Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Penyakit Akibat Cuaca Dingin di Bangladesh Tewaskan 49 Orang, ISPA Mendominasi

Haufan Hasyim  Salengke
07/1/2026 07:57
Penyakit Akibat Cuaca Dingin di Bangladesh Tewaskan 49 Orang, ISPA Mendominasi
Seiring dengan gelombang dingin yang melanda beberapa bagian Bangladesh, jumlah pasien yang menderita penyakit terkait flu meningkat tajam, terutama di kalangan anak-anak dan lansia.(AFP)

CUACA dingin ekstrem yang melanda Bangladesh sejak November tahun lalu telah memicu lonjakan kasus penyakit berbahaya yang merenggut puluhan nyawa. Hingga awal Januari ini, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan (DGHS) Bangladesh melaporkan sedikitnya 49 orang meninggal dunia akibat komplikasi kesehatan yang dipicu oleh suhu rendah.

Data dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga Bangladesh merinci bahwa sejak 1 November hingga Selasa (6/1) terdapat 43 kematian disebabkan oleh Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sementara itu, enam pasien lainnya meninggal dunia akibat diare akut yang merebak di tengah kondisi cuaca ekstrem tersebut.

Wilayah utara Bangladesh, khususnya Rangpur yang berbatasan langsung dengan pegunungan Himalaya, menjadi daerah terdampak paling parah. Direktur Rumah Sakit Perguruan Tinggi Kedokteran Rangpur, Brigadir Jenderal Ashiqur Rahman, mengonfirmasi bahwa 16 orang meninggal di fasilitasnya sejak bulan lalu, sembilan di antaranya adalah anak-anak.

"Saat ini ratusan pasien masih menjalani perawatan intensif akibat penyakit terkait cuaca dingin. Suhu udara di wilayah ini berfluktuasi ekstrem antara hingga  dalam beberapa hari terakhir," ujar Ashiqur Rahman dalam keterangannya, Selasa (6/1).

Musim dingin di Bangladesh biasanya berlangsung dari Desember hingga Februari. Namun, gelombang dingin tahun ini dinilai lebih parah, menyebabkan fasilitas kesehatan di berbagai wilayah utara kewalahan menangani lonjakan pasien, terutama kelompok rentan seperti balita dan lansia.

Pemerintah setempat kini terus berupaya mendistribusikan bantuan medis dan pakaian hangat guna menekan angka kematian lebih lanjut.

Tragedi di Bangladesh, di mana sembilan anak meninggal dalam satu bulan di satu rumah sakit, menunjukkan betapa fatalnya dampak perubahan iklim dan fluktuasi suhu terhadap ketahanan fisik manusia. (Xinhua/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya