Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Nuzulul Qur’an dan Revolusi Literasi Peradaban

Moh Shofan Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan Intelektual Muhammadiyah
11/3/2026 05:15

SALAH satu keistimewaan bulan suci Ramadan ialah adanya momen turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an). Peristiwa ini bukan sekadar momentum spiritual, melainkan revolusi peradaban. Di tengah masyarakat Arab yang kala itu dikenal sebagai ummiy—yang sebagian besar tidak membaca dan menulis—Allah menurunkan wahyu pertama dengan kata yang mengguncang sejarah: iqra (bacalah).

Momen istimewa itu terjadi di Gua Hira ketika Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Surat Al-‘Alaq ayat 1–5. Firman Allah itu menandai kelahiran tradisi literasi dalam Islam. Allah berfirman: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” Ini pesan kuat bahwa agama ini lahir dari perintah membaca.

Momen ini ditegaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 185: “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.” Maka, Ramadan bukan hanya bulan puasa, tetapi bulan ilmu, bulan membaca, dan bulan refleksi.

Namun, ironi muncul di tengah kita. Di negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia ini, tradisi membaca belum menjadi budaya kuat. Indeks PISA (Programme for International Student Assessment 

) Indonesia –yang antara lain mengukur tingkat kebiasaan membaca—masih sangat rendah, peringkat ke-69 dari 80 negara. Kalaupun ada yang terbiasa membaca, terutama membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan, pada umumnya tidak disertai upaya memahami maknanya. Alih-alih dimengerti, malah lebih banyak dihapal.

 

REVOLUSI LITERASI PERADABAN

Surat Al-‘Alaq 1-5 bukan hanya perintah teknis membaca teks, tetapi panggilan untuk membaca realitas. Kata iqra’

 menurut banyak mufasir bermakna luas, yakni membaca teks, membaca alam, membaca realitas sejarah, termasuk membaca diri sendiri. Dalam perspektif pemikir muslim klasik seperti Ibnu Khaldun, kemajuan suatu peradaban ditentukan oleh kualitas ilmu pengetahuan dan tradisi intelektualnya. Tanpa literasi, peradaban akan stagnan dan akhirnya runtuh.

Ada bukti sejaran autentik, pada kurun waktu tertentu, ketika umat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi intelektual, lahirlah generasi ilmuwan besar seperti Al-Khawarizmi dalam matematika, Ibnu Sina dalam kedokteran, Al-Farabi dalam filsafat, dan lain-lain. Mereka bukan hanya membaca Al-Qur’an secara ritual, tetapi menjadikannya energi epistemologis untuk memahami alam semesta.

Maka, Nuzulul Qur’an menjadi penanda yang sangat penting. Ia bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan pengingat bahwa agama ini bertumpu pada ilmu. Tanpa literasi, umat kehilangan roh ajaran pertamanya. Revolusi literasi peradaban dimulai dengan turunnya Al-Qur’an.

Yang amat disayangkan, pada era sekarang ini, fenomena yang terjadi ialah reduksi makna membaca menjadi sekadar ritual. Tadarus di bulan Ramadan sering kali dilakukan dengan target kuantitas: berapa juz selesai, berapa kali khatam. Itu tentu baik, tetapi menjadi problem ketika berhenti pada kuantitas tanpa kualitas.

Padahal Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan tadabur (perenungan mendalam). Allah bertanya secara retoris: “Apakah mereka tidak menadaburi Al-Qur’an?” (QS. An-Nisa: 82). Pertanyaan ini menggugat kesadaran intelektual umat.

Tradisi literasi bukan hanya membaca teks suci, tetapi juga memahami konteks, mengkaji tafsir, berdialog dengan ilmu pengetahuan modern, dan mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sosial. Tanpa itu, Al-Qur’an hanya menjadi bacaan lisan, bukan pedoman transformasi. Orang-orang yang membaca Al-Qur’an tanpa memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, disindir dengan perumpamaan bagaikan keledai yang memikul kitab (QS Al-Jumuah: 5).

Minimnya literasi berdampak luas. Pertama, mudahnya penyebaran hoaks dan disinformasi. Tanpa budaya membaca kritis, umat mudah terprovokasi. Kedua, lemahnya daya saing global. Dunia hari ini bergerak berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Bangsa yang unggul adalah bangsa yang membaca, meneliti, dan menulis.

Filsuf Prancis Michel Foucault pernah mengatakan bahwa pengetahuan adalah kekuasaan (knowledge is power). Dalam konteks ini, umat yang lemah literasinya akan lemah pula posisinya dalam percaturan global. Ironisnya, agama yang diawali dengan perintah membaca justru diikuti oleh komunitas yang tradisi bacanya rendah.

Lebih jauh lagi, krisis literasi juga melahirkan pemahaman keagamaan yang dangkal. Ayat-ayat suci dipahami secara tekstual tanpa mempertimbangkan konteks historis dan sosial. Akibatnya muncul sikap eksklusif, intoleran, bahkan radikal. Padahal Al-Qur’an sendiri diturunkan sebagai rahmat bagi semesta (rahmatan lil-‘alamin).

 

MOMENTUM KEBANGKITAN LITERASI

Jika kita memahami pesan Al-Qur’an, seyogianya Ramadan dijadikan sebagai titik balik. Nuzulul Quran bukan sekadar peringatan setiap tanggal 17 Ramadan, melainkan ajakan revolusi intelektual untuk membangkitkan semangat membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Masjid-masjid tidak hanya ramai oleh lantunan tilawah, tetapi juga diskusi tafsir, kajian ilmiah, dan dialog kebudayaan.

Tradisi halaqah di masa Nabi dan para sahabat adalah contoh konkret. Mereka membaca, memahami, lalu mengamalkan. Setiap ayat tidak dilompati sebelum dipahami dan dipraktikkan. Inilah literasi yang utuh: membaca, memahami, menginternalisasi, dan mengimplementasikan.

Tokoh pembaru seperti Muhammad Abduh menekankan pentingnya membuka pintu ijtihad dan menghidupkan kembali semangat rasionalitas Islam. Menurutnya, kemunduran umat bukan karena ajaran Islam, melainkan lantaran umat meninggalkan semangat intelektual yang diajarkan Al-Qur’an.

Dalam konteks sejarah Indonesia, apa yang dilakukan KH Ahmad Dahlan ketika mengajarkan Surat Al-Ma’un kepada murid-muridnya merupakan refleksi dari kebangkitan literasi umat Islam. Pada saat itu Kiai Dahlan mendorong murid-muridnya untuk tidak sekadar membaca atau menghapal Al-Ma’un, tapi lebih mengutamakan pemahaman dan praktiknya secara konkret.

Berdirinya sekolah-sekolah, rumah sakit, dan panti-panti sosial yang berkembang pesat di lingkungan Muhammadiyah hingga saat ini merupakan refleksi objektif dari apa yang kemudian dikenal sebagai Teologi Al-Ma’un.

 

IBADAH SOSIAL MENUJU PERUBAHAN

Sudah saatnya membaca diposisikan sebagai ibadah sosial. Jika salat membentuk kedekatan vertikal dengan Tuhan, maka membaca membentuk tanggung jawab horizontal terhadap peradaban. Membaca buku ilmu pengetahuan, sejarah, filsafat, bahkan sains modern adalah bagian dari menjalankan spirit iqra’.

Kita perlu menggeser paradigma bahwa literasi hanya tugas akademisi. Setiap muslim adalah pembelajar sepanjang hayat. Rumah harus menjadi ruang baca, masjid menjadi pusat literasi, sekolah menjadi laboratorium berpikir kritis.

Gerakan literasi tidak boleh berhenti pada slogan. Ia membutuhkan ekosistem: perpustakaan yang hidup, komunitas diskusi, penerbitan buku berkualitas, hingga keteladanan dari para pemimpin. Tanpa keteladanan, ajakan membaca hanya menjadi retorika.

Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan membaca, tetapi juga menuntun pada perubahan. Ayat-ayatnya berbicara tentang keadilan, kejujuran, tanggung jawab sosial, dan pembelaan terhadap kaum lemah. Jika literasi tumbuh, kesadaran etis pun meningkat.

Perubahan sosial besar dalam sejarah Islam lahir dari komunitas yang melek literasi. Peradaban Andalusia, Bagdad, dan Kairo pernah menjadi pusat ilmu dunia. Semua berakar dari tradisi membaca dan menulis. Pertanyaannya sekarang, apakah kita menjadikan Nuzulul Qur’an sebagai nostalgia, atau sebagai energi kebangkitan?

 

MENGHIDUPKAN KEMBALI IQRA’

Di tengah riuhnya notifikasi, derasnya arus informasi, dan gemerlap layar yang tak pernah padam, kita hidup dalam zaman yang paradoksal. Kita dikelilingi teks, tetapi semakin jauh dari makna. Kita banjir informasi, tetapi kering pemahaman. Padahal, lebih dari empat belas abad lalu, sebuah peradaban besar dimulai bukan dengan pedang, bukan dengan kekuasaan, melainkan dengan satu kata iqra!

Dalam tradisi Islam, membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga ibadah. Membaca adalah jalan menuju pengenalan diri dan pengenalan Tuhan. Ayat pertama itu tidak berhenti pada kata ‘bacalah’, tetapi dilanjutkan dengan ‘dengan nama Tuhanmu’. Artinya, membaca harus melahirkan kesadaran etis dan spiritual.

Tradisi membaca dalam sejarah Islam melahirkan generasi ulama, ilmuwan, dan pemikir besar. Kita mengenal nama-nama seperti Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan Ibnu Khaldun. Mereka bukan lahir dari budaya instan, melainkan dari tradisi membaca yang kuat, mendalam, dan reflektif. Perpustakaan-perpustakaan berdiri megah di Bagdad, Kairo, dan Kordoba. Buku menjadi simbol kemajuan.

Lebih dari itu, iqra’ sejatinya adalah seruan pembebasan. Dengan membaca, manusia dibebaskan dari kebodohan, dari takhayul, dari manipulasi. Paulo Freire menyebut literasi sebagai jalan menuju kesadaran kritis. Membaca bukan hanya memahami teks, tetapi juga membaca realitas.

Ketika masyarakat malas membaca, mereka mudah digiring oleh propaganda. Ketika budaya literasi lemah, demokrasi pun rapuh. Sebab, demokrasi menuntut warga yang berpikir, bukan sekadar bereaksi. Membaca melatih kesabaran, ketekunan, dan kemampuan menimbang.

Dalam konteks Indonesia, membangkitkan tradisi membaca bukan sekadar proyek pendidikan, melainkan proyek peradaban. Kita tidak bisa berharap lahirnya kebijakan publik yang cerdas jika warga dan pemimpinnya tidak akrab dengan buku. Kita tidak bisa berbicara tentang kemajuan jika generasi mudanya lebih akrab dengan potongan video singkat daripada karya-karya pemikiran mendalam.

Iqra’ mengajarkan bahwa perubahan dimulai dari kesadaran personal. Membaca adalah tindakan sunyi, tetapi dampaknya sosial. Seorang anak yang mencintai buku hari ini bisa menjadi pemimpin visioner esok hari.

Pada akhirnya, membangkitkan tradisi membaca berarti menjadikan iqra’ sebagai etos hidup. Ia bukan hanya perintah verbal, tetapi sikap mental haus akan ilmu, rendah hati untuk belajar, dan berani mengoreksi diri.

Seruan iqra’ pernah mengangkat bangsa Arab dari kegelapan jahiliah menuju puncak peradaban dunia. Seruan yang sama masih menggema hingga hari ini. Pertanyaannya bukan apakah iqra’ relevan, melainkan apakah kita mau menjawabnya.

Jika kita ingin masa depan yang lebih terang, kembalilah kepada buku. Kembalilah kepada membaca. Kembalilah kepada iqra’. Karena mungkin, kebangkitan itu tidak dimulai dari podium, tidak dari panggung politik, tidak dari gebyar perayaan—melainkan dari seseorang yang duduk diam, membuka halaman pertama, dan mulai membaca.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya