Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA awal tahun 2026, perhatian dunia kesehatan global kembali tertuju pada ancaman penyakit zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia). Munculnya klaster baru Virus Nipah (NiV) di Benggala Barat, India, pada Januari 2026 telah memicu alarm kewaspadaan di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah lama menempatkan Nipah dalam daftar prioritas penyakit yang berpotensi menyebabkan pandemi karena tingkat kematiannya yang tinggi dan belum adanya vaksin yang disetujui secara komersial.
Virus Nipah adalah virus RNA yang termasuk dalam genus Henipavirus dari famili Paramyxoviridae. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1999 saat terjadi wabah besar di kalangan peternak babi di Sungai Nipah, Malaysia. Inang alami (reservoir) dari virus ini adalah kelelawar buah dari genus Pteropus, atau yang di Indonesia dikenal sebagai kalong.
Pemahaman mengenai rantai penularan adalah kunci pertahanan utama. Berdasarkan studi epidemiologi hingga 2026, virus ini menular melalui tiga jalur utama:
Infeksi Virus Nipah memiliki spektrum gejala yang luas, mulai dari asimtomatik (tanpa gejala) hingga infeksi saluran pernapasan akut dan ensefalitis (radang otak) fatal. Berikut adalah fase gejala yang perlu diwaspadai:
| Fase | Gejala Klinis |
|---|---|
| Fase Awal (Prodromal) | Demam, sakit kepala, nyeri otot (mialgia), muntah, dan sakit tenggorokan. Gejala ini sering disalahartikan sebagai flu biasa. |
| Fase Lanjutan | Pusing, mudah mengantuk, penurunan kesadaran, dan tanda-tanda neurologis yang mengarah pada ensefalitis akut. |
| Fase Kritis | Kejang-kejang dan koma yang dapat terjadi dalam waktu 24-48 jam. Sebagian pasien juga mengalami gangguan pernapasan berat (pneumonia atipikal). |
| Efek Jangka Panjang | Bagi penyintas, sekitar 20% mengalami gejala sisa neurologis seperti kejang persisten atau perubahan kepribadian. |
Menyikapi wabah di India yang melibatkan 5 kasus konfirmasi dan karantina ratusan kontak erat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah mengambil langkah responsif.
Hingga 27 Januari 2026, Kemenkes menegaskan bahwa belum ditemukan kasus konfirmasi positif Virus Nipah di Indonesia. Namun, sistem kewaspadaan dini telah diaktifkan:
Mengingat belum tersedianya obat spesifik, pencegahan adalah satu-satunya cara efektif untuk melindungi diri dan keluarga.
Virus Nipah adalah ancaman nyata yang membutuhkan kewaspadaan, bukan kepanikan. Dengan memahami cara penularan dan menerapkan pola hidup bersih, risiko infeksi dapat diminimalkan secara signifikan. Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi resmi dari kanal Kementerian Kesehatan dan tidak mudah termakan hoaks yang beredar di media sosial.
(Cah/P-3)
Kasus kematian akibat nipah ini menjadi alarm keras bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mengenai risiko penularan virus zoonosis tersebut.
PENELITI BRIN NiLuh Putu Indi Dharmayanti, mengatakan penyakit zoonosis virus nipah (NiV) bisa saja terjadi di Indonesia karena ada banyak faktor pendorongnya.
Peneliti temukan Pteropine orthoreovirus (PRV) pada pasien di Bangladesh. Menyerupai gejala virus Nipah, virus ini menular melalui air nira mentah.
Virus Nipah secara alami berasal dari kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus atau dikenal sebagai flying fox.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai perbedaan Virus Nipah dan COVID-19 berdasarkan data medis dan epidemiologi terkini.
Pelajari cara pencegahan Virus Nipah, gejala awal, hingga risiko penularannya. Panduan lengkap menjaga kesehatan dari ancaman zoonosis di tahun 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved