Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMASUKI musim hujan, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap penyakit yang menyerang sistem pernapasan. Salah satu yang kini tengah menjadi perhatian tenaga medis adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV).
Virus ini dapat menginfeksi saluran pernapasan bagian atas maupun bawah, dan berpotensi menyebabkan gangguan serius terutama pada bayi, anak kecil, dan orang lanjut usia.
Mengutip dari laman halodoc, RSV merupakan salah satu penyebab paling umum infeksi pernapasan akut di seluruh dunia. Virus ini menular dengan sangat mudah melalui percikan air liur (droplet) saat penderita batuk atau bersin, serta melalui kontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi. Lingkungan padat seperti sekolah, penitipan anak, atau rumah sakit menjadi tempat ideal bagi virus ini menyebar dengan cepat.
Pada tahap awal, gejala infeksi RSV sering kali menyerupai flu biasa. Penderita mungkin mengalami hidung tersumbat, pilek, batuk ringan, atau demam rendah. Namun, dalam beberapa hari, gejala dapat berkembang menjadi lebih berat, terutama pada kelompok usia rentan. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
Pada kasus yang berat, bayi dapat menunjukkan tanda kekurangan oksigen, seperti bibir dan ujung jari yang membiru. Bila gejala ini muncul, orang tua harus segera membawa anak ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Selain bayi, lansia di atas 65 tahun dan penderita penyakit jantung atau paru kronis juga berisiko tinggi mengalami komplikasi berat jika terinfeksi RSV. Virus ini dapat memperparah penyakit yang sudah ada, seperti gagal jantung atau PPOK (penyakit paru obstruktif kronis).
Hingga kini, belum ditemukan obat yang secara langsung dapat membunuh virus RSV. Pengobatan dilakukan untuk meringankan gejala, menjaga agar pasien tetap nyaman, dan mencegah komplikasi.
Berikut beberapa langkah yang dianjurkan:
Tubuh membutuhkan energi untuk melawan infeksi. Pastikan pasien beristirahat dengan cukup dan tetap terhidrasi. Untuk bayi, pemberian ASI tetap dilanjutkan sesering mungkin.
Paracetamol atau ibuprofen dapat diberikan untuk menurunkan panas dan mengurangi rasa tidak nyaman. Penggunaannya harus sesuai dengan dosis dan petunjuk dokter, terutama untuk anak-anak.
Udara lembap dapat membantu melegakan saluran pernapasan dan mengurangi hidung tersumbat.
Jika bayi sulit bernapas karena lendir, gunakan alat penyedot lendir (aspirator) untuk membantu membuka jalan napasnya.
Bila demam tak kunjung turun, batuk semakin parah, atau bayi tampak kesulitan bernapas, segera periksakan ke dokter. Dalam kasus berat, pasien mungkin memerlukan perawatan rumah sakit untuk mendapatkan oksigen tambahan, cairan infus, atau pengawasan intensif.
Karena penularan RSV sangat cepat, pencegahan menjadi langkah utama untuk mengurangi risiko penyebaran, terutama di rumah tangga dengan bayi atau lansia. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini:
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
SERANGAN penyakit kutu air (balancat) dan diare mulai menyerang korban banjir di Provinsi Kalimantan Selatan.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
Musim flu di New York tahun ini datang lebih awal dan menyebar lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
RSV merupakan virus pernapasan yang mudah menular dan berbahaya bagi bayi. Kenali gejala, risiko komplikasi, serta langkah pencegahan untuk melindungi anak.
RSV adalah virus yang sangat umum dan menular. Pada bayi prematur, saluran napas yang kecil dan fungsi paru-paru yang belum berkembang penuh tidak mampu menangani peradangan
Vaksin RSV umumnya diberikan pada ibu hamil usia 32-36 minggu untuk memberikan perlindungan langsung kepada bayi melalui antibodi yang ditransfer melalui plasenta.
RSV menyebar melalui percikan napas, sentuhan, dan permukaan yang terkontaminasi. Karena itu, langkah pencegahan sederhana sangat penting untuk melindungi bayi prematur
Ibu hamil yang menerima vaksinasi RSV (Respiratory Syncytial Virus) akan merasakan berbagai manfaat, baik bagi kesehatan diri mereka sendiri maupun untuk bayi yang dikandung.
Vaksinasi merupakan salah satu cara paling efektif untuk melindungi kesehatan ibu hamil dan bayi dari berbagai penyakit, termasuk infeksi virus RSV (Respiratory Syncytial Virus).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved