Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Indikator Kecocokan pada Cangkok Ginjal

Djoko Santoso Guru Besar Fakultas Kedokteran Unair
12/3/2026 05:05
Indikator Kecocokan pada Cangkok Ginjal
(MI/Seno)

PERINGATAN Hari Ginjal Sedunia yang jatuh pada 12 Maret 2026 ini bertema Kidney health for all: advancing equitable access to care dan kita disuguhi info yang memprihatinkan. Dalam setahun terakhir ini penyakit ginjal menempati posisi kedua sebagai penyakit katastrofe yang memakan biaya terbesar anggaran BPJS.

Pada 2024 rangking pertama pemakan biaya BPJS terbesar ialah penyakit jantung, disusul rangking di bawahnya ialah kanker, kemudian strok dan gagal ginjal. Pada 2025 penyakit ginjal naik ke rangking kedua, menggeser posisi kanker. Data BPJS Kesehatan menunjukkan, sepanjang 2024 tercatat 134.057 pasien gagal ginjal kronis yang menjalani prosedur hemodialisis atau cuci darah, dan biaya pengobatannya mencapai Rp13 triliun.

Pada 2024, penyakit jantung menduduki peringkat pertama dengan 22,55 juta kasus dan beban biaya mencapai Rp19,25 triliun. Di peringkat kedua penyakit kanker tercatat 4,24 juta kasus dengan pembiayaan Rp6,48 triliun. Disusul strok di posisi ketiga dengan 3,89 juta kasus yang menghabiskan Rp5,81 triliun, dan posisi keempat ialah gagal ginjal 1,44 juta kasus yang menghabiskan pembiayaan Rp2,76 triliun.

Namun, hanya dalam waktu setahun datanya berubah drastis. Penyakit jantung masih menjadi penyedot anggaran terbesar dengan 29,73 juta kasus dan biaya Rp17 triliun. Namun, posisi kedua kini ditempati gagal ginjal yang melonjak luar biasa hingga 12,68 juta kasus dan biayanya membengkak menjadi Rp13 triliun. Sebaliknya, kanker turun ke posisi ketiga dengan 7,19 juta kasus dan pembiayaan Rp10,3 triliun. Sementara itu, strok turun ke posisi keempat dengan 9,53 juta kasus dengan biaya Rp7,2 triliun.

Penyakit gagal ginjal mengalami lonjakan yang fantastis. Hanya dalam setahun jumlah kasusnya melonjak hampir sembilan kali lipat dan biayanya meningkat lebih dari empat kali lipat. Kebanyakan hemodialisis sebagai terapi rutin berjangka panjang, biayanya memberatkan pasien. Tanpa dukungan BPJS, sulit untuk membayangkan beban jutaan penderita penyakit ginjal kronis itu.

Itulah yang harus serius ditangani. Kasusnya meningkat pesat, biayanya membengkak, dan semakin menyasar penderita usia muda. Penyakit ginjal kronis biasanya tidak memunculkan gejala awal. Akibatnya, banyak orang baru menyadarinya ketika fungsi ginjalnya sudah menurun drastis, atau sudah dalam kondisi gagal ginjal kronis.

Di sinilah ginjal sering disebut sebagai silent organ. Kebanyakan penderita gagal ginjal menjalani perawatan dengan hemodialisis karena biayanya dikover BPJS. Namun, sebenarnya BPJS juga bisa mengover tindakan transplantasi atau cangkok ginjal meskipun jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan yang melakukan hemodialisis.

 

CANGKOK GINJAL

Transplantasi atau cangkok ginjal pertama kali sukses diterapkan pada manusia pada 1954 di RS Peter Bent, oleh tim yang dipimpin Dr Joseph Murray, yang kemudian pada 1990 menerima Hadiah Nobel Kedokteran.

Pada metoda cangkok, ginjal dari donor ditempatkan di dalam tubuh penerima untuk menggantikan ginjalnya yang sudah rusak. Dari sisi peluang keberlangsungan hidup, rata-rata cangkok ginjal dari donor (hidup) bisa bertahan sekitar 15 hingga 20 tahun dan ginjal dari donor (yang telah meninggal) bertahan 8 hingga 12 tahun.

Kebanyakan orang yang menjalani cangkok ginjal sebelumnya sudah cuci darah selama beberapa waktu. Yang baik ialah cangkok ginjal dilakukan tanpa melewati cuci darah, itu yang disebut transplantasi preemptif. Penelitian menunjukkan transplantasi preemptif dapat memberikan kesehatan jangka panjang yang lebih baik, dengan kualitas vaskular-neural yang lebih baik.

Pasien bisa tetap bekerja dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Jika dokter memberi tahu bahwa penyakit ginjalnya semakin memburuk atau sudah berada pada stadium lanjut penyakit ginjal (4, atau 5), itulah saat yang tepat untuk segera melakukan cangkok ginjal. Bahkan di stadium 3B saja sebaiknya sudah diedukasi duluan terkait dengan peluang cangkok ginjal.

Donor ginjal bisa orang yang masih hidup, yang memiliki dua ginjal sehat sehingga bisa mendonorkan satu ginjalnya. Donor hidup bisa berasal dari satu keluarga, bisa juga dari orang lain yang tidak ada hubungan keluarga. Selain itu, donor bisa juga dari ginjal orang yang meninggal. Pasien harus menjalani evaluasi di pusat transplantasi, lengkap dengan protokol standar profesional, sebelum menerima donor ginjal.

Studi menunjukkan orang yang menjalani cangkok ginjal hidup lebih lama daripada mereka yang menjalani cuci darah. Bagi penerimanya, cangkok ginjal yang berhasil juga memberikan kebebasan untuk menjalani kehidupan seperti saat sehatnya, termasuk bekerja, bepergian, dan lebih banyak waktu untuk bersama teman dan keluarga. Memang, ada sedikit batasan pada apa yang dapat dimakan dan diminum misalnya, atau diet yang menyehatkan jantung dan menjaga berat badan, agar ginjal baru bertahan lebih lama. Kesehatan dan stamina juga akan meningkat.

Tak ada gading yang tak retak, masih saja ada risiko pada cangkok ginjal, seperti risiko operasi. Setelah operasi cangkok, pasien perlu mengonsumsi obat antipenolakan, yang juga disebut imunosupresan, tetapi tetap ada risiko dari pengobatan itu. Pasien akan memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi dan jenis kanker tertentu. Meskipun sebagian besar cangkok berhasil dan bertahan selama bertahun-tahun, berapa lama masa hidupnya dapat bervariasi. Bergantung pada usianya, banyak orang akan membutuhkan lebih dari satu transplantasi ginjal selama hidup mereka.

Satu hal yang penting untuk diperhatikan sebelum dilakukan cangkok ginjal ialah tes darah, untuk mengetahui apakah calon penerimanya cocok dengan ginjal donor. Ada tiga tes darah utama yang akan menentukan apakah pasien dan calon ginjal donor bisa cocok, yaitu penentuan golongan darah, penentuan golongan jaringan, dan pencocokan silang. Penggolongan darah akan mengukur antibodi darah yang bereaksi dengan berbagai golongan darah. Jika golongan darah donor cocok dengan golongan darah pasien, donor akan menjalani tes darah selanjutnya (penggolongan jaringan).

Golongan darah berikut ini kompatibel: Orang yang golongan darahnya A dapat mendonorkan ginjalnya ke pasien golongan darah A dan AB. Donor berdarah B dapat mendonorkan ginjal ke pasien berdarah B dan AB. Donor berdarah AB hanya dapat mendonorkan ginjalnya ke pasien berdarah AB. Donor berdarah O dapat mendonorkan ginjalnya ke pasien berdarah A, B, AB, dan O. Karena itu, O ialah donor universal, bisa kompatibel dengan golongan darah lainnya.

Jika golongan darah tidak kompatibel, donor masih mungkin mendonorkan ginjalnya ke pasien, dengan menggunakan perawatan yang menurunkan kadar antibodi dalam darah pasien. Perawatan yang dimaksud ialah perawatan pratransplantasi yang menghilangkan antibodi berbahaya dari darah penerima, dengan menggunakan suatu metode tertentu (plasmapheresis> dan imunoadsorpsi).

 

PELUANG KECOCOKAN SEL

Setelah soal kecocokan golongan darah menjadi beres, sekarang kita masuk pada kecocokan sel. Sel donor dari siapa yang bisa cocok dengan tubuh penerima? Para ahli menyebut sel donor dari keluarga inti memiliki kadar kecocokan paling tinggi meskipun tidak 100%. Tingkat kecocokan itu ditentukan kadar HLA (human leukocyte antigen) yang sama antara pada sel donor dan tubuh penerima. Jika donor dan penerima berasal dari genetik yang sama, misal dari keluarga inti, peluang kecocokannya tinggi.

Setiap orang mewarisi 50% HLA dari ibu biologis dan 50% lainnya dari ayah biologis. Gen yang menentukan HLA terbagi ketika diturunkan kepada anak, dengan setengah set berasal dari tiap orangtua untuk membentuk set lengkap bagi anak. Ada empat kemungkinan kombinasi HLA dari orangtua. Setiap anak memiliki peluang yang sama (25%) untuk mendapatkan salah satu dari empat profil itu dalam lotre genetik ketika sel telur manusia dibuahi. Tidak ada cara untuk memprediksi kombinasi mana dari empat kombinasi tersebut yang akan diterima setiap anak.

Misal ibu Anda memiliki gen HLA tipe A dan B, sedangkan ayah Anda memiliki tipe C dan D. Anda bisa mewarisi salah satu dari empat kombinasi HLA. Kombinasinya bisa A (dari ibu) + C (dari ayah), atau AD, atau BC, atau BD. Anak akan mewarisi salah satu dari empat (25%) kemungkinan kombinasi itu secara acak.

Bagaimana peluang kecocokannya pada saudara kandung? Setiap saudara kandung Anda memiliki peluang 25% untuk cocok sempurna menjadi pasangan cangkok Anda (baik menjadi penerima maupun donor). Setiap saudara kandung juga memiliki peluang 25% untuk tidak cocok sama sekali menjadi pasangan cangkok Anda. Sisanya, setiap saudara kandung berpeluang 50% menjadi pasangan cangkok yang Anda dengan kategori 'setengah cocok'.

Begitulah, tipe HLA menentukan bagaimana sistem kekebalan tubuh merespons penyakit, misalnya memberikan perlindungan khusus terhadap infeksi. Itulah gambaran sekilas tentang serangkaian HLA yang membantu sistem imun. Dari perspektif sistem HLA, DNA dan 'barcode'

 Anda dan saya ialah individu yang berbeda secara biologis, mungkin tidak memiliki hubungan keluarga, dan masing-masing memiliki identitas sistem imun yang sangat berbeda.

Namun, hal itu akan menjadi cerita berbeda ketika, dalam konteks cangkok ginjal, jika saya memiliki sel biologis, kromosom, atau sistem kekebalan tubuh sehingga HLA saya 80% mirip dengan HLA Anda. Anda dan saya bukan saudara kandung, tetapi bisa saja memiliki kemiripan HLA sehingga bisa cocok sebagai donor.

Begitulah gambaran tentang HLA, yang berfungsi untuk membedakan satu individu dengan individu lainnya. Untuk diketahui, sistem HLA merupakan jaringan yang kompleks, memainkan peran penting dalam respons sistem imun kita. Terletak di lengan pendek kromosom 6, sistem itu terdiri > 200 gen yang mengode protein penting untuk kompatibilitas jaringan. Anggap saja sebagai kartu identitas biologis, setiap individu memiliki serangkaian HLA yang berbeda, yang membantu sistem imun untuk mengenali sel mana yang milik kita sendiri dan mana yang bukan. Keragaman luar biasa di HLA itu bukan hanya wacana akademis, melainkan juga memiliki implikasi di dunia nyata.

Awalnya itu ditemukan melalui penelitian transplantasi organ pada awal 1970-an, yang membuat para ilmuwan menyadari betapa pentingnya pencocokan HLA untuk tingkat keberhasilan transplantasi. Ketika donor memiliki HLA yang serupa atau identik dengan penerima, terutama saudara kandung, peluang keberhasilan transplantasi ginjal melonjak hingga di atas 90%. Penemuan itu lantas mendorong kemajuan ilmu kedokteran di bidang transplantasi.

Di atas disebutkan, cangkok ginjal menjadi salah satu moda penanganan untuk penderita gagal ginjal kronis. Agar cangkoknya berhasil, donor harus memiliki tipe HLA yang cocok dengan HLA tubuh pasien, supaya ginjal donor tidak dianggap sebagai benda asing sehingga diterima sebagai bagian dari organ pasien.

Sejauh ini di Indonesia pemilihan donor untuk transplantasi ginjal lebih banyak berdasar kekerabatan. Calon donor berasal dari keluarga inti atau keluarga besar. Meskipun kadar kecocokannya relatif tinggi, jumlahnya terbatas karena hanya seputar keluarganya. Itu berbeda dengan di luar negeri, misal Tiongkok atau India, dengan calon donornya terbuka berasal dari masyarakat luas sehingga jumlahnya jauh lebih banyak, mirip donor darah.

Dengan bank data, bisa dikumpulkan data biologis para calon donor ginjal, termasuk spesifikasi HLA mereka. Dengan cara itu, penderita gagal ginjal bisa dicarikan calon donor ginjal yang kadar kecocokan HLA-nya tinggi sehingga transplantasi akan sukses.

Karena itu, sudah saatnya merintis embrio bank data ginjal dan mempromosikan donor ginjal yang bukan dari keluarga atau kerabat. Isinya berupa data medis dan biologis dari penderita gagal ginjal dan calon donor. Dengan demikian, semoga penanganan gagal ginjal kronis di Indonesia akan semakin maju dan berkembang.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya