Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah kepungan gawai dan media sosial yang kian mendominasi keseharian anak dan remaja, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengambil langkah nyata.
Melalui program Safari Penguatan Karakter, pemerintah mengajak para orangtua untuk kembali menghadirkan waktu berkualitas di rumah melalui gerakan #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga.
Istri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Masmidah Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pembentukan karakter anak bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan bermula dari keterlibatan aktif keluarga. Upaya ini diwujudkan melalui Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
“Melalui Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, kita ingin membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter yang kuat,” ungkap Masmidah dalam keterangan resminya, Rabu (11/3).
Adapun tujuh kebiasaan tersebut mencakup hal mendasar: bangun pagi, beribadah, berolahraga, gemar belajar, bermasyarakat, makan sehat dan bergizi, serta tidur tepat waktu.
Kebiasaan sederhana ini diyakini menjadi fondasi vital bagi kesehatan fisik dan mental generasi mendatang.
Gerakan ini bukan tanpa alasan. Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami, memaparkan data mengkhawatirkan terkait ketergantungan remaja terhadap perangkat digital.
“Sekitar 31,4% remaja di Jakarta mengalami kecanduan internet, 7 dari 10 remaja putri kecanduan media sosial, dan 9 dari 10 remaja putra kecanduan gim daring,” jelas Rusprita.
Menurutnya, peran keluarga menjadi sentral untuk mengimbangi dampak negatif tersebut. Orangtua didorong untuk menyisihkan minimal satu jam setiap hari tanpa gangguan perangkat digital untuk melakukan aktivitas bermakna seperti berbincang, membacakan dongeng, atau bermain bersama.
Dalam kegiatan safari yang berlangsung serentak di Banten, Sulawesi Tengah, dan Kepulauan Bangka Belitung ini, aktivitas mendongeng menjadi sorotan utama.
Bekerja sama dengan Kampung Dongeng Indonesia, anak-anak diajak menyelami nilai-nilai kejujuran dan kebaikan melalui cara yang menyenangkan.
Masmidah mengapresiasi para orangtua yang terlibat langsung dalam sesi bercerita tersebut.
Menurutnya, komunikasi dua arah melalui dongeng adalah kunci hubungan harmonis.
“Kedekatan antara orang tua dan anak melalui kegiatan bercerita serta komunikasi yang baik menjadi kunci terciptanya hubungan yang harmonis di dalam keluarga,” tuturnya.
Selain mendongeng, acara ini juga diisi dengan pemutaran film pendek Benih Kejujuran" permainan edukatif berbasis kearifan lokal, hingga refleksi melalui penulisan esai.
Dengan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, Kemendikdasmen berharap ekosistem pendidikan Indonesia dapat melahirkan generasi yang bahagia, merasa dicintai, dan memiliki karakter yang tangguh. (Z-1)
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Psikolog Rose Mini ingatkan orang tua untuk jadi contoh kurangi gawai. Tanpa keteladanan, aturan pembatasan akses digital anak tidak akan efektif.
Remaja masa kini sulit lepas dari ponsel, bahkan di pesta ulang tahun. Simak ide pesta nostalgia tanpa layar yang bisa membuat mereka kembali menikmati kebersamaan.
Ketika anak mengalami kecemasan saat dijauhkan dari gawainya, itu menjadi salah satu gejala adiksi atau kecanduan.
Psikolog ingatkan bahaya algoritma media sosial yang picu ketergantungan dan perilaku konsumtif pada remaja. Simak cara mengatasinya di sini.
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Psikolog UI Prof. Rose Mini dan Alva Paramitha menyarankan orangtua kreatif berikan alternatif kegiatan nyata untuk kurangi ketergantungan gawai anak.
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved