Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Dari Balik Layar Film Ikatan Darah, Tantangan Fisik hingga Kedekatan Pemain di Meja Makan

Asha Bening Rembulan
12/3/2026 03:32
Dari Balik Layar Film Ikatan Darah, Tantangan Fisik hingga Kedekatan Pemain di Meja Makan
Para Pemain Film Ikatan Darah di acara Konferensi Pers Perilisan Cuplikan dan Poster di Plaza Senayan (11/03/2026). Ki-Ka: Rahmet Ababil, Teuku Rifnu Wikana, Derby Romero, Livi Ciananta, Ismi Melinda, Abdurrahman Arif, Agra Piliang(MI/Asha Bening Rembulan)

DI balik adegan laga yang intens dan penuh ketegangan, film Ikatan Darah menyimpan cerita menarik tentang solidaritas para pemerannya. 

Dalam acara peluncuran cuplikan dan poster di Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2026), para pemain berbagi kisah mulai dari cedera fisik hingga kegemaran mereka berburu kuliner selama proses syuting.

Tantangan Fisik dan Risiko Cedera

Bagi para aktor, membintangi film aksi bukan sekadar menghafal dialog, melainkan juga menuntut ketangkasan fisik yang mumpuni. 

Livi Ciananta, pemeran karakter Mega, mengaku harus mendalami seni bela diri silat demi peran ini.

“Kesulitan pasti ada karena di sini aku harus belajar gaya baru, yaitu silat. Untungnya aku dibantu sama Kak Ismi dan juga Tim Uwais untuk latihan aksi,” ujar Livi. 

Meski sempat mengalami cedera ringan, ia menganggap hal tersebut sebagai bagian dari proses pendalaman karakter.

Tantangan berbeda dihadapi Abdurrahman Arif atau yang akrab disapa Adul. Ia justru mengalami cedera saat sedang melakukan pemanasan sebelum mengambil adegan pengejaran. 

Akibat rasa sakit yang meningkat pada kakinya, tim produksi sempat menunda proses syuting selama tiga jam.

Kondisi cuaca juga menjadi tantangan berat. Derby Romero, pemeran Bilal, menceritakan pengalamannya terkena heat stroke saat syuting di Semarang yang saat itu bersuhu cukup panas.

“Jadi kebetulan lagi panas, terus gue pakai hoodie. Adegannya juga lari sekitar 450 sampai 500 meter. Akhirnya, berasa mual, eh kena heat stroke sampai muntah air,” tutur Derby. 

Beruntung, kehadiran tim medis yang sigap membuat kondisinya segera tertangani dengan baik.

Kekompakan di Luar Kamera

Meski menguras tenaga, proses produksi film garapan sutradara Sidharta Tata ini tergolong efisien. Efisiensi waktu ini justru mempererat hubungan antar pemain di luar set. 

Derby mengungkapkan bahwa mereka kerap menyelesaikan syuting pada sore hari, sehingga memiliki waktu luang untuk berkumpul.

“Setiap hari kita syuting selesainya sangat cepat, jam 4 atau jam 5 sore sudah selesai. Jadi, sampai di hotel kita langsung ngumpul dan pergi cari makan,” ungkap Derby.

Senada dengan Derby, Teuku Rifnu Wikana membeberkan bahwa momen kebersamaan mereka sering kali dihabiskan di salah satu tempat makan legendaris di Semarang, yaitu Restoran Sego Bancakan. 

Menu-menu lokal seperti mangut manyung, koyor, telur dadar, hingga tempe mendoan menjadi favorit para pemain.

“Kita sampai ‘Waduh, habis duit gue’ karena dipakai untuk nongkrong. Di atas tempat syuting kita ada rumah makan terenak di Semarang, namanya Bancakan,” kata Wika.

Menuju Layar Lebar

Film Ikatan Darah menjadi debut Sidharta Tata dalam mengarahkan genre aksi murni. 

Dengan dukungan koreografi dari Tim Uwais dan chemistry kuat yang terbangun di antara para pemainnya, film ini diharapkan mampu memberikan pengalaman visual yang segar bagi penonton.

Ikatan Darah dijadwalkan menyapa penonton di seluruh bioskop Indonesia mulai 30 April 2026. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya