Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMASUKI musim penghujan, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman berbagai penyakit infeksi.
Penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan penyakit yang kerap muncul akibat meningkatnya populasi kuman di lingkungan yang lembap dan terpapar banjir.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. IPT(K), menekankan bahwa langkah preventif jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan.
"Lebih baik kita mencegah penyakit infeksi di musim hujan ini dengan cara, yang pertama pola hidup bersih, sehat," ujar Prof. Anggraini dalam webinar bertajuk Mewaspadai Penyakit Anak di Musim Hujan dan Banjir bersama IDAI, dikutip Jumat (6/2).
Selain faktor kebersihan, Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran ini juga menyoroti pentingnya menjaga daya tahan tubuh melalui asupan nutrisi dan proteksi medis.
"Lindungi diri kita dengan makan makanan yang baik, kemudian juga lengkapi dengan imunisasi," tambahnya.
Prof. Anggraini menjelaskan bahwa kondisi lingkungan saat musim hujan cenderung memudahkan bakteri, virus, hingga parasit untuk berkembang biak.
"Bakteri, virus, parasit, itu menjadi juga berlimpah ruah di musim hujan," ungkapnya.
Kontaminasi kuman pada sumber air dan makanan sering kali menjadi pemicu utama gangguan pencernaan, mulai dari diare hingga infeksi berat. Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak abai dalam mengolah makanan.
"Biasanya males kita beli makanan atau memanaskan makanannya dengan kurang baik, makan makanan basi, diolah kurang bersih, di musim penghujan ini akan lebih cepat menjadikan suatu keluhan diare atau nyeri perut, berupa mual, muntah, diare," jelasnya.
Selain diare akut, terdapat beberapa penyakit serius lainnya yang patut diwaspadai:
Sebagai penutup, Prof. Anggraini kembali mengingatkan bahwa risiko penularan dapat ditekan secara signifikan dengan konsistensi menjaga kebersihan diri, memastikan keamanan pangan, serta rutin berolahraga guna menjaga kebugaran tubuh. (Ant/Z-1)
Narasi-narasi menyesatkan di media sosial menjadi salah satu pemicu utama keengganan orangtua untuk memberikan vaksinasi kepada anak mereka.
Vaksinolog dan internis sekaligus Chief Medical Advisor Imuni, dr. Dirga Sakti Rambe, mengatakan bahwa vaksin tidak melulu hanya diberikan untuk anak-anak.
Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua mengenai risiko campak pada anak.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat melaporkan peningkatan signifikan dalam jumlah kasus campak (measles) pada awal tahun 2026.
Penderita diabetes umumnya menunjukkan empat gejala utama yang saling berkaitan, atau yang sering disebut sebagai gejala klasik 4P.
Stimulasi 40Hz setiap hari mampu menjaga fungsi kognitif pasien, bahkan menurunkan biomarker utama penyakit Alzheimer.
Memasuki tahun 2026, data menunjukkan pergeseran tren medis yang mengkhawatirkan: lonjakan signifikan kasus diabetes tipe 2 pada kelompok usia 20 hingga 30 tahun (Gen Z).
Perkembangan janin yang tidak sempurna hingga memicu PJB dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko dari sisi kesehatan orang tua maupun lingkungan.
Stroke yang dipicu oleh fibrilasi atrium cenderung lebih berat dibandingkan stroke pada umumnya.
Keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved