Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Mudik, Membaca, dan Hari Kemenangan

Thoriq Tri Prabowo Dosen Prodi Ilmu Perpustakaan FADIB UIN Sunan Kalijaga, alumnus doktoral dari King Mongkut’s Institute of Technology Ladkrabang, Tailan
27/3/2026 05:05

LEBIH dari sekadar perjalanan pulang, mudik merupakan ritual sosial, ruang membayar lunas rindu, sekaligus momentum reflektif setelah setahun penuh berjibaku dengan rutinitas. Padatnya lalu lintas serta terminal, stasiun, dan bandara yang riuh menyisakan sejumput harapan untuk dicapai, yakni kembali ke asal, memperbaiki diri, dan merayakan kemenangan. Di tengah hiruk-pikuk perjalanan mudik itu, pertanyaan evaluatif sangat layak untuk ditanyakan. Apa yang sebenarnya kita bawa pulang selain oleh-oleh dan cerita perjalanan?

Agenda khas tahunan ini dapat digunakan sebagai refleksi atas apa yang telah dan belum dicapai selama satu tahun terakhir. Bukan untuk membandingkan diri dengan orang lain, melainkan untuk mengukur apakah diri ini sudah lebih baik daripada tahun sebelumnya atau belum. Mudik dan hari kemenangan akan menjadi lebih terasa penuh dan bermakna apabila diiringi dengan kemauan untuk terus berbenah dan meraih potensi terbaik dari diri sendiri.

Sebagai salah satu pilar penting dalam akuisisi pengetahuan, kegiatan membaca perlu dipromosikan pada segenap masyarakat dalam pelbagai kesempatan. Hal itu tidak lain bertujuan untuk membentuk pembelajar yang mandiri dan andal. Pasalnya, hampir segala hal yang dibutuhkan manusia telah dituangkan dalam dokumen tertulis. Singkatnya, kemampuan literasi ialah fondasi untuk membangun kualitas personal dan bangsa.

Belajar untuk mengembangkan diri ialah sebuah perjalanan panjang dan berliku, sama halnya dengan mudik. Menyemarakkan kegiatan mudik dengan membaca berarti menghayati secara penuh makna perjalanan, dari perjalanan fisik sampai perjalanan pengetahuan, dan dari perjalanan personal menuju perjalanan untuk membangun peradaban.

 

JALAN BERLIKU LITERASI INDONESIA

Membaca kerap dipandang sebagai indikator kemajuan suatu bangsa karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia dan inovasi. Data Ceoworld Magazine (2024) menunjukkan negara seperti Amerika Serikat dan India menempati posisi teratas dengan rata-rata membaca 16-17 buku per tahun, sementara Tiongkok mengalami peningkatan signifikan minat baca anak dalam satu dekade terakhir, dan Singapura memimpin di kawasan ASEAN.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan Indonesia yang masih menghadapi tantangan literasi. Hasil PISA 2018 menempatkan Indonesia di kelompok 10 terbawah dari 77 negara, diperkuat temuan UNESCO yang menyebut tingkat kebiasaan membaca masih sangat rendah.

Meskipun demikian, terdapat perkembangan positif: pada PISA 2022, Indonesia menunjukkan peningkatan peringkat sebesar 5-6 posisi, termasuk kenaikan dalam literasi, matematika, dan sains. Kenaikan peringkat tersebut terjadi seiring dengan penurunan skor pada hampir seluruh siswa di belahan dunia akibat pandemi covid-19. Artinya, pekerjaan rumah untuk meningkatkan kualitas literasi siswa, dengan atau tanpa ujian PISA, harus menjadi perhatian yang serius.

Jika ditelaah secara sederhana, setidaknya ada beberapa persoalan mendasar yang masih menghambat kemajuan literasi di Indonesia. Pertama, ketersediaan bahan bacaan yang tidak selalu selaras dengan kebutuhan dan minat anak, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.

Kedua, distribusi buku bermutu yang belum menjangkau seluruh wilayah secara merata sehingga akses membaca masih menjadi privilese bagi kelompok tertentu.

Ketiga, keterbatasan SDM profesional yang secara khusus berfokus pada pengembangan ekosistem literasi, mulai pendampingan membaca hingga penguatan budaya literasi di masyarakat.

Berbagai program peningkatan minat baca sebenarnya telah lama digalakkan. Namun, perhatian terhadap aspek yang lebih mendasar, yakni kegembiraan membaca, belum sepenuhnya menjadi prioritas. Padahal, dorongan personal itulah yang sering kali menjadi kunci lahirnya kebiasaan membaca yang berkelanjutan. Ketika membaca menghadirkan rasa gembira, aktivitas tersebut tidak lagi terasa sebagai tugas yang berat, tetapi kebutuhan personal yang dilakukan secara sukarela.

Fenomena itu mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Anak atau remaja yang menyukai komik, misalnya, mampu mengingat tokoh, alur cerita, bahkan detail peristiwa dengan sangat baik tanpa perlu dipaksa belajar keras. Sebaliknya, bacaan yang tidak sesuai dengan minat sering kali sulit dipahami, bahkan cepat dilupakan meski baru saja dibaca.

Fenomena sederhana itu menunjukkan membangun budaya literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan buku, tetapi juga dengan menghadirkan pengalaman membaca yang menyenangkan dan bermakna bagi pembacanya.

Segala pihak terkait, utamanya pemerintah, perlu bahu-membahu untuk mengatasi problem di atas. Pemilihan dan penjenjangan bahan bacaan bermutu yang difokuskan pada minat dan kemampuan membaca anak mutlak dilakukan. Lalu, pencetakan dan pendistribusian buku yang merata di seluruh wilayah Indonesia dengan fokus daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) harus diprioritaskan.

Hal tersebut perlu dibarengi dengan pelatihan serta pendampingan kepada segenap pihak yang berkecimpung pada kegiatan literasi seperti guru, pustakawan, dan pegiat literasi, untuk meningkatkan profesionalitas mereka dalam mengelola bacaan dan mengorganisasi kegiatan literasi yang lebih menyenangkan.

 

MUDIK ASYIK BACA BUKU 2026

Tahun ini, sebuah pemandangan menarik hadir di sejumlah titik arus mudik. Melalui program Mudik Asyik Baca Buku 2026, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membagikan puluhan ribu buku bacaan bermutu kepada para pemudik di pelbagai fasilitas umum seperti stasiun, terminal, pelabuhan, dan bandara.

Sebanyak 24 ribu buku disalurkan kepada pemudik, khususnya anak-anak, di pelbagai kota keberangkatan, meningkat dari tahun sebelumnya. Buku-buku itu bukan sekadar cendera mata perjalanan, melainkan pesan simbolis: yakni perjalanan fisik dapat dihayati sekaligus menjadi perjalanan intelektual.

Program itu secara resmi dibuka Mendikdasmen Abdul Mu’ti di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, pada Senin (16/3), serta turut dihadiri Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian, perwakilan Kementerian Perhubungan, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin, para Kepala Balai Bahasa, serta jajaran PT KAI.

Buku-buku yang dibagikan tersebut disalurkan di sembilan titik yang tersebar di wilayah DKI Jakarta dan Banten, seperti stasiun, terminal, bandara, dan pelabuhan agar anak-anak dapat membaca di sela perjalanan dan membawa buku tersebut pulang untuk dibaca bersama dengan keluarga. Dalam konteks itu, buku dapat menjadi instrumen untuk memperluas variasi dalam mengisi kebersamaan.

Mendikdasmen menegaskan program itu merupakan upaya pemerintah untuk memupuk budaya cinta membaca di kalangan anak-anak. Ia berharap buku dapat menjadi teman yang menyenangkan selama perjalanan, sekaligus mendorong mereka lebih dekat dengan bacaan daripada gawai pintar yang berpotensi menjadi candu bagi anak-anak.

Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian juga mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak, mulai Perpustakaan Nasional, Ikatan Penerbit Indonesia, hingga para penerbit buku. Menurutnya, program itu merupakan upaya kreatif untuk mendekatkan anak-anak pada bahan bacaan dan menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini sebagai investasi jangka panjang bagi literasi Indonesia.

 

HARI KEMENANGAN: MOMENTUM TINGKATKAN MINAT BACA

Di tengah dominasi gawai pintar yang adiktif, membaca menghadirkan ritme pemerolehan pengetahuan yang unik, yakni lebih tenang, reflektif, dan mendalam. Anak-anak yang biasanya larut dalam layar kini diajak menjadikan buku sebagai teman perjalanan. Upaya itu patut diapresiasi sebagai strategi literasi yang kontekstual karena membaca tidak lagi ditempatkan sebagai aktivitas formal yang kaku di ruang kelas semata, tetapi menjadi bagian alami dari pengalaman hidup, termasuk di tengah perjalanan mudik.

Adakalanya mudik menjadi terasa kurang khidmat karena pelbagai kendala yang kerap timbul seperti kebosanan dan kemacetan. Menghadirkan buku dalam kegiatan mudik akan menambah dimensi kebersamaan yang unik dan menarik untuk dikenang. Semisal, orangtua membacakan cerita untuk anak, cerita tersebut kemudian dibagikan ulang oleh anak di kampung halaman, dan percakapan lahir dari bacaan sederhana.

Pada titik itu, membaca telah melampaui fungsi intelektual karena telah menjadi jembatan antargenerasi. Implikasi jangka panjangnya, setiap langkah menuju kampung halaman berpotensi mendekatkan seseorang untuk meraih potensi terbaiknya. Mengisi mudik dengan membaca akan memperdalam makna hari kemenangan dalam Idulfitri, yakni kemenangan spiritual dan kemenangan dalam hal kemajuan kualitas manusia.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, bangsa yang membaca ialah bangsa yang belajar dari sejarah untuk membangun peradaban masa depan yang lebih baik. Membaca selama dan setelah mudik juga merupakan simbol kemenangan terhadap ketertinggalan literasi Indonesia. Boleh jadi, literasi yang dimulai dari satu atau dua lembar di terminal dapat berdampak signifikan bahkan jauh setelah kegiatan mudik usai.

Program inovatif besutan Kemendikdasmen itu mengisyaratkan kebijakan pendidikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk reformasi struktural yang rigid. Kadang, perubahan yang bermakna dapat dimulai dari hal sederhana, tetapi relevan, seperti mendekatkan buku kepada anak saat peristiwa mudik, momen seseorang sangat terbuka terhadap pengalaman baru. Pendekatan itu memperlihatkan literasi dapat disemai melalui aktivitas sosial yang dekat dengan budaya masyarakat Indonesia.

Bukan hanya perjalanan pulang ke rumah, mudik juga merupakan kesempatan pulang kepada pengetahuan. Jika perjalanan dari kota ke desa membawa kita kembali ke akar keluarga, membaca membantu kita kembali kepada akar peradaban. Di situlah kemenangan menemukan maknanya yang lebih utuh, yakni bermakna merayakan kemenangan Hari Raya Idul Fitri pascapuasa dan kemenangan karena telah memulai langkah baru menuju masyarakat pembelajar yang lebih reflektif dan berdaya melalui literasi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya