Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Kiat Eka Kurniawan untuk Penulis Pemula: Membaca, Berlari, dan Pentingnya Akses Literasi

Basuki Eka Purnama
06/2/2026 10:17
Kiat Eka Kurniawan untuk Penulis Pemula: Membaca, Berlari, dan Pentingnya Akses Literasi
Penulis Eka Kurniawan di Jakarta, Kamis (5/2/2026).(ANTARA/Sinta Ambar)

PENULIS kenamaan asal Jawa Barat, Eka Kurniawan, membagikan sejumlah kiat bagi para penulis pemula yang ingin memperdalam dan memperkaya kualitas tulisan mereka. 

Menurut penulis novel Cantik itu Luka itu, kunci utama untuk meningkatkan kemampuan menulis terletak pada kombinasi antara asupan literasi yang beragam dan latihan fisik yang konsisten.

Eka menekankan bahwa membaca bukan sekadar hobi, melainkan kewajiban bagi siapa pun yang ingin serius di dunia kepenulisan. 

Dengan membaca karya orang lain, seorang penulis dapat memelajari teknik-teknik fundamental dalam bercerita.

"Cara terbaik untuk belajar jadi penulis ya kita membaca, artinya melihat apa sih yang ditulis orang lain, bagaimana mereka menulis kalimat, mereka menggambarkan sesuatu, pengalaman saya pribadi juga seperti itu," ujar Eka, Kamis (5/2).

Filosofi "Lari" dalam Menulis

Selain membaca, Eka menggarisbawahi pentingnya latihan aktif. Ia mengibaratkan proses mengasah kemampuan menulis seperti seorang atlet yang berlatih lari. 

Baginya, pengetahuan tentang menulis tidak akan berguna tanpa adanya praktik langsung yang konsisten.

"Tapi, yang paling baik melihat sendiri barangnya. Seperti kamu belajar, kamu pingin jago lari, kamu larilah, atau berlari bersama orang yang memang pelari. Artinya itu kan mencoba transfer pengetahuan tetapi secara aktif kita," jelas penulis yang juga melahirkan karya Lelaki Harimau tersebut.

Sinyal Positif dan Tantangan Literasi

Eka melihat adanya tren positif dalam ekosistem literasi saat ini, terutama dengan meningkatnya minat baca di kalangan anak muda serta kemudahan akses ke penerbitan. 

Munculnya toko buku independen di berbagai daerah dan hidupnya komunitas-komunitas seperti klub baca menjadi angin segar bagi para penulis untuk terus berkarya.

"Setidaknya pengalaman kami sendiri dengan beberapa penerbit, toko buku independen lahir di banyak tempat, artinya tetap tumbuh, tetap orang membaca buku fisik, bahkan ada kegiatan-kegiatan komunitas seperti klub baca," katanya.

Namun, di balik optimisme tersebut, Eka tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa akses terhadap buku di Indonesia masih belum merata. Kesenjangan ini terutama dirasakan di daerah-daerah tertentu yang masih minim fasilitas perpustakaan dan sarana membaca.

Sebagai solusi, ia mendorong pemerintah untuk lebih proaktif dalam menyediakan fasilitas literasi hingga ke tingkat akar rumput. 

"Termasuk pemerintah bagaimana misalkan sampai ke desa-desa harusnya ada perpustakaan, toko buku, dan komunitas-komunitas baca," pungkas Eka.

Nama Eka Kurniawan sendiri telah dikenal luas melalui deretan karya ikonik seperti novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, O, hingga kumpulan cerita pendek Corat Coret di Toilet. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya