Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Waspada Virus PRV: Ancaman Baru dari Kelelawar yang Menyerupai Nipah

Thalatie K Yani
03/2/2026 13:14
Waspada Virus PRV: Ancaman Baru dari Kelelawar yang Menyerupai Nipah
Ilustrasi(Unsplash)

PARA dokter di Bangladesh baru-baru ini menghadapi situasi medis yang membingungkan. Sejumlah pasien datang dengan gejala yang sangat mirip dengan virus Nipah. Penyakit mematikan yang dibawa oleh kelelawar. Namun, hasil tes laboratorium memberikan kejutan, bukan Nipah yang menyerang mereka, melainkan virus lain yang selama ini tersembunyi.

Melalui analisis genetik tingkat lanjut, peneliti berhasil mengidentifikasi Pteropine orthoreovirus (PRV) dalam sampel usap tenggorokan lima pasien. Temuan ini menambah daftar panjang ancaman kesehatan masyarakat dari penyakit yang melompat dari hewan ke manusia (zoonosis).

Jalur Penularan Melalui Air Nira

Kelima pasien tersebut diketahui mengonsumsi air nira kurma mentah sesaat sebelum jatuh sakit. Di Bangladesh, nira kurma merupakan konsumsi budaya yang populer saat musim dingin. Sayangnya, pot penampung nira di pohon sering dikunjungi kelelawar buah yang meninggalkan air liur atau kotoran, menciptakan jalur langsung bagi virus untuk masuk ke rantai makanan manusia.

Dr. Nischay Mishra, profesor epidemiologi dari Columbia University, memperingatkan bahwa risiko kesehatan dari nira mentah ternyata lebih luas dari yang diperkirakan.

"Temuan kami menunjukkan bahwa risiko penyakit yang terkait dengan konsumsi nira kurma mentah meluas melampaui virus Nipah. Hal ini juga menegaskan pentingnya program pengawasan spektrum luas untuk mengidentifikasi dan memitigasi risiko kesehatan masyarakat dari virus baru yang dibawa kelelawar."

Gejala Berat dan Kerusakan Saraf

Meskipun infeksi PRV di negara lain seperti Malaysia dan Indonesia biasanya hanya menyebabkan masalah pernapasan ringan, kasus di Bangladesh menunjukkan dampak yang jauh lebih fatal. Empat pasien didiagnosis menderita ensefalitis atau peradangan otak, sementara seorang anak mengalami kejang akibat demam.

Gejala yang dilaporkan meliputi kebingungan, kesulitan bernapas, pola jalan tidak normal, hingga penurunan kesadaran. Dalam pemantauan jangka panjang, beberapa pasien mengalami kelemahan yang menetap, dan satu orang dilaporkan meninggal dunia setelah kondisi sarafnya memburuk.

Direktur Institute of Epidemiology, Disease Control, and Research (IEDCR) Bangladesh, Dr. Tahmina Shirin, memberikan penekanan khusus pada temuan ini:

"Adanya tambahan baru pelimpahan zoonosis yang menyebabkan komplikasi pernapasan dan neurologis setelah konsumsi nira kurma mentah, muncul berdampingan dengan infeksi virus Nipah."

Pentingnya Pengawasan Menyeluruh

Penemuan virus PRV ini dimungkinkan berkat teknologi viral capture sequencing dari Columbia University, yang mampu memindai ribuan jenis virus sekaligus. Analisis genetik menunjukkan kemiripan yang kuat antara virus pada pasien dan galur yang ditemukan pada kelelawar buah di sepanjang Cekungan Sungai Padma.

Penelitian ini menjadi pengingat penting bahwa gejala medis yang terlihat familier bisa jadi menyembunyikan ancaman baru yang belum terpetakan. Program pengawasan kesehatan yang hanya berfokus pada satu jenis virus berisiko melewatkan ancaman lain yang sama berbahayanya. Kesadaran masyarakat akan keamanan pangan, khususnya menghindari konsumsi nira mentah, menjadi kunci utama untuk mencegah wabah di masa depan. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya