Headline
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Kumpulan Berita DPR RI
SUTRADARA Joko Anwar kembali mengeksplorasi isu sosial melalui film terbarunya, Ghost in the Cell. Film ke-12 yang diproduksi oleh Come And See Pictures ini dijadwalkan menyapa penonton di bioskop Indonesia mulai 16 April mendatang.
Berbeda dari karya horor sebelumnya, kali ini, Joko Anwar memadukan elemen komedi dengan kritik sosial yang tajam melalui latar sebuah penjara.
Dalam konferensi pers peluncuran cuplikan film di Jakarta, Senin (23/2), Joko menjelaskan bahwa pemilihan latar tersebut bukan sekadar untuk membangun suasana seram, melainkan sebagai metafora kondisi masyarakat.
"Penjara itu kan adalah miniatur dari kehidupan, dari society (masyarakat). Ada pemerintahnya, ada petugas lapas itu kan sebagai pemerintahnya, ada warga negaranya, bapak napi-napinya," ujar Joko.
Menurutnya, dinamika antara masyarakat dan penguasa terepresentasi dengan sangat kuat di dalam sel penjara.
Dari sisi produksi, film ini mencatatkan efisiensi yang tinggi. Produser Tia Hasibuan mengungkapkan bahwa proses syuting berlangsung selama 22 hari dengan produktivitas di atas rata-rata.
Hal ini dimungkinkan karena struktur skenario yang unik.
"Skenario kita tuh ada 97 halaman... tapi jumlah scene (adegan)-nya itu cuma sedikit, cuma 40 scene," kata Tia.
Tia juga menyoroti teknik penyutradaraan Joko Anwar yang menantang.
"Bang Joko banyak menggunakan long one shot, satu scene bisa 10 sampai 15 halaman, dikerjain dalam satu shot, muter-muter tuh kamera," tambahnya.
Pendekatan ini didukung penuh oleh sinematografer Ical Tanjung yang merancang pencahayaan agar para pemain benar-benar merasakan suasana penjara sebagai "tempat bermain" mereka.
Pemeran utama, Abimana Aryasatya, mengamini bahwa suasana yang dibangun sangat nyata.
"Penuh Mas. Kita betul-betul yang masuk ke dalam, masuk sampai ke luar. Sel kita memang sel yang berlantai dua itu, bisa dinaiki, penuh," tutur Abimana.
Selain menyoroti kondisi Lembaga Pemasyarakatan, film ini juga mengangkat isu kebebasan pers.
Aktor muda Endy Arfian, yang memerankan karakter Dimas, menyebut perannya sebagai cerminan jurnalisme saat ini.
"Dimas ini adalah gambaran nyata tentang risiko para jurnalis di Indonesia yang sampai saat ini masih dirasakan... bagaimana kebebasan pers itu masih dipertanyakan, ada intimidasi, ada kriminalisasi," jelas Endy.
Ghost in the Cell telah mencuri perhatian internasional setelah sukses melakukan world premiere di Festival Film Internasional Berlin (Berlinale) 2026. Berkat pencapaian tersebut, film ini kini telah diakuisisi untuk distribusi global oleh Plaion Pictures. (Ant/Z-1)
Dalam film Jangan Buang Ibu, Amanda Manopo mengungkapkan bahwa kondisi fisiknya menjadi tantangan tersendiri selama proses produksi.
Film ini berlatar pada 2100, ketika bumi dilanda krisis air bersih yang sangat parah dan mengancam kehidupan.
Aktor sekaligus produser eksekutif, Iko Uwais, menekankan pentingnya mengalihkan energi agresivitas anak muda ke ranah kreatif.
Film Ikatan Darah yang disutradarai oleh Sidharta Tata ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 30 April 2026.
Bagi Derby Romero, terlibat dalam proyek film Ikatan Darah adalah perwujudan dari impian lama.
Meskipun dikenal dengan latar belakang komedi, keterlibatan Rahmet Ababil di film Ikatan Darah disebut-sebut akan menjadi salah satu elemen paling "menonjol".
Setelah sebelumnya sukses mengarahkan serial Pertaruhan, Sidharta Tata menyebut film Ikatan Darah sebagai ambisi lama yang akhirnya mendapatkan momentum untuk diwujudkan.
Berbeda dari tema film keluarga lainnya, Rapi Film menghadirkan Tunggu Aku Sukses Nanti yang membawa tema besar pada kumpul keluarga saat Lebaran.
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Produser dan sutradara kompak menyebut telah menyiapkan universe untuk Pelangi di Mars, baik itu berupa sekuel, prekuel ataupun spin-off.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved