaman, sungkem orangtua, silaturahim dengan saudara, nyekar anggota keluarga yang telah meninggal, reuni bersama teman, dan keinginan berbagi dengan sesama. Pemudik juga terbiasa memberikan bingkisan Lebaran pada keluarga dan tetangga terdekat. Tradisi berbagi para pemudik itu merupakan pelajaran berharga.

Mereka telah mengamalkan ajaran agama yang menekankan pentingnya memberi (religious giving). Bahwa tangan di atas (memberi) itu lebih baik daripada tangan di bawah (meminta-minta). Padahal sejujurnya, tidak semua pemudik sukses bekerja di perantauan. Sebagian perantau mengalami kesulitan hidup karena berpenghasilan kecil dan tidak menentu.

Bahkan, sebagian mereka juga kehilangan pekerjaan akibat terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, semua kesulitan yang dihadapi di perantauan seakan hilang begitu tiba di kampung halaman. Suasana dan hawa kampung halaman yang alami untuk sementara waktu bisa menjadi pelipur lara. Pemudik pun tampak begitu menikmati suasana kampung halaman. Kebahagiaan dan ketulusan terpancar dari wajah mereka.

 

PENTINGNYA MUDIK SPIRITUAL

Selain mudik kultural setiap menjelang Ramadan dan Idul Fitri, secara metaforis Al-Qur’an juga memerintahkan mudik spiritual. Mudik spiritual dalam Al-Qur’an bermakna kembali kepada ampunan (maghfirah) Allah SWT. Dalam konteks itu Allah berfirman, "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa (QS Ali ‘Imran: 133)."

Firman Allah tersebut berbicara mengenai perintah agar kita segera mudik dengan cara kembali pada ampunan Tuhan. Mudik spiritual dalam pengertian kembali ke ampunan Tuhan itulah yang harus selalu dilakukan setiap saat, tidak hanya menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Dalam literatur filsafat dan mistik Jawa, perintah mudik spiritual berkaitan dengan ajaran sangkan-paraning hurip (asal dan tujuan hidup). Demikian juga ajaran sangkan-paraning dumadi (asal dan tujuan semua makhluk). Filsafat kesufian Jawa mengajarkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa merupakan asal dan tujuan hidup.

Hal itu berarti setiap orang harus menyadari dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup di dunia, dan ke mana tujuan akhir dari drama kehidupan manusia. Pada konteks itulah dapat dipahami bahwa mudik spiritual berkaitan dengan keyakinan bahwa kita semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah jua.

Dalam perspektif Islam, ajaran sangkan-paraning hurip dan sangkan-praning dumadi itu sejalan dengan keyakinan bahwa sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah jua kita akan kembali (inna lillah wa inna ilayhi raji’un). Jika dulu kita dilahirkan ke dunia dalam keadaan bersih-suci, tatkala berpulang ke haribaan Ilahi semestinya kita juga tergolong orang-orang yang kembali fitrah (minal ’aidin).

Melalui mudik kultural kita memperoleh pelajaran betapa para pemudik telah mengamalkan pesan puasa dalam bentuk yang lebih konkret. Para pemudik mengajarkan pentingnya berbagi dengan sesama melalui pemberian angpau, pakaian, jajanan, dan bingkisan Lebaran lainnya. Mereka juga rajin bersilaturrahim dengan sesama sebagai implementasi pesan puasa yang mengajarkan kasih sayang (rahmah).

Sementara itu, untuk mudik spiritual kita semestinya mampu menangkap pesan substantif Idul Fitri yang mengajarkan pentingnya peningkatan ketaatan pada Allah. Hal itu sejalan dengan ajaran yang menyatakan laysal ’id liman labisal jadid wa lakinnal ’id liman taqwahu yazid (esensi Idul Fitri tidak terletak pada pakaian yang baru, tetapi ketakwaan yang terus bertambah).

Jika dalam tradisi mudik kultural seseorang harus menyiapkan bekal yang berlebih untuk pulang ke kampung halaman, untuk mudik spiritual ke kampung akhirat, yang dibutuhkan ialah komitmen senantiasa kembali pada ampunan Tuhan. Pada konteks itulah derajat ketakwaan sebagai hasil dari ibadah puasa penting menjadi bekal untuk menggapai mudik spiritual.

Semoga Ramadan tahun ini menjadi Ramadan luar biasa sehingga melahirkan pribadi-pribadi yang senantiasa mudik spiritual. Dengan begitu, kita tergolong orang yang kembali kepada fitrah kesucian dan memperoleh kemenangan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya