Headline
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMPERINGATI Hari Internet Aman Sedunia, 10 Februari lalu, Meta, melalui platform Facebook dan Instagram, membagikan panduan strategis bagi orangtua dalam menjaga keamanan remaja di ruang digital.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
Dalam siaran persnya, raksasa teknologi ini menggarisbawahi pentingnya kombinasi antara pemanfaatan fitur keamanan bawaan dan komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak.
"Aktivitas remaja Anda di media sosial kini sudah dilengkapi perlindungan bawaan, mulai dari siapa yang bisa menghubungi mereka, konten apa yang mereka lihat, hingga bagaimana mereka menghabiskan waktu dengan gawai dan internet," tulis Meta.
1. Bangun Ketertarikan pada Dunia Mereka
Langkah pertama dimulai dengan sikap proaktif namun santai. Orangtua disarankan untuk tetap "kepo" atau menaruh minat pada apa yang disukai remaja di internet, mulai dari komunitas hingga hobi baru.
Diskusi terbuka mengenai hal-hal yang mereka sukai akan membuat remaja lebih nyaman untuk bercerita mengenai aktivitas daring mereka tanpa merasa dihakimi.
2. Komunikasi Dua Arah yang Hangat
Membangun kepercayaan adalah fondasi utama. Meta menyarankan orangtua untuk berdiskusi dari hati ke hati mengenai etika berinternet, seperti cara merespons pesan dari orang asing hingga kapan waktu yang tepat untuk beristirahat dari media sosial.
Percakapan jujur ini membantu anak memahami batasan tanpa merasa diawasi secara ketat.
3. Optimalkan Fitur Perlindungan Otomatis
Bagi pengguna di bawah 18 tahun, Meta telah menyediakan fitur Akun Remaja yang aktif secara otomatis. Fitur ini memiliki proteksi berlapis:
4. Manajemen Waktu Layar (Screen Time)
Kesehatan mental remaja sangat bergantung pada durasi penggunaan gawai. Meta menyediakan fitur pengingat istirahat setiap 60 menit dan Mode Tidur yang aktif otomatis pukul 22.00 hingga 07.00.
Selama mode ini, notifikasi akan dimatikan dan balasan otomatis akan dikirimkan. Orang tua juga dapat menggunakan fitur pengawasan untuk memblokir akses pada jam-jam krusial, seperti waktu belajar atau makan bersama.
5. Jaga Relevansi Diskusi
Kebutuhan perlindungan anak usia 13 tahun tentu berbeda dengan usia 16 tahun. Orangtua didorong untuk terus memperbarui pengetahuan mereka melalui Family Center Education Hub.
Meta mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat, namun figur orangtua tetaplah yang utama.
"Pengaruh yang paling kuat tetaplah diri Anda sendiri sebagai orang tua. Terus ajak remaja Anda ngobrol, tetap kepo dengan dunia mereka, dan jadilah orang pertama yang mereka datangi saat ada sesuatu yang membuat mereka merasa tidak nyaman di internet," tutup Meta. (Ant/Z-1)
KETUA DPR RI Puan Maharani mengaku mendukung Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) soal aturan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Berbagai elemen masyarakat sipil, praktisi pendidikan, dan perwakilan legislatif menyerukan peninjauan ulang yang mendalam terhadap rencana implementasi PP Tunas.
Masifkan Sosialisasi, Kuatkan Literasi Digital dan Penggunaan Internet Sehat
Kasus ini bermula dari rapuhnya harmonisasi komunikasi di ruang digital
Melalui platform seperti YouTube dan Instagram, Endar Yuliwanto tidak hanya membagikan rutinitas harian seorang pegawai, tetapi juga membedah perspektif mendalam mengenai kewirausahaan.
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mengatakan Permenkomdigi 9/2026 merupakan langkah yang konkret Perlindungan anak di ruang digital.
Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua mengenai risiko campak pada anak.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved