Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Strategi Perang Sun Tzu dalam Krisis Hormuz

Gentio Harsono Dosen Fakultas Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan RI
02/4/2026 05:05
Strategi Perang Sun Tzu dalam Krisis Hormuz
(MI/Seno)

PERANG Iran-Amerika Serikat dan Israel sudah lebih sebulan, tapi belum juga ada tanda bakal berakhir. Perang yang semula bertujuan mengganti struktur kepemimpinan Iran, kini bergeser ke krisis energi global. Serangan balasan Iran dengan gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, juga pangkalan militer AS di kawasan Teluk, semakin meningkatkan intensitas pertempuran. Iran pun kemudian menggunakan Selat Hormuz sebagai senjata geopolitik untuk menekan AS dan sekutunya.

Selat dengan alur pelayaran efektif selebar 3 km ini mempunyai kedalaman 60-100 m. Lebih dari 20% pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz, menjadikannya jalur strategis perdagangan energi global. Kondisi pelayaran menjadi tantangan teknis bagi kapal tanker ultra large crude carrier, memaksa kapal bernavigasi presisi tinggi agar tidak kandas.

Kini kita sadar bahwa laut tidak sebatas ruang geografis semata, tapi juga panggung utama politik energi global. Lonjakan harga minyak, rantai pasok terguncang, dan stabilitas ekonomi global pun terancam. Krisis Hormuz menggambarkan laut telah bertransformasi dari geoekonomi menjadi geopolitik.

Jika semula ahli strategi militer menyangsikan kemampuan Iran, nyatanya sudah sebulan lebih Iran masih bertahan melakukan serangan balasan dengan kualitas serangan yang semakin tajam. Dengan strategi asimetrisnya, Iran berhasil memaksa Sekutu masuk dalam kampanye militer berkepanjangan dan mahal, melemahkan kemampuan militer dan ekonomi secara signifikan.

Perang tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas serangan, tetapi juga oleh daya tahan ruang yang diserang. Iran sangat berhasil menyesuaikan kemampuan militernya dengan memanfaatkan geografi militer yang kita kenal sebagai Cuaca, Medan, Musuh (Cumemu). Bentang alam seperti pegunungan, laut, teluk, selat, gurun, kenyataannya tidak pernah netral. Semuanya dapat menjadi penghalang, pelindung, penunda, sekaligus pengganda kekuatan dalam perang.

Pegunungan Zagros dan Elburz bertindak sebagai perisai geografis alami, menghalangi radar lawan, menciptakan ‘jebakan’ yang mempersulit deteksi serangan. Medan terjal memungkinkan Iran menyembunyikan instalasi militer di bawah tanah, menetralisir keunggulan teknologi udara lawannya serta mempersulit invasi darat.

Pertahanan Iran bukan hanya persoalan jumlah rudal atau drone, melainkan hasil kombinasi antara kedalaman teritorial, perlindungan topografi, dan kemampuan memanfaatkan chokepoint paling sensitif di dunia, Selat Hormuz. Kendali Iran atas ruang utara Hormuz memberi nilai strategis yang jauh melampaui perhitungan militer sempit.

 

STRATEGI PERANG SUN TZU

Sun Tzu (544-496 SM) adalah seorang jenderal, ahli strategi militer dan filsuf Tiongkok kuno yang legendaris. Bukunya, The Art of War, merupakan panduan taktik perang yang sangat berpengaruh, menekankan kemenangan melalui kecerdasan, spionase, dan fleksibilitas, bahkan tanpa harus bertempur fisik. Salah satu ucapan Sun Tzu ialah, "Kenali musuhmu dan kenali dirimu sendiri, maka engkau akan memenangkan seratus pertempuran tanpa risiko.”

Iran piawai mentransformasi strategi perang kuno ke cara modern, menyembunyikan kekuatan drone dan rudal, sehingga tampak lemah. Menyembunyikan kapabilitas militer sebenarnya dan memproyeksikan diri dengan kekuatan rentan, tetapi bersiap dengan serangan rudal presisi yang mematikan saat musuh lengah. Perang menjadi lebih lama, dan perlahan melemahkan kekuatan lawan.

 

KRISIS HORMUZ DALAM KONTEKS KEINDONESIAAN

Dengan 17.504 pulau yang tersebar, Indonesia memegang peran penting di Indo-Pasifik, menjadi titik temu berbagai kepentingan global, sekitar 40% perdagangan dunia melewati perairan Indonesia. Tantangan geopolitik global seperti rivalitas kekuatan besar negara superpower, isu Laut Cina Selatan, keamanan siber, dan perubahan iklim harus dihadapi Indonesia dengan strategi yang adaptif dan visioner. Jika jalur ini terganggu, dampaknya bukan hanya melumpuhkan armada perang, tapi juga menghentikan pabrik-pabrik di negara-negara industri di Asia Timur.

Iran memiliki satu titik tekan, Selat Hormuz. Indonesia memiliki tiga jalur utama pelayaran internasional, Alur Laut Kepulauan Indonesia. Selat Sunda merupakan jalur utama menuju Asia Timur, sedangkan Selat Lombok dan Selat Makassar dilintasi kapal-kapal raksasa yang tidak dapat melewati Selat Malaka dan Selat Sunda. Selat Ombai-Wetar merupakan jalur krusial bagi kapal kapal besar dan juga kapal selam nuklir AS dari Australia menuju Pasifik Utara.

Indonesia juga dilewati ratusan kabel optik bawah laut, baik domestik maupun internasional, yang menjadikannya Indonesia sebagai hub penting konektivitas digital. Kabel internasional besar seperti Apricot, Echo, Bifrost, dan INDIGO-West melewati Indonesia. Data per 2021 menunjukkan terdapat 217 alur kabel laut, 209 beach main hole (BMH), dengan ratusan kabel aktif yang tersebar, terutama di perairan wilayah barat Indonesia.

Jika skenario terburuk, krisis Hormuz terjadi di Indonesia, satu dari total tiga jalur pelayaran tersebut tutup dengan alasan keamanan maritim, maka biaya asuransi kapal global akan meroket, negara industri akan kolaps ekonominya dalam hitungan minggu.

 

KEBUTUHAN DATA HIDROGRAFI

Indonesia mempunyai luas perairan 6,4 juta kilometer persegi dan 17.504 pulau. Bandingkan dengan Iran, daratan seluas 1.636.000 kilometer persegi dan perairan sekitar 12.000 kilometer persegi. Dengan strategi perang asimetrisnya, Iran mampu melawan sekutu dengan kekuatan militer di atasnya karena mampu menggunakan ruang geografi militer untuk keunggulannya.

Bagi Indonesia, perairan laut harus menjadi keunggulan taktis dan strategis. Penguasaan atas data dan informasi medan laut menjadi krusial, tidak mungkin tercapai jika tanpa dukungan data dan informasi hidrografi lengkap dan akurat. Data dan informasi batimetri, bentang dasar laut, oseanografi badan air dan meterologinya menentukan lokasi lokasi di mana fasilitas militer ditempatkan di laut, lintasan kapal selam, serbuan amfibi serta operasional sensor sonar, tempat-tempat di mana gerilya laut dan seabed warfare disiapkan.

Data dan informasi hidrografi memberikan gambaran menyeluruh tentang mandala perang laut kita, memungkinkan militer Indonesia dapat merencanakan operasi pertahanan lautnya dengan serangan yang efektif.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya