Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Sisi Gelap Campak

Ari Baskoro Pengajar senior di Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/ KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/ RSUD Dr Soetomo – Surabaya
02/4/2026 05:10
Sisi Gelap Campak
(Dok. Pribadi)

PEMERINTAH harus sigap merespons notifikasi International Health Regulation. Sebab, setelah berkunjung ke Indonesia, dua warga Australia terpapar campak. Bahkan penyakit sangat menular itu memakan korban jiwa dokter internship di RSUD Cimacan-Cianjur. Usianya masih sangat muda, 26 tahun. Kematiannya sekaligus memantik alarm bahaya. Pasalnya merupakan mortalitas pertama pada individu dewasa muda. Artinya jangan pernah meremehkan campak. Umumnya masyarakat beranggapan, campak tidak berbahaya dan hanya menyerang anak-anak.

Indonesia mendapat status ‘merah’ kejadian luar biasa (KLB) campak. Peringkatnya kedua dari seluruh negara di dunia, setelah Yaman. Menurut Kementerian Kesehatan, polanya berfluktuasi sejak awal tahun 2026. KLB tersebar di 39 kabupaten/kota pada 14 provinsi.

Virus campak memiliki hierarki daya tular tertinggi di antara semua penyakit menular, termasuk covid-19. Bila seseorang terjangkit, diprediksi 90% orang di sekitarnya akan terpapar pula. Khususnya jika tidak memiliki daya imunitas terhadap campak. Penularannya sejak empat hari sebelum, hingga empat hari sesudah munculnya ruam. Polanya sama persis dengan covid-19, melalui percikan saat batuk, bersin, atau berbicara. Bisa melalui permukaan benda yang terkena percikan, lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut individu sekitarnya.

 

IMUNITAS

Sistem imun yang kokoh merupakan ujung tombak melawan infeksi. Setiap saat, beragam mikroba berpeluang menginvasi. Disfungsi sistem imun memicu risiko infeksi dengan berbagai tingkatan. Meski dapat sembuh sendiri, campak berisiko bahaya pada balita dan lansia. Sebab, spektrum sistem imunnya tidak berada pada level puncak. Pada balita belum berkembang optimal, sedangkan performanya mulai meredup pada lansia.

Risiko bahaya pada individu dewasa muda terbilang kecil. Akan tetapi, jika mengalami imunokompromi, probabilitas komplikasinya meningkat. Penyebabnya beragam. Misalnya penyakit kronis (tuberkulosis, HIV/AIDS, diabetes, penyakit autoimun, kanker). Obesitas dan pola hidup tidak sehat, seperti kurang tidur, lelah berlebih, stres, merokok, konsumsi minuman beralkohol, dan defisiensi nutrisi, juga memantik imunokompromi.

 

KLB

‘Hanya’ ada dua analisis mengapa campak merebak. Pertama, angka penularan global meningkat. Berdasarkan rilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), wabah terjadi di Amerika Serikat dan Meksiko. Tercatat pada tahun 2011, 2014, 2018, 2019, dan terakhir Juli 2025. Insidennya tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Padahal tahun 2000, campak telah dinyatakan eradikasi di AS.

Kanada telah kehilangan status eliminasi campak pada 10 November 2025. Padahal telah mendeklarasikan eliminasi pada 1998. Nasib Eropa serupa. Hampir 60 ribu kasus terdeteksi di 45 dari 53 negara kawasan ‘Benua Biru’. Menurut UNICEF, wabah menyebar di lebih dari seratus negara dan telah menginfeksi 10,3 juta orang di seluruh dunia pada 2023. Dikategorikan eliminasi jika penularan terhenti di suatu wilayah geografis, sedikitnya selama 12 bulan.

Kedua, meningkatnya kerentanan global akibat menurunnya cakupan vaksinasi, terutama sejak 2023. Fakta epidemiologi membuktikan, semakin banyak individu tidak divaksinasi, semakin meningkat risiko wabah. Ada model riset yang mampu memprediksi korelasinya. Bila cakupan vaksinasi MMR mencapai 97%, peluang wabah hanya 16%. Jika cakupannya 70%, peluang wabah diprediksi meningkat hingga 78%. Sebanyak 95% kasus campak yang dilaporkan di AS, belum pernah dilakukan vaksinasi. Terlebih pada individu yang mengalami komplikasi hingga kematian.

 

MISINFORMASI VAKSIN

Mengapa KLB campak selalu berulang? Padahal vaksinasi terbukti merupakan modalitas terpilih yang paling efektif dan efisien dalam memberantas penyakit menular. Contoh paling dramatis ialah eradikasi cacar. Vaksin telah mampu mengakhiri pandemi cacar meski membutuhkan waktu sekitar 200 tahun.

WHO mendeklarasikan eradikasi pada 8 Mei 1980. Vaksin juga mampu memitigasi pandemi covid-19. Efektivitasnya tidak seratus persen, tetapi telah berhasil mengakhiri pandemi. Misinformasi dan munculnya kelompok antivaksin mewarnai kendala penerapannya. Polanya berbeda di setiap negara. Kini kendala serupa dihadapi ketika memberantas wabah campak. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga negara lainnya.

Selama dua dekade terakhir, Robert F Kennedy Jr (RFK) giat mempromosikan teori pemicu autisme. Dia gencar menuding thimerosal/tiomersal sebagai penyebabnya melalui Children Health Defense yang digagasnya. Thimerosal, yang berbasis merkuri, lazim digunakan sebagai pengawet vaksin. Kini melalui riset kedokteran berbasis bukti telah dibuktikan tidak ada kaitannya antara autisme dan thimerosal.

Namun, kenyataan berkata lain. Para orangtua di AS telanjur enggan memvaksinasi anak-anak mereka karena khawatir. Agar tidak berdampak luas terhadap program vaksinasi, thimerosal telah digantikan secara bertahap menggunakan pengawet lainnya. Aktivitas RFK sangat memengaruhi pola pikir publik AS dan dunia terkait dengan penolakan program vaksinasi.

Misinformasi vaksin di Indonesia justru dikaitkan dengan isu tidak halal, takut efek samping, dan merasa tidak membutuhkan. Padahal sudah dijamin pihak berwenang bahwa pendapat tersebut tidak benar.

 

PREVENTIF-VAKSINASI

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan modalitas preventif yang patut dilakukan. Penggunaan masker sangat dianjurkan, terutama jika berada di kerumunan atau lingkungan berisiko. Vaksinasi MMR (Measles/campak, Mumps/gondongan, dan Rubella/campak Jerman) merupakan modalitas preventif terbaik. Selain aman, efektivitasnya mencapai 97% setelah pemberian dua dosis. Pada anak, MMR bisa digabung dengan vaksin varisela. Namanya MMRV. Pascavaksinasi, mayoritas akan terlindungi seumur hidup. Harusnya tenaga medis dan wisatawan internasional yang belum memiliki imunitas mendapat prioritas vaksinasi.

Semoga outbreak response immunization mampu mencegah wabah campak.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya