Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBATASAN dan aturan penggunaan gawai pada remaja usia SMA sering kali dianggap sebagai bentuk pengekangan. Namun, Psikolog Klinis Virginia Hanny, M.Psi., menegaskan bahwa langkah tersebut sebenarnya bertujuan untuk membantu remaja belajar mengatur kebiasaan digital secara sehat.
Menurut Virginia, pendekatan yang paling tepat bagi remaja bukanlah pelarangan total, melainkan pendampingan yang seimbang.
"Yang dibutuhkan bukan larangan total melainkan pendampingan dan pengaturan yang seimbang," ujar Virginia, dikutip Selasa (10/2).
Meskipun remaja SMA mulai menunjukkan kemandirian, pendampingan dalam penggunaan ponsel tetap krusial.
Secara biologis, perkembangan otak remaja masih membutuhkan arahan orang dewasa untuk melatih kemampuan mengatur diri, menahan keinginan, dan mengambil keputusan yang matang.
Virginia memperingatkan bahwa larangan total justru membawa risiko negatif. Anak yang dilarang menggunakan gawai sepenuhnya berpotensi tertinggal informasi, sulit beradaptasi dalam pergaulan, hingga kurang memiliki keterampilan digital yang dibutuhkan di masa depan.
Agar aturan dapat berjalan efektif, orangtua perlu menerapkan pola asuh yang masuk akal dan kolaboratif.
Virginia menyarankan agar orang tua menetapkan waktu bebas ponsel, seperti saat makan bersama atau sebelum tidur. Selain itu, penting untuk membedakan durasi penggunaan ponsel untuk keperluan pendidikan dan hiburan.
Poin utamanya adalah melibatkan anak dalam pembentukan aturan tersebut.
"Pendekatan seperti ini dapat membuat remaja lebih kooperatif dan lebih mau mematuhi aturan, daripada peraturan itu hanya datang dari kita sendiri dan kita hanya menginstruksikan anak untuk mengikutinya tanpa penjelasan," jelasnya.
Komunikasi yang sehat harus mengedepankan transparansi dan rasa saling menghargai. Orangtua diharapkan memberikan alasan logis di balik setiap aturan dan membangun kepercayaan tanpa sikap posesif, seperti menghindari kebiasaan memeriksa ponsel anak tanpa izin.
Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang hangat namun tegas akan membentuk remaja yang lebih terbuka, sehat secara emosional, dan bertanggung jawab.
Tidak hanya di rumah, pembatasan ponsel di sekolah juga dinilai efektif meningkatkan fokus dan interaksi sosial jika diterapkan secara adil. Virginia menekankan bahwa aturan di sekolah sebaiknya tidak diposisikan sebagai hukuman.
Sebagai contoh, ponsel dapat disimpan selama jam pelajaran berlangsung, namun siswa tetap diizinkan mengaksesnya saat istirahat untuk kebutuhan mendesak.
Di sisi lain, sekolah juga perlu menyediakan aktivitas alternatif yang menarik agar siswa tidak merasa jenuh.
Dengan menciptakan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata, proses belajar siswa diharapkan dapat berjalan lebih lancar sekaligus mendukung kesejahteraan emosional mereka di masa transisi menuju dewasa. (Ant/Z-1)
Sepeda motor hasil rampokan tersebut sempat dipasarkan melalui media sosial (marketplace) sebelum akhirnya berhasil disita polisi sebagai barang bukti.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
Fenomena keinginan bunuh diri pada remaja tidak dipicu oleh penyebab tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang kompleks.
Upaya pencegahan bunuh diri pada remaja dinilai perlu dimulai dari penguatan “jaring pengaman” di lingkungan terdekat, terutama sekolah dan keluarga.
Pihak sekolah perlu menerapkan pendekatan yang bersifat edukatif dan kontekstual agar kebijakan pembatasan gawai tidak dipandang negatif oleh peserta didik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved