Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Virus Nipah, Ini Gejala, Penularan, dan Status Terkini di Indonesia

Cahya Mulyana
27/1/2026 17:22
Virus Nipah, Ini Gejala, Penularan, dan Status Terkini di Indonesia
ilustrasi virus(dok.halodoc)

PADA awal tahun 2026, perhatian dunia kesehatan global kembali tertuju pada ancaman penyakit zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia). Munculnya klaster baru Virus Nipah (NiV) di Benggala Barat, India, pada Januari 2026 telah memicu alarm kewaspadaan di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah lama menempatkan Nipah dalam daftar prioritas penyakit yang berpotensi menyebabkan pandemi karena tingkat kematiannya yang tinggi dan belum adanya vaksin yang disetujui secara komersial.

Mengenal Virus Nipah: Asal Usul dan Karakteristik

Virus Nipah adalah virus RNA yang termasuk dalam genus Henipavirus dari famili Paramyxoviridae. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1999 saat terjadi wabah besar di kalangan peternak babi di Sungai Nipah, Malaysia. Inang alami (reservoir) dari virus ini adalah kelelawar buah dari genus Pteropus, atau yang di Indonesia dikenal sebagai kalong.

📊 Data Vital Virus Nipah (Update 2026)

  • Tingkat Kematian (CFR): Berkisar antara 40% hingga 75%, jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19.
  • Inang Utama: Kelelawar buah (Fruit bats).
  • Masa Inkubasi: Umumnya 4-14 hari, namun laporan medis mencatat kasus hingga 45 hari.
  • Status Vaksin 2026: Belum ada vaksin berlisensi untuk penggunaan umum. Kandidat vaksin PHV02 sedang memasuki uji klinis Fase II di Bangladesh.

Mekanisme Penularan: Bagaimana Virus Menyebar?

Pemahaman mengenai rantai penularan adalah kunci pertahanan utama. Berdasarkan studi epidemiologi hingga 2026, virus ini menular melalui tiga jalur utama:

  1. Hewan ke Manusia (Spillover):
    • Kontak langsung dengan cairan tubuh (urine, air liur, darah) kelelawar yang terinfeksi.
    • Kontak dengan hewan perantara yang sakit, seperti babi, kuda, atau hewan ternak lainnya.
  2. Makanan Terkontaminasi:
    • Mengonsumsi buah-buahan yang telah digigit kelelawar.
    • Meminum nira (air lahang) kurma atau aren mentah yang terkontaminasi urine/air liur kelelawar. Ini adalah jalur penularan umum di Asia Selatan.
  3. Manusia ke Manusia:
    • Terjadi melalui kontak erat dengan pasien yang terinfeksi, terutama cairan tubuh pasien. Kasus di India pada Januari 2026 mengonfirmasi penularan nosokomial (di rumah sakit) kepada tenaga kesehatan yang merawat pasien tanpa APD lengkap.

Gejala Klinis: Waspadai Tanda-Tanda Berikut

Infeksi Virus Nipah memiliki spektrum gejala yang luas, mulai dari asimtomatik (tanpa gejala) hingga infeksi saluran pernapasan akut dan ensefalitis (radang otak) fatal. Berikut adalah fase gejala yang perlu diwaspadai:

Fase Gejala Klinis
Fase Awal (Prodromal) Demam, sakit kepala, nyeri otot (mialgia), muntah, dan sakit tenggorokan. Gejala ini sering disalahartikan sebagai flu biasa.
Fase Lanjutan Pusing, mudah mengantuk, penurunan kesadaran, dan tanda-tanda neurologis yang mengarah pada ensefalitis akut.
Fase Kritis Kejang-kejang dan koma yang dapat terjadi dalam waktu 24-48 jam. Sebagian pasien juga mengalami gangguan pernapasan berat (pneumonia atipikal).
Efek Jangka Panjang Bagi penyintas, sekitar 20% mengalami gejala sisa neurologis seperti kejang persisten atau perubahan kepribadian.

Status Terkini di Indonesia (Januari 2026)

Menyikapi wabah di India yang melibatkan 5 kasus konfirmasi dan karantina ratusan kontak erat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah mengambil langkah responsif.

Hingga 27 Januari 2026, Kemenkes menegaskan bahwa belum ditemukan kasus konfirmasi positif Virus Nipah di Indonesia. Namun, sistem kewaspadaan dini telah diaktifkan:

  • Pengawasan Pintu Masuk: Pemasangan thermal scanner dan pengawasan sindromik diperketat di bandara internasional, khususnya bagi pelaku perjalanan dari Asia Selatan.
  • Kesiapan Laboratorium: Kemenkes telah menyiapkan reagen PCR khusus untuk mendeteksi Virus Nipah di laboratorium rujukan nasional.
  • Surveilans Hewan: Koordinasi dengan Kementerian Pertanian ditingkatkan untuk memantau populasi kelelawar buah dan peternakan babi.

Langkah Pencegahan dan Mitigasi

Mengingat belum tersedianya obat spesifik, pencegahan adalah satu-satunya cara efektif untuk melindungi diri dan keluarga.

🛡️ Protokol Pencegahan Masyarakat

  • Cuci dan Kupas Buah: Hindari memakan buah yang jatuh ke tanah atau memiliki tanda bekas gigitan hewan. Selalu cuci bersih dan kupas kulit buah sebelum dikonsumsi.
  • Hindari Nira Mentah: Jangan mengonsumsi air nira atau lahang mentah langsung dari pohon. Pastikan nira direbus hingga mendidih sebelum diminum.
  • Hindari Kontak Hewan: Jangan menyentuh kelelawar sakit atau babi yang menunjukkan gejala sakit tanpa alat pelindung diri.
  • Higiene Pribadi: Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah berkunjung ke pasar hewan atau merawat orang sakit.
  • Bagi Tenaga Medis: Terapkan kewaspadaan standar isolasi infeksi saat menangani pasien dengan gejala demam ensefalitis yang tidak diketahui penyebabnya.

Kesimpulan

Virus Nipah adalah ancaman nyata yang membutuhkan kewaspadaan, bukan kepanikan. Dengan memahami cara penularan dan menerapkan pola hidup bersih, risiko infeksi dapat diminimalkan secara signifikan. Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi resmi dari kanal Kementerian Kesehatan dan tidak mudah termakan hoaks yang beredar di media sosial.

(Cah/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya