Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Pendekatan Berbasis Fungsi: Kunci Mengatur Waktu Layar Remaja

Basuki Eka Purnama
09/2/2026 16:20
Pendekatan Berbasis Fungsi: Kunci Mengatur Waktu Layar Remaja
Ilustrasi(Freepik)

MENGATUR penggunaan gawai pada remaja usia SMA sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Menanggapi fenomena itu, Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, menyarankan agar orangtua menerapkan pendekatan yang lebih efektif melalui pembatasan berbasis fungsi dan waktu, bukan melalui tekanan emosional atau hukuman.

Kasandra, dikutip Senin (9/2), menjelaskan bahwa kunci keberhasilan aturan ini terletak pada kesepakatan yang transparan. 

Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan. Dalam hal fungsi, remaja sebaiknya diberikan kebebasan menggunakan gawai untuk menyelesaikan tugas sekolah dan komunikasi sosial pada jam-jam tertentu.

Namun, pembatasan ketat tetap perlu diberlakukan dalam konteks waktu. Kasandra menyarankan agar ada waktu-waktu terlarang bagi ponsel, seperti saat jam makan, jam belajar, dan sebelum tidur.

"Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibanding larangan keras, karena remaja merasa dipercaya sekaligus diarahkan," ujar Kasandra.

Melatih Regulasi Diri

Dalam praktiknya, orangtua dan anak dapat membuat kesepakatan tertulis mengenai batas waktu layar (screen time). Idealnya, durasi maksimal untuk hiburan digital adalah dua hingga tiga jam per hari. 

Kasandra menekankan pentingnya bagi orang tua untuk menjelaskan alasan di balik aturan tersebut daripada hanya bersikap otoriter dengan kata "pokoknya".

Lebih lanjut, ia menyoroti peran orangtua sebagai teladan. Mengingat remaja sangat sensitif terhadap ketidakkonsistenan, orangtua wajib mencontohkan perilaku yang sama dengan tidak menggunakan ponsel pada waktu yang telah disepakati bersama.

Alasan Biologis di Balik Pendampingan

Meski remaja SMA mulai mencari identitas dan kemandirian, secara biologis mereka masih memerlukan arahan. 

Kasandra menjelaskan bahwa secara neurologis, kontrol impuls dan kemampuan pengambilan keputusan pada usia ini belum matang. 

Bagian otak prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan pertimbangan risiko masih terus berkembang hingga awal usia 20-an.

Kondisi inilah yang membuat remaja tetap rentan terhadap distraksi, penggunaan gawai berlebihan, hingga ketergantungan digital. 

Oleh karena itu, pendampingan dari orang dewasa tetap menjadi sebuah keharusan, namun dengan cara yang lebih menyesuaikan kedewasaan mereka.

"Pembatasan bukan berarti larangan total, melainkan kerangka aturan yang melatih regulasi diri. Orangtua berperan sebagai pemandu, bukan pengawas mutlak," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya