Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
SUTRADARA Sidharta Tata resmi merambah layar lebar genre aksi melalui film terbaru berjudul Ikatan Darah. Setelah sebelumnya sukses mengarahkan serial Pertaruhan, Tata menyebut film ini sebagai ambisi lama yang akhirnya mendapatkan momentum untuk diwujudkan.
“Saat saya pertama kali membuat film memang tujuan saya adalah untuk membuat film aksi, tetapi tidak pernah terwujud kesempatannya sehingga saya meluapkan keinginan tersebut melalui medium lain, yaitu serial,” jelas Tata dalam konferensi pers perilisan cuplikan dan poster di Plaza Senayan, Rabu (11/03).
Dalam debutnya ini, Tata menekankan pentingnya sistem kedisiplinan yang ketat selama proses produksi.
Ia mengaku banyak belajar mengenai penerapan standar industri film dunia yang diaplikasikan ke dalam konteks perfilman nasional.
“Saya belajar banyak hal soal bagaimana menerapkan sistem kedisiplinan dalam membuat film aksi, bagaimana menerapkan standar Hollywood yang diaplikasikan ke dalam film. Semuanya menjadi pelajaran yang sangat berharga,” ungkapnya.
Transisi dari penyutradaraan berbasis intuisi menuju teknis yang lebih matang turut dibantu oleh aktor laga internasional, Iko Uwais.
Melalui kolaborasi dengan tim Uwais, Tata mulai menerapkan panduan teknis yang tepat, mulai dari persiapan pemain, optimalisasi kecepatan, hingga pengelolaan adegan demi adegan secara mendetail.
Iko Uwais menambahkan bahwa timnya menyiapkan video board sebagai panduan sebelum syuting dimulai guna meminimalisir kendala saat eksekusi adegan laga di lapangan.
“Ada beberapa teknis yang diajarkan oleh Bang Iko yang kemudian saya menemukan bagaimana untuk menjaga energi para pemain,” tambah Tata.
Hal menarik yang menonjol dari Ikatan Darah adalah absennya penggunaan senjata api modern (pistol). Sebagai gantinya, film ini banyak menampilkan penggunaan senjata tajam seperti golok.
Keputusan ini diambil Tata berdasarkan latar belakang budaya dan pengalaman empirisnya sebagai putra daerah.
“Budaya Indonesia di masa saya masih mengenyam dunia yang semacam itu, saya tidak pernah mengenal pistol. Dari apa yang saya lihat berdasarkan pengalaman empiris saya, ya, senjata tajam bagaimanapun bentuknya, bisa golok dan sebagainya,” jelasnya.
Tata juga memberikan ruang bagi para pemain untuk mengeksplorasi karakter mereka secara organik.
Abdurrahman Arif, pemeran tokoh Boris, mengaku diberi kebebasan untuk menyesuaikan kostum dan senjatanya.
“Senjata golok itu pun akhirnya ganti pakai pisau potong rumput,” ungkap Arif.
Senada dengan itu, Teuku Rifnu Wikana yang memerankan karakter Pastor bernama Primbon, menyebutkan adanya riset mendalam bersama tim desain kostum untuk memastikan akurasi penampilan karakternya tanpa meninggalkan estetika film.
Film Ikatan Darah dijadwalkan menyapa penonton di bioskop mulai 30 April 2026. (Z-1)
Meskipun dikenal dengan latar belakang komedi, keterlibatan Rahmet Ababil di film Ikatan Darah disebut-sebut akan menjadi salah satu elemen paling "menonjol".
Bagi para aktor, membintangi film aksi, seperti Ikatan Darah, bukan sekadar menghafal dialog, melainkan juga menuntut ketangkasan fisik yang mumpuni.
Film Tiba-Tiba Setan memasangkan dua aktris ternama, Ratu Felisha dan Poppy Sovia, dalam sebuah kisah yang memadukan ketegangan mistis dengan bumbu komedi situasi.
Sutradara Wregas Bhanuteja mengungkapkan bahwa setiap pemain film Para Perasuk mendapatkan pendekatan penyutradaraan yang berbeda demi menghidupkan karakter mereka.
Memulai debut layar lebarnya melalui Harry Potter and the Goblet of Fire pada 2005, Katie Leung mengaku bahwa saat itu ia berada dalam posisi yang sangat rentan.
Berbeda dari tema film keluarga lainnya, Rapi Film menghadirkan Tunggu Aku Sukses Nanti yang membawa tema besar pada kumpul keluarga saat Lebaran.
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Joko Anwar menjelaskan bahwa pemilihan latar penjara di film Ghost in the Cell bukan sekadar untuk membangun suasana seram, melainkan sebagai metafora kondisi masyarakat.
Produser dan sutradara kompak menyebut telah menyiapkan universe untuk Pelangi di Mars, baik itu berupa sekuel, prekuel ataupun spin-off.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved