Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Lindungi Anak dari Fatalitas Campak, Vaksinasi Jadi Kunci Utama

Basuki Eka Purnama
10/3/2026 17:06
Lindungi Anak dari Fatalitas Campak, Vaksinasi Jadi Kunci Utama
Ilustrasi(Freepik)

TREN peningkatan kasus campak di Indonesia kembali mencapai titik yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga minggu ketujuh 2026, tercatat lebih dari 8.224 kasus suspek campak, dengan 572 kasus terkonfirmasi dan 4 kematian. 

Situasi ini menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia dalam hal Kejadian Luar Biasa (KLB) campak menurut catatan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua. 

Campak atau measles bukan sekadar penyakit ruam biasa; ini adalah infeksi virus melalui saluran napas yang sangat menular melalui *droplets* atau percikan liur saat penderita batuk dan bersin.

Risiko Komplikasi Berat

Daya tular campak tergolong sangat tinggi, bahkan virusnya mampu bertahan di udara selama dua jam dalam ruang tertutup. Bahaya utama campak terletak pada kemampuannya melumpuhkan sistem imun anak, yang kemudian membuka pintu bagi komplikasi fatal.

Beberapa komplikasi yang sering menjadi penyebab kematian antara lain pneumonia (radang paru), ensefalitis (radang otak) yang memicu kejang atau penurunan kesadaran, hingga diare berat yang berujung pada dehidrasi. 

Selain itu, campak dapat menyebabkan acute disseminated encephalomyelitis (ADEM), sebuah peradangan saraf tulang belakang yang bisa memicu kelumpuhan mendadak.

Vaksinasi sebagai Proteksi Tunggal

Hingga saat ini, belum ditemukan obat antivirus khusus untuk mengatasi campak. Penanganan yang ada hanya bersifat suportif, seperti istirahat cukup, asupan cairan, dan pemberian vitamin A dosis tinggi sesuai rekomendasi dokter. 

Oleh karena itu, vaksinasi menjadi satu-satunya cara efektif untuk mencegah penularan.

Sesuai rekomendasi IDAI, jadwal vaksinasi MR (measles rubella) bagi anak adalah sebagai berikut:

  • Dosis pertama: Usia 9 bulan.
  • Dosis kedua: Usia 15-18 bulan.
  • Dosis ketiga: Usia 5-7 tahun.

Jika anak telah melewati usia 12 bulan namun belum mendapat vaksin MR, dokter menyarankan pemberian vaksin MR/MMR dengan interval dosis kedua enam bulan kemudian.

Membangun Kekebalan Kelompok

Penurunan cakupan imunisasi akibat penolakan vaksin berdampak langsung pada peningkatan kasus. Padahal, satu anak yang tidak divaksin dapat menulari hampir semua orang di sekitarnya yang belum memiliki kekebalan.

Kelompok yang paling rentan adalah bayi di bawah usia 9 bulan karena mereka belum cukup umur untuk menerima vaksin. 

Perlindungan bagi mereka sangat bergantung pada herd immunity atau kekebalan kelompok di lingkungan sekitarnya. Dengan memastikan cakupan vaksinasi tetap tinggi, masyarakat dapat memutus rantai penyebaran virus dan melindungi generasi penerus dari risiko fatalitas campak. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya