Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Pelangi di Mars, Film Fiksi Sains Buat Meriahkan Libur Lebaran

Iis Zatnika
15/3/2026 13:32
Pelangi di Mars, Film Fiksi Sains Buat Meriahkan Libur Lebaran
Intimate Screening Pelangi di Mars digelar Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Jumat (13/3) di Jakarta, menghadirkan Messi Gusti, pemeran Pelangi (berbaju merah) serta tim pendukung lainnya.(MI/Iis Zatnika)

Libur Lebaran kali ini, nonton yuk dengan keluarga tersayang! Salah satu film yang direkomendasikan buat dinikmati bersama keluarga adalah Pelangi di Mars yang mulai akan tayang di bioskop mulai 18 Maret 2026. 

Film ini berlatar pada 2100, ketika bumi dilanda krisis air bersih yang sangat parah dan mengancam kehidupan. Pemeran utamanya adalah Pelangi, gadis 12 tahun yang lahir dan tumbuh di Planet Mars. Ia bertualang untuk menemukan mineral langka bernama Zeolith Omega, yang diyakini mampu memurnikan air dan menjadi harapan bagi masa depan umat manusia di muka bumi. Dengan Zeolith Omega juga, Pelangi bisa kembali ke bumi.  

Setelah ditinggal wafat oleh sang ibu, Pratiwi, pelangi dibesarkan oleh robot cerdas, Batik. Petualangan Pelangi diwarnai konflik dengan robot-robot antagonis Nerotex, yang memonopoli cadangan air bersih di bumi. Nerotex juga sama-sama mencari Zeolith Omega. 

Film ini diperankan Messi Gusti yang menjadi Pelangi. Ada pula Lutesha sebagai Pratiwi, serta Rio Dewanto, hingga Bimo Kusumo sebagai pengisi suara Batik. Karakter Pratiwi terinspirasi dari sosok Pratiwi Sudarmono, astronot pertama Indonesia yang sempat diproyeksikan ikut dalam penerbangan ruang angkasa dengan Challenger pada Juni 1986.

Dalam acara Intimate Screening yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Jumat (13/3) di Jakarta, sutradara Upie Guava menjelaskan, film ini menerapkan teknologi Extended Reality (XR) yang lazom diterapkan Hollywood serta unreal engine untuk menciptakan visual Planet Mars yang realistis, serta menggabungkan live-action dengan animasi 3D. Unreal engine dipelajari Upie secara autodidak dari YouTube. Unreal engine sendiri dikenal dalam produksi video game. Namun dalam beberapa tahun terakhir teknologi ini banyak dipakai dalam industri film karena mampu menghasilkan visual secara real time. 

"Untuk di Indonesia, Pelangi di Mars adalah film pertama dengan teknologi ini. Film ini sendiri bergenre sains fiksi," kata Upie. 

Metode produksi ini semakin populer setelah digunakan dalam serial The Mandalorian. Serial tersebut menggunakan layar LED raksasa yang menampilkan lingkungan digital langsung di lokasi syuting. Dengan pendekatan ini, sutradara dapat melihat latar virtual secara langsung saat kamera merekam adegan, berbeda dengan metode green screen yang biasanya baru diproses pada tahap pascaproduksi.

Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif Agustini Rahayu menyatakan sineas Indonesia makin berani mengeksplorasi genre fiksi ilmiah yang selama ini masih relatif jarang digarap dalam perfilman nasional. 

"Industri film Indonesia sedang berada dalam momentum yang sangat baik. Tingginya jumlah penonton menunjukkan bahwa publik semakin percaya dan bangga terhadap karya film nasional sekaligus menjadi dorongan bagi pemerintah untuk terus memperkuat ekosistem perfilman Indonesia," kata Agustini. 

Untuk menjaga momentum tersebut, lanjut Agustini, pihaknya terus mendorong penguatan ekosistem industri film nasional, dengan mendorong perluasan akses pasar, penguatan promosi dan distribusi, hingga pengembangan skema pembiayaan berbasis kekayaan intelektual yang membuka peluang pendanaan dari perbankan. 

Saat pemutaran film itu, layar didominasi warna cokelat yang menggambarkan suasana planet mars. Visual yang menonjol menyerupai animasi walaupun sosok-sosok yang tampil sebagian diperankan langsung oleh para aktor dan aktris. Suasana yang terbangun adalah petualangan yang seru, dengan selingan humor dan celetukan sang robot Batik. (X-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Iis Zatnika
Berita Lainnya