Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Pendidikan sebagai Investasi?

Victor Yasadhana Direktur Kerja Sama antarlembaga Yayasan Sukma
09/3/2026 05:15
Pendidikan sebagai Investasi?
(Dok. Pribadi)

PENDIDIKAN bisa jadi merupakan salah satu konsep dan aktivitas yang paling kompleks serta multidimensional dalam sejarah manusia. Ia dapat dimaknai sebagai sekadar proses mendapatkan pekerjaan atau posisi dalam sebuah organisasi, memperbaiki status sosial, sosialisasi nilai dan budaya, meningkatkan kualitas manusia, memelihara kemajuan, transformasi pengetahuan dan budaya, atau sebuah laku pembebasan. Tidak ada satu sudut pandang tunggal yang dapat menggambarkan apa itu pendidikan. Beragam perspektif yang ada lebih merupakan upaya untuk menjelaskan dan memperkaya bagaimana pendidikan dipahami secara lebih utuh.

 

INVESTASI VS KONSUMSI

Dalam diskursus kontemporer, pendidikan lebih sering dimaknai sebagai laku investasi—proses transaksi individu dan masyarakat melalui alokasi sumber daya untuk meningkatkan kualitas manusia di masa depan yang dipercaya akan menjadi sumber keuntungan finansial. Orang melakukan aktivitas pendidikan (bersekolah/belajar) dengan tujuan perbaikan kesejahteraan di masa depan. Perspektif pendidikan sebagai investasi dikaitkan dengan Teori Modal Manusia (Drucker: 1964). Cara pandang instrumental ini mendominasi pembuatan keputusan, prioritas alokasi dana, dan bahkan pemahaman akan tujuan proses belajar.

Terkait dengan produktivitas yang dihasilkan, pendidikan sebagai laku investasi juga dikaitkan dengan istilah knowledge economy, di mana pengetahuan dan informasi dipercaya menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, melalui peningkatan produktivitas, penciptaan kemakmuran dan kompetisi demi kemajuan.

Pemaknaan pendidikan sebagai investasi sering dibandingkan atau dihadapkan pada cara pandang pendidikan sebagai laku konsumsi—aktivitas untuk mendapatkan kegunaan langsung dan kepuasan personal. Masih dalam konteks modal manusia, pendidikan dalam cara pandang ini berkaitan dengan nilai intrinsik pendidikan itu sendiri. Dengan begitu, orang memutuskan aktivitas pendidikan bukan bertujuan keuntungan finansial di masa depan, tetapi untuk tujuan lain, seperti kenikmatan dalam penemuan-penemuan baru, kepuasan dalam menguasai keterampilan-keterampilan baru, dan pengalaman interaksi sosial dalam institusi pendidikan. Proses ini berujung pada tersedianya beragam pilihan dalam hidup dan kebebasan yang dipercaya akan meningkatkan kesejahteraan (Schultz: 1961).

Kedua cara pandang di atas tidak serta-merta merupakan dikotomis. Karena, dalam kenyataannya, mereka yang percaya bahwa pendidikan sebagai laku konsumsi —dimaknai sebagai kebebasan dan kepuasaan langsung dalam penguasaan ilmu dan keterampilan baru— dapat menjadi muasal peningkatan produktivitas seseorang di masa depan sehingga dapat dianggap sebagai investasi yang menguntungkan. Sebaliknya, investasi bagi jaminan tersedianya lapangan kerja dan karier yang baik memungkinkan seseorang bebas mencari pengetahuan dan keterampilan yang mereka inginkan bagi lapangan kerja dan karier yang diimpikannya.

 

CARA PANDANG ALTERNATIF

Salah satu catatan atas cara pandang pendidikan sebagai investasi—yang merupakan reduksi pendidikan sebagai alat ekonomi semata—adalah bentuk pengerdilan atas makna sejati dan apa yang dapat dicapai dengan pendidikan. Pendidikan perlu dipandang lebih dari sekadar investasi demi masa depan. Ia perlu ditimbang sebagai proses transformasi sosial dan serangkaian upaya pengembangan kapasitas dan kualitas manusia untuk kehidupan yang lebih bermakna.

Oleh karena itu, cara pandang pendidikan sebagai investasi perlu diimbangi dengan aspek pemahaman kemanusiaan dalam pendidikan. Saat pendidikan dipandang sebagai bentuk investasi semata—kemampuan untuk meningkatkan produktivitas, memperbesar keunggulan kompetitif, dan keuntungan finansial di masa depan—ia berpeluang gagal menghargai maknanya sebagai sarana dan pengalaman untuk bertumbuh, keterlibatan intelektual, energi pembebasan dari ketertindasan, dan kemajuan sosial (Saltman: 2007).

Meminjam istilah Dewey (1893), menimbang pendidikan adalah kehidupan itu sendiri, peluang untuk mengenali proses belajar—penumbuhan rasa ingin tahu, berpikir kritis, dan berbagai pengalaman penguasaan ilmu serta keterampilan baru—yang merupakan nilai intrinsik yang tidak bergantung pada nilai pasar dan keuntungan finansial semata. Jadi, mereka yang tertarik mempelajari seni, bahasa, filsafat, atau sejarah tidak bisa dianggap kehilangan peluang dan keuntungan mereka di masa depan, karena pengayaan intelektual dan emosional yang mereka dapatkan saat belajar juga bernilai.

Selain itu, cara pandang pendidikan sebagai investasi yang mensyaratkan produktivitas ekonomi, cenderung akan mengaburkan peran penting pendidikan untuk menciptakan kewarganegaraan yang demokratis (democratic citizenship) dan kohesi sosial. Saat seseorang mendapatkan pendidikan yang baik, ia berpeluang mengembangkan sikap berpikir kritis, memiliki pemahaman atas berbagai cara pandang yang berbeda, dan berani terlibat dalam relasi sosial dan ide yang kompleks—berbagai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan demokratis.

Aspek dan fungsi demokratis dari pendidikan merupakan kontribusi paling vital terhadap masyarakat yang tidak bisa diukur dengan parameter ekonomi finansial seperti penghasilan individu. Karena, demokrasi tidak dapat berfungsi tanpa warga terdidik yang memiliki kesadaran penuh untuk terlibat dalam berbagai isu publik (Gough: 2007).

Perspektif lain yang perlu ditimbang ialah pendidikan sebagai laku pembebasan (Paolo Freire: 1970; Bell Hooks: 1994). Cara pandang pendidikan sebagai laku pembebasan tetap relevan di masa kini, terutama saat pendidikan semakin terkomodifikasi sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Sebagai laku pembebasan, pendidikan dilihat sebagai bersifat politis (tidak pernah netral tapi mendukung status quo atau melawannya), proses memanusiakan manusia, dan bersifat transformatif (memiliki kekuatan untuk memutus rantai setan kemiskinan dan penindasan). Karena, melihat pendidikan hanya sebagai investasi juga berpeluang bagi hilangnya keadilan dan kesetaraan dalam pendidikan. Mereka yang tidak memiliki sumber daya untuk melakukan investasi pendidikan—kelompok kurang mampu dan terpinggirkan—dapat tersingkir dari peluang berpartisipasi secara penuh dalam masyarakat. Pendidikan hanya menjadi komoditas yang bisa dijangkau mereka yang memiliki sumber daya, bukan sebagai hak dasar setiap orang dan tanggung jawab bersama.

Pendidikan jelas memiliki nilai ekonomi, juga keuntungan yang didapat dari pendidikan adalah hal yang signifikan dan nyata. Namun, ia tidak bisa dilihat sebagai investasi semata, tetapi perlu dihargai sebagai upaya terus-menerus yang serius dan mendalam untuk mengembangkan kapasitas manusia, meneruskan kebajikan dalam masyarakat, dan mewujudkan demokrasi. Dampak pendidikan tidak dapat diukur dengan besaran keuntungan finansial, tetapi lebih dengan pemahaman akan kemanusiaan, pelembagaan demokrasi, dan jaminan keadilan bagi semua orang—yang merupakan perwujudan komitmen dan penghargaan atas kemanusiaan serta keadilan sosial.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya