Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Krisis BBM Landa Australia dan Terjadi Panic Buying

Dhika Kusuma Winata
27/3/2026 18:53
Krisis BBM Landa Australia dan Terjadi Panic Buying
ilustrasi.(MI)

PEMERINTAH Australia berupaya meredam kepanikan publik di tengah lonjakan harga bahan bakar dan kelangkaan di sejumlah wilayah. Perdana Menteri Anthony Albanese, Jumat (27/3), menegaskan berupaya menjamin pasokan energi meski tekanan akibat perang di Timur Tengah terus meningkat.

 

Lonjakan permintaan yang dipicu aksi panic buying membuat distribusi terganggu. Sejumlah laporan menyebutkan pengemudi truk hingga warga sipil kesulitan mendapatkan bahan bakar. Pelaku usaha juga mulai merasakan dampak kenaikan biaya operasional.

“Semakin lama perang ini berlangsung, dampaknya akan semakin besar. Namun kami terus mengambil langkah untuk melindungi masyarakat Australia dari dampak terburuk,” kata PM Albanese dikutip BBC.

Pemerintah menilai kelangkaan yang terjadi bukan disebabkan minimnya stok melainkan lonjakan permintaan dan gangguan distribusi. Menteri Energi Chris Bowen memastikan ketersediaan BBM dalam beberapa pekan ke depan tetap stabil.

“Dalam beberapa minggu ke depan, pasokan bensin, solar, dan minyak di Australia akan tetap sama, bahkan bisa lebih tinggi dari kondisi normal,” katanya.

Di lapangan, kondisinya berbeda. Di Cairns, Queensland, sejumlah SPBU kehabisan bensin sedangkan harga solar melonjak hingga 85% dibanding sebelum konflik Iran pecah. Di negara bagian New South Wales, satu dari tujuh pengecer dilaporkan kehabisan setidaknya satu jenis bahan bakar.

Harga eceran bensin rata-rata kini menyentuh 238 sen Australia per liter atau naik tajam dari 171 sen empat minggu sebelumnya. Adapun harga solar di Sydney mencetak rekor tertinggi mencapai lebih dari 314 sen per liter.

Menurut National Roads and Motorists Association (NRMA), kelangkaan dipicu perubahan perilaku konsumen. Warga dilaporkan membeli BBM dalam jumlah besar dan menyimpannya sebagai cadangan.

“Orang-orang mengisi jeriken dan menyimpannya di garasi. Bahkan perusahaan transportasi mulai menginstruksikan sopir untuk mengisi bahan bakar kapan pun ada kesempatan,” ujar juru bicara NRMA, Peter Khoury.

SPBU independen disebut paling terdampak karena tidak memiliki kontrak pasokan jangka panjang seperti perusahaan besar. Hal itu membuat mereka kesulitan mendapatkan distribusi BBM saat permintaan melonjak.

Pemerintah Australia dijadwalkan menggelar rapat darurat kabinet nasional untuk merespons situasi ini. Sejumlah langkah rencananya disiapkan, termasuk pelepasan cadangan minyak nasional dan pelonggaran standar bahan bakar. Opsi pembatasan distribusi sejauh ini masih belum diberlakukan. (Dhk/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya