Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
TREN peningkatan kasus campak di Indonesia kembali mencapai titik yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga minggu ketujuh 2026, tercatat lebih dari 8.224 kasus suspek campak, dengan 572 kasus terkonfirmasi dan 4 kematian.
Situasi ini menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia dalam hal Kejadian Luar Biasa (KLB) campak menurut catatan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua.
Campak atau measles bukan sekadar penyakit ruam biasa; ini adalah infeksi virus melalui saluran napas yang sangat menular melalui *droplets* atau percikan liur saat penderita batuk dan bersin.
Daya tular campak tergolong sangat tinggi, bahkan virusnya mampu bertahan di udara selama dua jam dalam ruang tertutup. Bahaya utama campak terletak pada kemampuannya melumpuhkan sistem imun anak, yang kemudian membuka pintu bagi komplikasi fatal.
Beberapa komplikasi yang sering menjadi penyebab kematian antara lain pneumonia (radang paru), ensefalitis (radang otak) yang memicu kejang atau penurunan kesadaran, hingga diare berat yang berujung pada dehidrasi.
Selain itu, campak dapat menyebabkan acute disseminated encephalomyelitis (ADEM), sebuah peradangan saraf tulang belakang yang bisa memicu kelumpuhan mendadak.
Hingga saat ini, belum ditemukan obat antivirus khusus untuk mengatasi campak. Penanganan yang ada hanya bersifat suportif, seperti istirahat cukup, asupan cairan, dan pemberian vitamin A dosis tinggi sesuai rekomendasi dokter.
Oleh karena itu, vaksinasi menjadi satu-satunya cara efektif untuk mencegah penularan.
Sesuai rekomendasi IDAI, jadwal vaksinasi MR (measles rubella) bagi anak adalah sebagai berikut:
Jika anak telah melewati usia 12 bulan namun belum mendapat vaksin MR, dokter menyarankan pemberian vaksin MR/MMR dengan interval dosis kedua enam bulan kemudian.
Penurunan cakupan imunisasi akibat penolakan vaksin berdampak langsung pada peningkatan kasus. Padahal, satu anak yang tidak divaksin dapat menulari hampir semua orang di sekitarnya yang belum memiliki kekebalan.
Kelompok yang paling rentan adalah bayi di bawah usia 9 bulan karena mereka belum cukup umur untuk menerima vaksin.
Perlindungan bagi mereka sangat bergantung pada herd immunity atau kekebalan kelompok di lingkungan sekitarnya. Dengan memastikan cakupan vaksinasi tetap tinggi, masyarakat dapat memutus rantai penyebaran virus dan melindungi generasi penerus dari risiko fatalitas campak. (Z-1)
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat melaporkan peningkatan signifikan dalam jumlah kasus campak (measles) pada awal tahun 2026.
Malaria masih menjadi masalah kesehatan global yang kompleks akibat imunitas parsial, pembawa asimtomatik, dan resistensi insektisida.
Penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan penyakit yang kerap muncul akibat meningkatnya populasi kuman di musim hujan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved