Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Wamendagri Tekankan Peran Kepala Daerah untuk Eliminasi TBC 2030

M Ilham Ramadhan Avisena
11/2/2026 17:25
Wamendagri Tekankan Peran Kepala Daerah untuk Eliminasi TBC 2030
ilustrasi.(MI)

WAKIL Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus menekankan pentingnya kepemimpinan langsung kepala daerah dalam mempercepat eliminasi tuberkulosis (TBC). Target pemerintah untuk menghapus TBC pada 2030 dinilai hanya dapat tercapai jika daerah bergerak aktif dan terkoordinasi, sejalan dengan program quick win Presiden Prabowo Subianto.

Dia mengungkapkan, merujuk Global Tuberculosis Report 2024, Indonesia menempati posisi kedua dengan kasus TBC tertinggi di dunia, sementara angka penemuan kasus baru mencapai 62%.

Menurutnya, situasi ini tidak bisa ditangani secara parsial. "Karena penanggulangan TBC tidak dapat dilakukan secara sektoral, yaitu sektor kesehatan saja atau di daerah, di dinas kesehatan saja," ujar Wiyagus dikutip pada Rabu (11/2).

Ia menekankan, pemerintah daerah memegang peran strategis sebagaimana diamanatkan dalam Perpres Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Daerah diminta memasukkan indikator TBC dalam dokumen RPJMD dan Renstra perangkat daerah, sekaligus mengoordinasikan pelaksanaan program penanggulangan di wilayah masing-masing.

Lebih jauh, Wiyagus meminta agar Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) diperkuat agar aktif dan fungsional, serta dievaluasi secara berkala. Bahkan, capaian penanganan TBC didorong menjadi indikator kinerja kepala daerah, bukan semata tanggung jawab dinas kesehatan.

Peran camat juga disorot sebagai koordinator wilayah yang menggerakkan desa, kelurahan, kader TP PKK, Posyandu, hingga RT/RW untuk memperkuat deteksi dini di masyarakat.

"Camat, dan lurah, kades perlu memiliki KPI (Key Performance Indicator) TBC. Prinsip dasar dalam menetapkan KPI bahwa bukan KPI medis, tapi KPI tata kelola dan mobilisasi. Kalau masih banyak kasus belum ditemukan, berarti fungsi koordinasi wilayah belum optimal. KPI ini tujuannya mendorong aksi cepat, kemudian kolaboratif, dan empatik," tutur Wiyagus.

Sebagai langkah konkret, Wiyagus berharap daerah mengintensifkan gerakan Temukan, Obati, Sampai Sembuh (TOSS) TB. Melalui kepemimpinan yang kuat dan kolaborasi lintas sektor, percepatan eliminasi TBC diharapkan berjalan lebih terukur dan berkelanjutan hingga target 2030 tercapai. (Mir/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya