Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Manusia Rohani

Masmuni Mahatma, Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung, Kepala Biro AAKK UIN Imam Bonjol Padang
27/2/2026 14:42
Manusia Rohani
Masmuni Mahatma  Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung, Kepala Biro AAKK UIN Imam Bonjol Padang(Dok. Pribadi)

SALAH satu orientasi luhur dan esensial ibadah puasa Ramadan terhadap manusia ialah agar mereka semakin menginternalisasi prinsip, nilai, dan komitmen ketakwaan kepada Allah SWT (QS. al-Baqarah:183). Semangat atau spirit yang tidak main-main. Terlebih ketakwaan, bukan saja merupakan perintah Allah, melainkan sejatinya adalah pakaian kehidupan setiap manusia di alam semesta. Bahkan meminjam filosofi Alquran, pakaian terbaik manusia ialah ketakwaan (QS. al-A’raf:26).

Haus, dahaga, lapar, letih, atau kondisi lain yang dialami manusia dalam menjalankan puasa Ramadan bukan tanpa makna dan hikmah. Pada aspek badaniyah, semua itu bagian dari pembersihan atas kotoran-kotoran yang melekat dan membelenggu jasmani manusia. Tidak berlebihan bila banyak penyakit yang diderita manusia seketika sembuh dengan sendirinya saat menjalani puasa Ramadan. Metabolisme (ke)tubuh(an) manusia kian baik dan cukup menyehatkan. Beberapa gangguan badani perlahan sirna tanpa dikalkulasi gaya medis.

Dalam perspektif rohaniah, hal-hal seperti di atas, bukan semata riyadah untuk menguatkan dan mencerahkan spiritualitas manusia. Akan tetapi hendak mengantarkan manusia ke taraf yang lebih subtantif dan derajat termulia di hadapan Allah SWT. Aktualisasi manusia bukan sekadar ada selaku bagian dari masyarakat, umat, dan hamba. Jauh dibalik itu, melalui puasa Ramadan manusia dituntun dan difasilitasi meng-ada berbasis potensi emosi, akal, hati, dan jiwanya. Suatu proses eksistensial yang mengarah pada kedudukan luhur sebagai khalifah Allah.

Menuju Allah

Puasa Ramadan, medium setiap manusia beriman menuju Allah. Dari dan untuk puasa Ramadan tidak ada yang dapat dibanggakan manusia selain sungguh memapah dirinya untuk total bergerak sekaligus beraktivitas bersama-Nya. Terlebih di bulan ini, seperti kata banyak ahli, perilaku syaithaniyah tidak diberikan tempat menyebar dan bertumbuh. Minimal secara normatif, tampak memang dikerdilkan oleh Allah melalui kondisi haus, dahaga, lapar, letih, lemas, dan sejenis. Sebulan diajak bersua, bertamasya, dan berbagi kebajikan bersama Allah.

Menuju Allah tidak boleh diartikan seumpama berjalan secara fisik pergi ke tempat ibadah, majelis taklim, dan lain-lain belaka. Itu parsialistik-temporalistik. Meminjam semangat kaum tasawuf, berjalan menuju Allah, sedianya memang fokus dan terarah pada keberadaan hati dan jiwa diri itu sendiri. Sehingga mampu menggapai derajat lebih produktif dan prospektif di mata Allah SWT, menyadari akan keberadaan dan kemana arah yang mesti ditempuh secara kualitatif. Atau, dalam bahasa Alquran, ia paham jalan yang menguntungkan dan dinamika yang merugikan (QS. asy-Syams:8).

Apalagi Allah telah menegaskan, siapa saja manusia dan hamba yang berjalan menuju-Nya dengan kesadaran hati dan jiwa, meskipun mereka sudah mendapat petunjuk, tanpa ragu dan meyakinkan Allah SWT pasti menambah dan terus menambah petunjuk sehingga predikat ketakwaan terbaik dianugerahkan (QS. Maryam:76, QS. Muhammad:17). Pelipatgandaan petunjuk ini bukti bahwasanya Allah memang teramat menyayangi, mendambakan, dan merindukan manusia-manusia berkualitas secara imani dan ketakwaan. Manusia loyal sepenuhnya untuk Allah.

Itulah tipologi manusia yang kelak masuk kategori ihdinash shirathal mustaqim. Manusia yang akan diberikan kenikmatan, kebahagiaan, dan diselamatkan dari kesesatan dan kegelisahan. Manusia yang jauh dari paradoks dan ambigu. Manusia yang, meminjam istilah Imam Al-Ghazali, akan mencahayai pemikiran dan sikapnya berbasis cahaya (Nur) Allah. Sebab sirathal mustaqim, kata Imam Ja’far al-Shadiq, adalah jalan menuju kecintaan dan surga Allah SWT. Jalan yang mencegah manusia terjebak cengkeraman hawa nafsu dan terhindar dari tipu daya setan.

Tabi’ah Manusia

Agar indah menuju Allah, terutama di bulan Ramadan, seyogianya bersama-sama mencermati ulang tabi’ah manusia membawa eksistensialitasnya dalam (ke)hidup(an). Ini otokritik-edukatif, bukan sindiran-provokatif. Karl Marx, misalnya, menyebut manusia memiliki watak, karakteristik, atau kecenderungan materialistik-ekonomistik. Dalam konteks ini, manusia, masih kata Marx, selalu membasiskan ide, cita-cita, dan urusan sosial dari dan untuk pencapaian kenikmatan material-komersial. Paradigma kebendaan, kebadanan, keduniawian, seakan ukuran, prestasi, dan prestise terbesar.

Beda dengan Marx, filosof kenamaan dari Iran, Mulla Shadra, seperti diulas Husein Sahab (1998:5-7) menyuguhkan setidaknya ada tiga tabi’ah manusia yang tarikan maupun kualitasnya berbeda. Pertama, tabi’ah maddiyah. Tabi’ah ini sama dengan perspektifnya Karl Marx, materialisme oriented. Standar penilaian hidupnya parsialistik-materialistik. Paradoks, semu, dan mematerialisasi pikiran, jiwa, hati, bahkan aktivitas ibadah yang dilakukan. Tidak ada orientasi luhur, melainkan hidup hanya demi kepentingan materialitas, duniawi, dan sensualistik.

Manusia bertabi’ah ini, lanjut Shadra, adalah manusia hewani. Manusia kapitalistik. Manusia yang konstruksi teologisnya pun cenderung materialitsik. Tuhan dimaterialkan. Bahkan (mungkin) saja materi di-tuhan-kan. Lebih-lebih di era industrialisasi dan kapitalisasi yang kian menanjak ini.

Sementara tabi’ah lebih tinggi sedikit dari maddiyah ini adalah tabi’ah nafsiyah. Meskipun juga serupa hewan kebanyakan. Sebab kecenderungan orientatifnya masih taraf kesenangan, kenyamanan dan kesuksesan psikologis. Tampak pragmatis. Bisa juga hedonis.

Tabi’ah aqliyah, tegas Shadra, merupakan tabi’ah manusia cukup prospektif dalam konstruksi kehambaan-kekhalifahan. Seperti ulasan Husein Sahab, ini tipologi manusia yang adil dan fair. Sosok yang siap menjadi manusia rohani. Manusia yang intensif menjadikan puasa Ramadan laiknya medium mengasah, mempertajam, dan mengoptimalisasi akal sehat serta akal budinya sebagai kompas eksistensial menuju Tuhan. Manusia yang kepekaan dan nalar spiritualnya tercerahkan. Manusia pemola dan pemompa fitrah maupun hakikat insaniyahnya. Sebab manusia rohani, kata Al-Ghazali, terus memadukan akal, nafs, qalb, dan ruh dalam makna yang kualitatif-substantif.

Masmuni Mahatma 
Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung, Kepala Biro AAKK UIN Imam Bonjol Padang

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya