Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Strategi Orangtua Mencegah Anak Kecanduan Gawai Saat Libur Sekolah

Basuki Eka Purnama
20/3/2026 10:20
Strategi Orangtua Mencegah Anak Kecanduan Gawai Saat Libur Sekolah
Ilustrasi(Freepik)

MASA libur sekolah sering kali menjadi tantangan bagi orangtua dalam mengawasi durasi penggunaan perangkat elektronik atau gawai pada anak. Psikiater Subspesialis Psikiatri Adiksi, Dr. dr. Kristiana Siste Kurniasanti, SpKJ(K), menekankan pentingnya peran orangtua dalam menetapkan batasan yang jelas agar penggunaan teknologi tidak menjadi berlebihan.

Menurut Kepala Departemen Psikiatri RSCM tersebut, kunci utama keberhasilan aturan ini bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.

Menetapkan Aturan Ruang dan Waktu

Kristiana menyarankan agar penggunaan gawai dilakukan di area terbuka tempat interaksi sosial masih bisa terjalin. Ia melarang penggunaan perangkat di meja makan atau saat anak menyendiri di dalam kamar.

“Harus ada aturan di rumah. Anak tidak boleh di meja makan di kamar sendirian bermain gadget. Jadi mainnya itu harus di ruang keluarga yang terbuka, misalnya ruang tamu bersama-sama,” ujar Kristiana dalam wawancara eksklusif di Jakarta.

Selain lokasi, pengaturan waktu yang disiplin menjadi fondasi penting. 

Beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan antara lain:

  • Mematikan Notifikasi: Menonaktifkan suara pemberitahuan untuk mengurangi distraksi dan keinginan terus-menerus membuka layar.
  • Zona Bebas Gadget: Memastikan laptop atau ponsel tidak dibawa ke kamar tidur.
  • Jam Malam Digital: Menentukan waktu khusus untuk mengumpulkan semua perangkat keluarga, misalnya pada pukul 20.00 atau 21.00 malam.

Batasan Durasi Bermain Gim dan Media Sosial

Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, Kristiana menyebutkan bahwa durasi bermain gim sebaiknya tidak melebihi tiga jam dalam sehari. 

Penggunaan pengingat waktu (timer) sangat disarankan, baik untuk gim maupun media sosial, dan aturan ini harus ditaati oleh seluruh anggota keluarga tanpa terkecuali.

Terkait fenomena bermain gim daring bersama teman atau mabar yang sering membuat anak sulit berhenti karena tekanan sosial, Kristiana memberikan solusi taktis. Orangtua bisa membatasi berdasarkan jumlah sesi permainan.

“Jadi misalnya Mobile Legends satu sesi itu kan kalau yang jago 20 menit. Kita batesin aja ‘kamu boleh cuma boleh dua sesi, kan udah 40 menit, enggak apa-apa ikutan temen’, habis itu ajak kegiatan lainnya. Orang tua juga harus kreatif,” tuturnya.

Menghadapi Tantrum dengan Tenang

Salah satu kendala yang sering dihadapi orangtua adalah reaksi emosional atau tantrum saat akses gawai dibatasi. Dalam hal ini, Kristiana mengingatkan agar orangtua tetap tenang dan tidak langsung menyerah pada keinginan anak.

Ia menjelaskan bahwa tantrum sering kali merupakan bentuk mencari perhatian (attention seeking). Jika orangtua menunjukkan kepanikan, anak justru akan merasa mendapatkan respons yang diinginkan.

“Biasanya 2 jam juga dia berhenti. Tantrum biarin aja marah-marah, itu kan seeking attention, cari perhatian. Orang tua semakin panik, anak itu semakin seneng,” pungkasnya.

Dengan kombinasi antara aturan yang konsisten, kreativitas dalam menyediakan aktivitas alternatif, dan keteladanan dari orang tua, risiko kecanduan gawai pada anak selama masa liburan dapat ditekan secara efektif. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya