Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
FILM horor-romance Tolong Saya! (Dowajuseyo) tidak hanya menawarkan kisah fiksi penuh ketegangan, tetapi juga berangkat dari pengalaman nyata yang dialami langsung oleh penulisnya, Beby Salsabila.
Beby mengungkap cerita dalam film ini lahir dari kejadian mistis yang ia alami saat menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Indonesia di Korea Selatan (Korsel).
Beby menuturkan, sosok Tania dalam film merupakan representasi dirinya. Sementara karakter arwah penasaran Min Yong serta dokter Park Min-jae juga terinspirasi dari figur-figur yang ia yakini benar-benar hadir dalam pengalaman hidupnya.
“Tania itu aku. Min Yong itu sosok yang aku alami langsung, begitu juga dengan dokter Park,” ujar Beby di XXI Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/1).
Kisah bermula saat Beby menjalani dua jenjang pendidikan sekaligus kuliah S1 di Indonesia dan diploma di Korsel. Rutinitas belajar hingga dini hari membawanya ke sebuah study cafe yang belakangan ia ketahui berada di kawasan yang memiliki sejarah kelam.
Pada suatu malam menjelang pagi, Beby mengaku melihat sosok perempuan hamil yang mondar-mandir di dalam kafe. Anehnya, tak seorang pun pengunjung lain menyadari kehadiran sosok tersebut.
Situasi semakin mencekam ketika menjelang pukul lima pagi, sosok itu berjalan keluar saat hujan rintik turun.
Dalam kondisi panik, Beby berlari keluar cafe hingga terjatuh dan mengaku sempat jatuh tepat di atas tubuh seorang jenazah di lokasi yang berdekatan dengan rumah sakit dan area krematorium. Pengalaman traumatis tersebut menjadi titik awal gangguan-gangguan mistis yang terus ia alami.
Beby mengungkap dampak dari kejadian itu sangat serius. Ia sering mengalami kesurupan hingga akhirnya harus pindah tempat tinggal dan memutuskan pulang ke Indonesia untuk menjalani proses pemulihan spiritual.
“Itu bukan cerita yang aku buat-buat. Ada yang ditambah untuk kebutuhan dramatik film, tapi intinya semua pengalaman itu nyata,” katanya.
Dalam proses pengembangan cerita menjadi film layar lebar, Beby mengaku melakukan berbagai langkah kehati-hatian, termasuk meminta izin secara spiritual sesuai kepercayaan lokal Korea.
Ia juga mempelajari praktik mudang atau syaman, serta berkomunikasi menggunakan bahasa Korea untuk menghormati budaya setempat. Proses syuting pun tidak mudah, terutama dalam urusan perizinan lokasi.
Awalnya, tim berencana melakukan pengambilan gambar di Seoul, namun keterbatasan izin membuat lokasi syuting dipindahkan ke Busan. Di sana, Beby mendapat bantuan dari salah satu profesornya untuk mengurus perizinan resmi.
“Tanpa bantuan akademik, sangat sulit bagi kami sebagai pendatang untuk bisa syuting di Korea,” ujarnya.
Film Tolong Saya! (Dowajuseyo) dijadwalkan tayang di bioskop mulai 29 Januari 2026 di bioskop Indonesia. (Z-1)
Bukan sekadar drama rumah tangga biasa, film Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? dirancang sebagai sebuah eksplorasi spiritual dan perjalanan batin seorang perempuan.
Gina S Noer memaparkan bahwa film Esok Tanpa Ibu bukan sekadar cerita tentang teknologi, melainkan sebuah eksplorasi mengenai relasi kompleks antara AI, sosok ibu, dan lingkungan hidup.
Aktris utama Dian Sastrowardoyo dilaporkan mengalami insiden jatuh dari kuda saat menjalani salah satu adegan penting saat syuting film Esok Tanpa Ibu.
Sutradara Timur Bekmambetov menjelaskan bahwa MERCY dirancang untuk memadukan ketegangan cerita dengan pendekatan visual berbasis layar digital atau Screenlife.
Selain kemitraan dengan Refinery Media dari Singapura, posisi sutradara film Esok Tanpa Ibudipercayakan kepada sineas asal Malaysia, Ho Wi-ding.
Banyak karya akademik yang ia tangani berubah menjadi buku yang lebih komunikatif dan dapat dibaca masyarakat luas.
IRCOMM Group menghadirkan program khusus bagi peneliti dan akademisi. Sebanyak 12 penulis terpilih yang berhasil submit dan lolos tahap editorial review akan mendapatkan sejumlah manfaat.
Menurut Oh Su Hyang, berbicara itu bukan hanya tentang menyusun kata tapi juga bagaimana berbicara itu bisa memikat orang atau bahkan bermakna bagi orang.
PENULIS asal Korea Selatan, Oh Su Hyang, yang dikenal lewat buku laris Bicara Itu Ada Seninya, ternyata punya kebiasaan yang luar biasa yaitu membaca hingga 70 buku setiap bulan.
Dikenal lewat bukunya yang populer Bicara Itu Ada Seninya, Oh Su Hyang ternyata punya masa kecil yang jauh dari kata mudah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved