Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Joko Anwar Hadirkan Kritik Sosial dalam Film Horor-Komedi Ghost in the Cell

Basuki Eka Purnama
24/2/2026 10:50
Joko Anwar Hadirkan Kritik Sosial dalam Film Horor-Komedi Ghost in the Cell
Sutradara Joko Anwar(ANTARA/Abdu Faisal)

SUTRADARA Joko Anwar kembali mengeksplorasi isu sosial melalui film terbarunya, Ghost in the Cell. Film ke-12 yang diproduksi oleh Come And See Pictures ini dijadwalkan menyapa penonton di bioskop Indonesia mulai 16 April mendatang.

Berbeda dari karya horor sebelumnya, kali ini, Joko Anwar memadukan elemen komedi dengan kritik sosial yang tajam melalui latar sebuah penjara. 

Dalam konferensi pers peluncuran cuplikan film di Jakarta, Senin (23/2), Joko menjelaskan bahwa pemilihan latar tersebut bukan sekadar untuk membangun suasana seram, melainkan sebagai metafora kondisi masyarakat.

"Penjara itu kan adalah miniatur dari kehidupan, dari society (masyarakat). Ada pemerintahnya, ada petugas lapas itu kan sebagai pemerintahnya, ada warga negaranya, bapak napi-napinya," ujar Joko. 

Menurutnya, dinamika antara masyarakat dan penguasa terepresentasi dengan sangat kuat di dalam sel penjara.

Dari sisi produksi, film ini mencatatkan efisiensi yang tinggi. Produser Tia Hasibuan mengungkapkan bahwa proses syuting berlangsung selama 22 hari dengan produktivitas di atas rata-rata. 

Hal ini dimungkinkan karena struktur skenario yang unik. 

"Skenario kita tuh ada 97 halaman... tapi jumlah scene (adegan)-nya itu cuma sedikit, cuma 40 scene," kata Tia.

Tia juga menyoroti teknik penyutradaraan Joko Anwar yang menantang. 

"Bang Joko banyak menggunakan long one shot, satu scene bisa 10 sampai 15 halaman, dikerjain dalam satu shot, muter-muter tuh kamera," tambahnya. 

Pendekatan ini didukung penuh oleh sinematografer Ical Tanjung yang merancang pencahayaan agar para pemain benar-benar merasakan suasana penjara sebagai "tempat bermain" mereka.

Pemeran utama, Abimana Aryasatya, mengamini bahwa suasana yang dibangun sangat nyata. 

"Penuh Mas. Kita betul-betul yang masuk ke dalam, masuk sampai ke luar. Sel kita memang sel yang berlantai dua itu, bisa dinaiki, penuh," tutur Abimana.

Selain menyoroti kondisi Lembaga Pemasyarakatan, film ini juga mengangkat isu kebebasan pers. 

Aktor muda Endy Arfian, yang memerankan karakter Dimas, menyebut perannya sebagai cerminan jurnalisme saat ini. 

"Dimas ini adalah gambaran nyata tentang risiko para jurnalis di Indonesia yang sampai saat ini masih dirasakan... bagaimana kebebasan pers itu masih dipertanyakan, ada intimidasi, ada kriminalisasi," jelas Endy.

Ghost in the Cell telah mencuri perhatian internasional setelah sukses melakukan world premiere di Festival Film Internasional Berlin (Berlinale) 2026. Berkat pencapaian tersebut, film ini kini telah diakuisisi untuk distribusi global oleh Plaion Pictures. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya