Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGATUR penggunaan gawai pada remaja usia SMA sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Menanggapi fenomena itu, Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, menyarankan agar orangtua menerapkan pendekatan yang lebih efektif melalui pembatasan berbasis fungsi dan waktu, bukan melalui tekanan emosional atau hukuman.
Kasandra, dikutip Senin (9/2), menjelaskan bahwa kunci keberhasilan aturan ini terletak pada kesepakatan yang transparan.
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan. Dalam hal fungsi, remaja sebaiknya diberikan kebebasan menggunakan gawai untuk menyelesaikan tugas sekolah dan komunikasi sosial pada jam-jam tertentu.
Namun, pembatasan ketat tetap perlu diberlakukan dalam konteks waktu. Kasandra menyarankan agar ada waktu-waktu terlarang bagi ponsel, seperti saat jam makan, jam belajar, dan sebelum tidur.
"Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibanding larangan keras, karena remaja merasa dipercaya sekaligus diarahkan," ujar Kasandra.
Dalam praktiknya, orangtua dan anak dapat membuat kesepakatan tertulis mengenai batas waktu layar (screen time). Idealnya, durasi maksimal untuk hiburan digital adalah dua hingga tiga jam per hari.
Kasandra menekankan pentingnya bagi orang tua untuk menjelaskan alasan di balik aturan tersebut daripada hanya bersikap otoriter dengan kata "pokoknya".
Lebih lanjut, ia menyoroti peran orangtua sebagai teladan. Mengingat remaja sangat sensitif terhadap ketidakkonsistenan, orangtua wajib mencontohkan perilaku yang sama dengan tidak menggunakan ponsel pada waktu yang telah disepakati bersama.
Meski remaja SMA mulai mencari identitas dan kemandirian, secara biologis mereka masih memerlukan arahan.
Kasandra menjelaskan bahwa secara neurologis, kontrol impuls dan kemampuan pengambilan keputusan pada usia ini belum matang.
Bagian otak prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan pertimbangan risiko masih terus berkembang hingga awal usia 20-an.
Kondisi inilah yang membuat remaja tetap rentan terhadap distraksi, penggunaan gawai berlebihan, hingga ketergantungan digital.
Oleh karena itu, pendampingan dari orang dewasa tetap menjadi sebuah keharusan, namun dengan cara yang lebih menyesuaikan kedewasaan mereka.
"Pembatasan bukan berarti larangan total, melainkan kerangka aturan yang melatih regulasi diri. Orangtua berperan sebagai pemandu, bukan pengawas mutlak," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Pihak sekolah perlu menerapkan pendekatan yang bersifat edukatif dan kontekstual agar kebijakan pembatasan gawai tidak dipandang negatif oleh peserta didik.
TREN warna personal (personal color) semakin populer di kalangan gen Z sebagai cara mengekspresikan gaya. Kini preferensi warna tersebut juga bisa diterapkan pada gadget (gawai).
Meski waktu ideal bermain gawai untuk kebutuhan hiburan maksimal dua jam per hari, kenyataannya banyak anak dan remaja tetap mencari celah untuk melanggarnya.
Hands-on play melatih kemampuan memecahkan masalah, mengasah fokus, dan memicu imajinasi, hal-hal yang sering terabaikan saat melakukan screen time berlebihan.
Lingkungan yang mendukung untuk interaksi hangat yang dimaksud ialah saat interaksi berlangsung, orangtua tidak memberikan tekanan bahwa anak harus bercerita tentang kehidupannya.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved