Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Organisasi Riset Kesehatan sekaligus Peneliti Ahli Utama Virologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), NiLuh Putu Indi Dharmayanti, mengatakan penyakit zoonosis virus nipah (NiV) terjadi di Indonesia karena ada banyak faktor pendorong, sehingga virus tersebut bisa tersebar.
"Tentunya kita tahu bahwa Indonesia mempunyai banyak sekali keanekaragaman kelelawar sebagai inang alami virus nipah, dan ini mempunyai potensi membawa virus nipah," kata Indi dalam diskusi Denpasar 12 secara daring, Rabu (4/2).
Indi menegaskan faktor terbesar penularan NiV yakni dari kelelawar ke manusia, karena kedekatan habitat kelelawar dengan pemukiman manusia, kemudian adanya perburuan, perdagangan, hingga pasar hewan yang masih menjual kelelawar dengan sanitasi yang tidak higienis.
Selain itu, faktor lainnya yakni masih ada wilayah-wilayah mempunyai populasi babi yang besar yang dapat menjadi inang perantara virus nipah.
"Kemudian tentunya langkah mitigasinya adalah surveillance untuk penemuan kasus sedini mungkin untuk mendeteksi keberadaan virus nipah. Kemudian bagaimana kita menilai risikonya dan kesiapsiagaan menghadapi wabah," ungkapnya.
Indi juga mengungkapkan virus nipah pernah ditemukan di Indonesia pada tahun 2009. Seorang peneliti BRIN, Indrawati Sendow, menemukan virus itu sebanyak 19% serum positif antibodi terhadap virus nipah di kalong besar.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan melalui deteksi PCR dengan secara genetik sudah di konfirmasi genom virus nipah pertama di Indonesia tepatnya di Sumatra Utara. Virus serupa juga ditemukan pada kalong kecil yang dijual di pasar hewan di sekitar Jawa Tengah.
"Berdasarkan phylogenetic tree genetik virus nipah di Indonesia, mempunyai kedekatan dengan virus dari Tailan, Malaysia, dan Kamboja. Jadi sepertinya masih di virus Nipah M," pungkasnya. (H-3)
Balai Karantina Kesehatan Kelas II Pangkalpinang (BKK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengingatkan potensi masuknya virus Nipah ke Indonesia seiring fenomena migrasi satwa liar.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
KANTOR Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Batam menyatakan bahwa penanganan dan upaya antisipasi terhadap potensi masuknya virus Nipah dilakukan seperti saat pandemi Covid-19.
Untuk mencegah terjadinya penularan di Tanah Air, pemerintah melakukan berbagai upaya seperti memantau perkembangan situasi kejadian penyakit virus Nipah di India dan negara-negara lain,
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengimbau kepada masyarakat agar mencegah terjadinya penularan virus Nipah. Salah satunya tidak konsumsi bekas gigitan kelelawar.
KANTOR Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Batam menyatakan bahwa penanganan dan upaya antisipasi terhadap potensi masuknya virus Nipah dilakukan seperti saat pandemi Covid-19.
MESKI hingga sore ini (27/1) Kemenkes memastikan nol kasus konfirmasi pada manusia, potensi penyebaran Virus Nipah di Indonesia dinilai "sangat nyata" dan tidak boleh diremehkan.
Untuk mencegah terjadinya penularan di Tanah Air, pemerintah melakukan berbagai upaya seperti memantau perkembangan situasi kejadian penyakit virus Nipah di India dan negara-negara lain,
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengimbau kepada masyarakat agar mencegah terjadinya penularan virus Nipah. Salah satunya tidak konsumsi bekas gigitan kelelawar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved