Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
MOMEN libur Lebaran sering kali dimanfaatkan keluarga untuk menghabiskan waktu bersama di bioskop. Namun, orangtua diimbau untuk tidak sembarangan memilih judul film. Lembaga Sensor Film (LSF) menekankan pentingnya ketelitian orang tua dalam menyaring tontonan demi menjaga perkembangan mental anak.
Wakil Ketua LSF, Noorca M. Massardi, mengingatkan bahwa pemilihan film harus didasari pada klasifikasi usia dan nilai edukasi.
"Pertama, pilihlah film sesuai dengan klasifikasi usia anak, yaitu untuk semua umur, dan memahami alasan orang tua perlu mengajak anak untuk menonton karena untuk kepentingan pembelajaran," ujar Noorca, dikutip Rabu (18/3).
Untuk memudahkan masyarakat, Noorca menjelaskan bahwa orang tua dapat mengenali klasifikasi film melalui sistem tanda warna yang berlaku:
Selain memperhatikan warna, orangtua disarankan mempelajari deskripsi atau sinopsis film terlebih dahulu. Hal ini bertujuan meminimalkan risiko anak terpapar adegan atau aspek audio visual yang berdampak negatif terhadap tumbuh kembang mereka.
LSF menegaskan bahwa peran orangtua tidak berhenti saat tiket sudah di tangan. Pendampingan selama film berlangsung sangatlah krusial untuk memberikan pemahaman yang tepat kepada anak.
"Orangtua wajib menonton, mendampingi anaknya, supaya kalau ada pertanyaan, Ma, itu apa sih? Itu kenapa sih? Dia begitu bisa dijawab dengan bijaksana, agar jangan dia punya gambaran penampilan sendiri terhadap satu adegan, yang sebetulnya bukan itu yang dimaksudkan oleh film, tapi dia menangkapnya itu adalah sesuatu yang negatif," jelas Noorca.
Setelah lampu bioskop menyala, orangtua sebaiknya membuka ruang diskusi. Menanyakan pendapat anak serta memberikan penjelasan mengenai moralitas—mana perilaku yang baik dan mana yang buruk, menjadi langkah refleksi yang penting.
"Jangan sampai anak menganggap mencuri itu asyik juga ya, karena bisa menguntungkan dan tidak perlu bekerja," tambahnya memberi contoh.
Noorca mengingatkan bahwa anak-anak belum memiliki kontrol emosi yang stabil. Tontonan yang tidak sesuai usia dikhawatirkan memicu perilaku agresif atau pendewasaan dini yang tidak pada tempatnya.
"Pikirkanlah masa depan anak, kalau dia dewasa sebelum waktunya, kalau dia terpengaruh, nanti kan juga berdampak ke keluarga," tegasnya.
Noorca menambahkan bahwa dampak negatif dari film, seperti perilaku senang berkelahi atau memukul teman, akan sulit diperbaiki jika sudah terlanjur tertanam di memori anak.
Dengan pemilihan tontonan yang tepat, libur Lebaran tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga menjadi momentum pembelajaran yang berharga bagi buah hati. (Ant/Z-1)
Menyaksikan tontonan yang tidak sesuai klasifikasi usia merupakan ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak.
Kebersamaan bisa dilakukan oleh ayah maupun ibu, tergantung siapa yang memiliki kesempatan.
Pemerintah mengajak para orangtua untuk kembali menghadirkan waktu berkualitas di rumah melalui gerakan #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Inisiatif ini mempertegas komitmen platform dalam melibatkan orangtua secara langsung untuk menyusun kebijakan dan pengembangan Roblox di masa depan.
LSF akan melakukan penilaian terhadap film yang masuk dengan menyesuaikan klasifikasi mencakup kategori Semua Umur (SU), 13+, Dewasa 17+, dan 21+.
LEMBAGA Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI), meluncurkan laman resminya yang telah diperbarui (lsf.go.id). Kini laman resmi LSF hadir dengan deretan fitur yang lebih inklusif.
DI Twitter/X, ramai diperbincangkan tentang banyaknya sensor yang dialami oleh film Nosferatu dari sutradara Robert Eggers saat tayang di bioskop Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved