Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
SUTRADARA Indonesia, Joko Anwar, kembali mencatatkan prestasi di panggung internasional. Karya terbaru garapannya, yang bertajuk Ghost in the Cell mendapat sambutan antusias dari publik dalam penayangan perdana di ajang Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026.
Selama festival yang berlangsung dari 13 hingga 22 Februari 2026 tersebut, film ini dijadwalkan naik layar sebanyak empat kali.
Berdasarkan siaran pers resmi yang diterima di Jakarta, Selasa (17/2), seluruh tiket penayangan film tersebut dilaporkan terjual habis (sold out).
Antusiasme penonton di Berlin terlihat sangat dinamis. Ruang pemutaran film dipenuhi dengan reaksi yang beragam, mulai dari tawa lepas, teriakan histeris, hingga tepuk tangan meriah.
Hal ini menunjukkan bahwa elemen horor supranatural yang dipadukan dengan komedi satir dalam film tersebut berhasil menyentuh emosi penonton mancanegara.
Dalam Ghost in the Cell, Joko Anwar tidak sekadar menyajikan ketakutan visual. Ia mengeksplorasi elemen horor supranatural untuk menghadirkan tontonan yang menghibur sekaligus menggugah kesadaran.
"Kami ingin bikin film yang benar-benar menghibur. Tapi, ketika film selesai akan ada pemikiran yang nempel di kepala mereka tentang situasi hidup di Indonesia," ungkap Joko Anwar, yang bertindak sebagai penulis skenario sekaligus sutradara.
"Ini adalah film kami yang paling menghibur saat ini, tapi juga reflektif," tambahnya.
Senada dengan Joko, produser Tia Hasibuan menyampaikan bahwa meskipun cerita film ini merefleksikan dinamika sosial yang terjadi di Indonesia, pesan yang dibawa ternyata bersifat universal.
"Namun, saat melihat respons penonton dari luar Indonesia di Berlinale, ternyata horor komedi satir ini juga bisa relate dengan mereka," tutur Tia.
Ia pun berharap kesuksesan di Berlin ini menjadi modal positif saat film tersebut menyapa penonton di tanah air.
"Semoga sambutan positif ini berlanjut saat filmnya tayang di Indonesia pada 16 April 2026," tegasnya
Ghost in the Cell menjadi pembuktian konsistensi Joko Anwar setelah tahun 2025 yang gemilang.
Akhir tahun lalu, ia dianugerahi tanda kehormatan Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres dari Pemerintah Prancis atas kontribusinya di bidang kebudayaan.
Sebelumnya, film besutannya yang berjudul Pengepungan di Bukit Duri juga sukses besar dengan memborong lima Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2025 serta meraih tiga penghargaan dalam Festival Film Pilihan Tempo.
Melalui Ghost in the Cell, Joko Anwar sekali lagi mempertegas posisinya sebagai salah satu sineas Asia yang mampu mengemas isu lokal ke dalam bahasa sinematik global. (Ant/Z-1)
Aktor sekaligus produser eksekutif, Iko Uwais, menekankan pentingnya mengalihkan energi agresivitas anak muda ke ranah kreatif.
Film Ikatan Darah yang disutradarai oleh Sidharta Tata ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 30 April 2026.
Bagi Derby Romero, terlibat dalam proyek film Ikatan Darah adalah perwujudan dari impian lama.
Meskipun dikenal dengan latar belakang komedi, keterlibatan Rahmet Ababil di film Ikatan Darah disebut-sebut akan menjadi salah satu elemen paling "menonjol".
Setelah sebelumnya sukses mengarahkan serial Pertaruhan, Sidharta Tata menyebut film Ikatan Darah sebagai ambisi lama yang akhirnya mendapatkan momentum untuk diwujudkan.
Bagi para aktor, membintangi film aksi, seperti Ikatan Darah, bukan sekadar menghafal dialog, melainkan juga menuntut ketangkasan fisik yang mumpuni.
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Joko Anwar menjelaskan bahwa pemilihan latar penjara di film Ghost in the Cell bukan sekadar untuk membangun suasana seram, melainkan sebagai metafora kondisi masyarakat.
FILM karya Joko Anwar, Ghost in the Cell mendapat sambutan yang meriah saat penayangan perdana (world premiere) di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026.
Aming diperkenalkan sebagai pemeran karakter bernama Tokek, seorang narapidana dengan latar belakang yang kompleks.
Berlatar di sebuah penjara di Indonesia yang dikuasai kekerasan dan ketidakadilan, Ghost in the Cell bukan sekadar film genre yang menawarkan ketegangan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved