Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Kedalaman Karakter dan Refleksi Sosial: Bedah Kreatif Ghost in the Cell Karya Joko Anwar

Basuki Eka Purnama
26/2/2026 16:14
Kedalaman Karakter dan Refleksi Sosial: Bedah Kreatif Ghost in the Cell Karya Joko Anwar
Sutradara Joko Anwar(Instagram @jokoanwar)

SUTRADARA Joko Anwar kembali menggebrak industri layar lebar lewat film ke-12 yang diproduksi bersama Come And See Pictures, bertajuk Ghost in the Cell (Hantu di dalam Penjara). 

Dalam sebuah konferensi pers peluncuran cuplikan (trailer) di Jakarta, Senin (23/2), Joko memaparkan bahwa film ini bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.

Salah satu aspek yang paling menonjol dari proses produksi ini adalah dedikasi Joko dalam membangun latar belakang setiap peran. 

Ia mengungkapkan bahwa dirinya menulis riwayat hidup yang sangat mendetail bagi setiap pemain, meskipun jumlahnya mencapai puluhan orang.

"Kalau di film kami ada 40 karakter, ya 40 aku bikin kayak gini. Dari dia lahirnya kapan, pendidikannya kapan... kehidupannya lengkap semuanya. Internal fear (ketakutan batin)-nya apa, segala macam. Bahkan aku, misalnya, nulis surat yang dia tulis ke ibunya. Walaupun di film nggak ada, tapi ini membantu dia mengetahui karakternya," ujar Joko.

Metode ini terbukti efektif dalam memanusiakan karakter yang sering kali dianggap satu dimensi. 

Joko mencontohkan karakter Tokek yang diperankan oleh Aming. Meskipun penonton mungkin akan melabelinya sebagai sosok jahat, karakter tersebut memiliki akar trauma yang kuat.

"Walaupun dia dianggap karakter evil (jahat), tapi dia karakter utuh. Dia mengalami trauma misalnya. Jadi ketika dia berbuat seperti itu, dia tidak punya intention (niat) untuk jadi jahat," jelasnya.

Keunikan lain dalam produksi Ghost in the Cell adalah keterlibatan kru teknis di depan layar. 

Sinematografer kawakan Ical Tanjung, misalnya, didapuk memerankan tokoh pejabat tinggi. Selain itu, Tony Merle, sosok di balik lagu The Rising Man yang menjadi jalur suara film ini, juga turut ambil bagian sebagai aktor.

Kebiasaan melibatkan kru ini juga tercermin dalam pembuatan video storyboard. Joko memproduksi dua versi video pratinjau: satu diperankan oleh para aktor utama, dan satu lagi diperankan oleh para kru yang ternyata sudah hafal seluruh dialog dalam skenario.

Mengenai pemilihan genre horor-komedi, Joko memiliki pandangan sosiologis yang menarik. Ia menilai tertawa sering kali menjadi mekanisme pertahanan masyarakat Indonesia saat menghadapi tekanan.

"Komedi di sini justru menajamkan tensinya. Karena di Indonesia, tension dan ketawa itu satu paket sebenarnya. Kita sering kan, lagi susah tapi ketawa dulu. Banyak kita ketawa saat gugup. Misalnya kita ditegur, didatangi polisi pas razia, kita kayak 'Pak...' nyengir. Jadi di sini itu menunjukkan bahwa komedi itu menajamkan tensi," papar Joko.

Bagi Joko, horor adalah bahasa universal yang mampu menyatukan keragaman etnis di Indonesia. Ia percaya genre ini sangat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan penting, termasuk refleksi atas kondisi sosial dan ketidakadilan, tanpa harus terkesan menggurui.

Setelah Ghost in the Cell dijadwalkan tayang mulai 16 April mendatang, Joko Anwar membocorkan bahwa ia tengah mengembangkan proyek masa depan bergenre romansa berjudul The Charms of Broken Things. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya