Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Kronologi Kematian akibat Nipah di Banglades: Bahaya Getah Kurma Mentah

Putri Rosmalia Octaviyani
08/2/2026 16:04
Kronologi Kematian akibat Nipah di Banglades: Bahaya Getah Kurma Mentah
Peta wilayah Banglades, tempat dilaporkannya kasus kematian akibat nipah pertama di 2026.(Dok. Google Maps)

KEMATIAN akibat nipah pertama di tahun 2026 telah dikonfirmasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan otoritas kesehatan Banglades. Kasus kematian akibat nipah ini menjadi alarm keras bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mengenai risiko penularan virus zoonosis yang memiliki tingkat fatalitas (CFR) hingga 75%.

Kronologi Lengkap Kasus Nipah di Naogaon Banglades

Pasien yang merupakan seorang wanita berusia antara 40-50 tahun di Distrik Naogaon, Rajshahi, dilaporkan tidak memiliki riwayat perjalanan luar negeri. Namun, investigasi epidemiologi mengungkapkan pola konsumsi yang berisiko tinggi sebelum jatuh sakit.

Tanggal Peristiwa/Kondisi Pasien
5-20 Januari 2026 Pasien rutin mengonsumsi nira kurma mentah yang dijual pedagang keliling.
21 Januari 2026 Muncul gejala awal: demam, sakit kepala, dan lemas (anoreksia).
27 Januari 2026 Pasien mengalami kejang (konvulsi) dan tidak sadarkan diri.
28 Januari 2026 Pasien meninggal dunia di rumah sakit rujukan di Rajshahi.
3 Februari 2026 Hasil laboratorium IEDCR mengonfirmasi positif Virus nipah (NiV).

Bahaya Laten Nira Mentah dan Kontaminasi Kelelawar

Virus nipah secara alami hidup di dalam tubuh kelelawar buah dari genus Pteropus. Di Banglades dan sebagian wilayah India, penyadapan nira kurma dilakukan dengan mengiris kulit pohon dan membiarkan cairan menetes ke wadah terbuka sepanjang malam.

Paparan virus nipah terjadi saat kelelawar menjilat nira atau meninggalkan kotoran di wadah penampung. Mengonsumsi nira ini tanpa dimasak (dididihkan) sama saja dengan memasukkan virus langsung ke sistem saraf manusia, yang dapat menyebabkan peradangan otak akut (ensefalitis).

Imbauan untuk Wisatawan dan Masyarakat

Kementerian Kesehatan RI melalui Balai Karantina Kesehatan mengimbau warga negara Indonesia yang berada di wilayah Asia Selatan untuk:

  • Menghindari konsumsi nira kurma atau nira kelapa yang belum diproses secara termal (direbus).
  • Tidak mengonsumsi buah-buahan yang memiliki bekas gigitan hewan atau jatuh ke tanah.
  • Mencuci tangan secara rutin setelah berada di area perkebunan atau habitat kelelawar.

Hingga saat ini, 35 orang yang melakukan kontak erat dengan pasien di Banglades sedang dalam pemantauan ketat. Meski hasil tes awal mereka negatif, masa inkubasi virus yang mencapai 45 hari mengharuskan kewaspadaan ekstra tetap terjaga hingga akhir Maret 2026. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya