Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Efek Domino Blokade Selat Hormuz: Daftar Negara yang Mulai Alami Krisis BBM

Putri Rosmalia Octaviyani
27/3/2026 19:20
Efek Domino Blokade Selat Hormuz: Daftar Negara yang Mulai Alami Krisis BBM
Selat Hormuz(Dok. Google Maps)

BLOKADE Selat Hormuz yang terjadi sejak awal Maret 2026 telah memicu guncangan hebat pada rantai pasok energi global. Sebagai jalur transit bagi hampir 30 persen pasokan minyak mentah dunia, penutupan jalur ini memaksa sejumlah negara masuk ke dalam fase darurat energi atau krisis BBM akibat menipisnya stok BBM nasional.

Negara-negara di kawasan Asia-Pasifik menjadi yang paling terdampak karena ketergantungan yang sangat tinggi pada impor minyak dari Timur Tengah. Selain Australia yang tengah menghadapi aksi panic buying, beberapa negara besar lainnya mulai memberlakukan kebijakan pembatasan konsumsi energi.

Jepang dan Korea Selatan dalam Status Siaga

Jepang dan Korea Selatan, dua raksasa ekonomi Asia Timur, melaporkan telah mulai mencairkan cadangan minyak strategis (Strategic Petroleum Reserves/SPR) mereka. Jepang, yang mengimpor lebih dari 90 persen kebutuhan minyaknya melalui Selat Hormuz, kini membatasi operasional transportasi publik dan mengimbau industri manufaktur untuk mengurangi penggunaan energi fosil.

Situasi serupa terjadi di Seoul. Pemerintah Korea Selatan telah menaikkan level kewaspadaan energi ke tingkat tertinggi. Harga bensin di kedua negara tersebut dilaporkan melonjak hingga 40 persen dalam kurun waktu kurang dari tiga pekan.

Selat Hormuz adalah urat nadi energi dunia. Penutupannya selama satu hari saja dapat menyebabkan keterlambatan distribusi hingga 20 juta barel minyak mentah ke pasar global.

Krisis BBM di India dan Asia Tenggara

India, sebagai importir minyak mentah terbesar ketiga di dunia, mulai merasakan dampak inflasi yang luar biasa. Pemerintah India melaporkan bahwa biaya logistik domestik telah naik dua kali lipat, yang memicu kenaikan harga pangan secara nasional.

Di Asia Tenggara, negara-negara seperti Filipina dan Thailand mulai memberlakukan sistem kuota di SPBU untuk mencegah kelangkaan total. Sementara itu, di Indonesia, pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak mentah dunia untuk menjaga stabilitas harga BBM dalam Mata Uang Rupiah agar tidak terjadi gejolak ekonomi di tingkat akar rumput.

Analis energi internasional memprediksi bahwa jika blokade Selat Hormuz berlanjut hingga bulan depan, harga minyak mentah Brent bisa menembus angka psikologis baru di atas US$150 per barel. Hal ini akan memaksa negara-negara importir untuk mencari alternatif pasokan dari wilayah lain, meski dengan risiko biaya logistik yang jauh lebih tinggi. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya