Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEMUA Muslim sepakat Al-Qur'an adalah huda (petunjuk) dan syifa (obat). Namun, realitas menunjukkan fenomena paradoks: di satu tangan, Al-Qur'an melahirkan pribadi teduh dan membawa rahmat bagi semesta; di tangan lain, ia terkadang dihadirkan dengan wajah yang kaku, bahkan menjadi beban legalistik yang menjauhkan manusia dari esensi spiritualnya.
Mengapa hasilnya bisa berbeda? Jawabannya terletak pada resep atau metodologi kita dalam mengambil ayat-ayat-Nya. Layaknya sebuah apotek surgawi, Al-Qur'an menyediakan segala penawar, namun kesembuhan sangat bergantung pada ketepatan diagnosis dan dosis dalam meramu resep kehidupan.
Dalam wilayah privat dan spiritual, kesalahan memilih resep beragama seringkali menjebak seseorang pada keberagamaan ekstrinsik atau simbolik. Agama hanya menjadi atribut identitas, bukan transformasi kualitas diri. Alih-alih membawa kebahagiaan, agama justru terasa sebagai beban kewajiban yang menghimpit.
Resep yang tepat untuk batin adalah menghadirkan ayat-ayat takwa sebagai fondasi kesadaran ketuhanan. Takwa bukan sekadar takut pada siksa, melainkan kapasitas imsak (menahan diri dari ego) dan khusyuk (mindfulness). Dalam kondisi ini, seseorang mencapai jiwa yang mutmainnah (tenang). Sebagaimana firman Allah:
"Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d: 28).
Ketenteraman ini harus membuahkan qaulan sadidan —perkataan yang benar dan menyejukkan. Inilah indikator bahwa resep spiritual kita telah bekerja secara objektif dalam memperbaiki karakter.
Dalam lingkup keluarga, Al-Qur'an harus diramu sebagai resep kasih sayang (mawaddah wa rahmah). Keluarga bukan sekadar institusi hukum, melainkan taman tempat setiap anggota bertumbuh. Di sini, Al-Qur'an hadir untuk memastikan relasi saling memberi, bukan saling menuntut. Melompat ke ranah publik, tantangannya lebih besar. Kita membutuhkan Al-Qur'an sebagai kompas etik dan sumber moralitas dalam berelasi dengan sesama manusia dan alam.
Cendekiawan Muslim, Seyyed Hossein Nasr, sering mengingatkan krisis lingkungan dan sosial modern berakar pada hilangnya dimensi sakral dalam memandang alam. Nasr menekankan manusia adalah khalifah yang memikul amanah untuk menjaga harmoni (mizan). Tanpa spiritualitas yang mendalam, sains dan teknologi hanya menjadi alat perusak, bukan pembawa rahmat.
Menghadirkan Al-Qur'an dalam hidup menuntut pemahaman objektif atas hukum sunnatullah (sosial) dan qadarullah (alam). Kesejahteraan duniawi tidak jatuh dari langit melalui doa semata, melainkan melalui pendekatan pragmatis dalam wilayah ikhtiar manusia.
Islam menolak fatalisme yang melumpuhkan. Sebagai Khalifatullah fil ardh, manusia dibekali agensi (daya pilih). Kita harus memahami bahwa setiap hasil adalah buah dari ketepatan strategi dan kerja keras. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda: "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah" (HR. Muslim). Kekuatan di sini mencakup kapasitas intelektual dan manajerial dalam mengelola amanah bumi.
Untuk memastikan Al-Qur'an hadir sebagai solusi yang menghidupkan, setiap Muslim perlu menata ulang cara pandangnya:
Hanya dengan resep yang tepat, Al-Qur'an tidak lagi sekadar teks yang dibaca dalam seremoni, melainkan menjadi energi yang menggerakkan peradaban. Mari berhenti menjadikan agama sebagai beban, dan mulailah menjadikannya cahaya yang menghidupkan. (H-2)
Pemerintah mengklaim harga barang kebutuhan pokok selama Ramadan hingga Idulfitri 2026 lebih stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Arah kebijakan Baznas ke depan termasuk target pengumpulan zakat nasional yang ditetapkan mencapai Rp160 triliun dan Baznas pusat sebesar Rp10 triliun pada 2031.
Momentum Ramadan mendorong spektrum belanja yang lebih luas—dari kebutuhan harian hingga pengeluaran yang lebih aspiratif.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Human Initiative terus melakukan evaluasi dalam setiap pelaksanaan program.
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved