Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Peran Keluarga Jadi Kunci Efektivitas Pembatasan Gawai pada Anak

Basuki Eka Purnama
19/3/2026 17:55
Peran Keluarga Jadi Kunci Efektivitas Pembatasan Gawai pada Anak
Ilustrasi(Freepik)

UPAYA pemerintah membatasi akses digital bagi anak di bawah usia 16 tahun melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 mendapat apresiasi dari pakar. Namun, regulasi tersebut dinilai tidak akan maksimal tanpa keterlibatan aktif keluarga sebagai lingkungan terdekat anak.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim M.Psi, menekankan bahwa tanggung jawab utama dalam mengontrol penggunaan gawai tetap berada di tangan orang tua. 

Menurut psikolog yang akrab disapa Romi ini, pembatasan tanpa menghadirkan aktivitas pengganti hanya akan memicu resistensi pada anak.

“Tapi tetap saja tanggung jawab dalam hal ini (membatasi penggunaan gawai) ada juga di dalam orang-orang terdekat anak yaitu keluarga,” ujar Prof. Romi, dikutip Kamis (19/3).

Menghadirkan Program Pengganti

Prof. Romi menyadari dinamika keluarga saat ini cukup menantang, terutama bagi orang tua yang keduanya bekerja. 

Meski waktu pengawasan terbatas, ia menyarankan agar keluarga menyusun program atau kegiatan kecil yang menarik agar anak tidak merasa tertekan saat diminta melepaskan gawainya.

Penerapan aturan ini bisa dilakukan secara fleksibel, baik oleh ayah, ibu, maupun keduanya. Bahkan, tugas pendampingan bisa didelegasikan kepada pengasuh atau orang kepercayaan, asalkan tetap menjalankan program yang telah disusun orang tua.

“Pada waktu ada orang yang menjaga anak kita, kita dari awal sudah bikin program. Misalnya dibuat tebak-tebakan atau apa atau membuat suatu proyek bersama kakak dan adik. Program ini harus dibuat sedemikian rupa supaya anak tertarik,” imbuhnya.

Pentingnya Keterlibatan Emosional

Ia memperingatkan bahwa memutus akses gawai tanpa memberikan alternatif aktivitas yang seru akan membuat anak bingung dan frustrasi. 

Orangtua didorong untuk menciptakan proyek sederhana di rumah, seperti membuat karya tulis atau pengamatan alam di sekitar rumah untuk memicu rasa ingin tahu.

Lebih dari sekadar kehadiran fisik, Prof. Romi menggarisbawahi pentingnya keterlibatan emosional (involvement). Kehadiran orang tua yang pasif tidak akan memberikan stimulasi yang dibutuhkan anak.

“Orangtua berada dekat anak tapi tidak ikut *involve* (terlibat), itu pasti akan membuat anak enggak nyaman. Jangan hanya duduk secara fisik, tetapi juga memberikan stimulasi tertentu. Itu akan jadi menantang juga untuk anak,” jelasnya.

Stimulasi Langsung vs Virtual

Meskipun gawai bisa digunakan untuk menambah pengetahuan di bawah pengawasan, Prof. Romi menegaskan bahwa interaksi langsung jauh lebih unggul untuk tumbuh kembang anak usia dini, terutama dalam menstimulasi motorik halus, kognitif, dan kemampuan emosional.

Langkah ini sejalan dengan kampanye #SatuJamBerkualitas yang diusung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yang mengajak keluarga menyediakan waktu khusus tanpa gangguan teknologi guna membangun kedekatan emosional yang lebih kuat. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik