Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Redam Emosi Saat Mengasuh Anak, Psikolog: Kenali Sinyal HALT dan Berani Ambil Jeda

Basuki Eka Purnama
27/2/2026 11:15
Redam Emosi Saat Mengasuh Anak, Psikolog: Kenali Sinyal HALT dan Berani Ambil Jeda
Ilustrasi(Freepik)

MENJAGA stabilitas emosi saat menghadapi perilaku anak bukanlah perkara mudah bagi orangtua, terlebih di tengah tekanan aktivitas sehari-hari. 

Psikolog Klinis Remaja dan Dewasa, Nena Mawar Sari, membagikan kiat penting bagi orangtua agar dapat meregulasi emosi dengan baik, yakni dengan berani mengambil jeda dan menyadari kondisi emosi yang sedang dirasakan.

Menurut Nena, ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil. Ia memperkenalkan konsep HALT (Hungry, Angry, Lonely, Tired) sebagai indikator utama pemicu sensitivitas emosional.

"Biasanya dalam kondisi lapar, marah, kesepian kemudian kita merasa capek, emosi kita jadi mudah terpancing. Nah caranya adalah dengan berjeda dan tetap menyadari emosi kita itu bentuknya yang mana," ujar Nena saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (27/2).

Kondisi ini menjadi lebih menantang saat orangtua sedang menjalankan ibadah puasa. Penurunan kadar gula darah yang memicu rasa lemas, ditambah kesibukan mempersiapkan keperluan rumah tangga, sering kali menguras energi hingga ke titik terendah.

"Kita harus menahanlah emosi, emosional kita, belum lagi sibuk masak dan energi kita habis," jelasnya lebih lanjut.

Pentingnya Mengambil Jeda

Nena menekankan bahwa kesadaran diri (self-awareness) adalah kunci utama. Dengan menyadari bahwa diri sedang berada dalam kondisi HALT, orangtua diharapkan dapat mengambil tindakan preventif berupa jeda sejenak. 

Langkah ini krusial untuk mencegah tindakan impulsif yang berpotensi menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Alih-alih memaksakan diri yang justru berisiko meluapkan amarah pada anak, orangtua disarankan untuk berkomunikasi secara jujur mengenai kondisinya.

"Jadi nggak apa-apa untuk mengatakan mama sedang capek, bisa nggak kita ngobrolnya nanti atau misalnya lihat gambarnya ya pada saat sudah istirahat dan lain sebagainya sehingga kita bisa menghindari tindakan impulsif," kata Nena.

Dukungan Emosional dan Pembagian Peran

Selain regulasi diri, faktor eksternal seperti dukungan emosional dari lingkungan terdekat juga memegang peranan vital. Nena menggarisbawahi pentingnya berbagi peran dalam pengasuhan agar beban tersebut tidak hanya tertumpu pada sosok ibu.

Dialog terbuka dengan pasangan menjadi solusi untuk mengurangi hambatan serta menyelesaikan persoalan rumah tangga. 

Hal ini termasuk membicarakan pembagian peran yang mungkin dirasa belum seimbang, guna menghadirkan jalan tengah yang tepat bagi kedua belah pihak.

Sebagai penutup, Nena mengingatkan bahwa keharmonisan keluarga merupakan tanggung jawab kolektif. 

"Jadi setiap anggota keluarga hendaknya punya peran yang sama dan setara sesuai dengan kapasitasnya masing-masing," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya