Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Memahami Gejala Klasik 4P dan Bahaya Komplikasi Diabetes Melitus

Basuki Eka Purnama
27/2/2026 07:55
Memahami Gejala Klasik 4P dan Bahaya Komplikasi Diabetes Melitus
Ilustrasi(Freepik)

DIABETES melitus sering kali dijuluki sebagai ibu dari segala penyakit karena dampaknya yang merusak berbagai organ tubuh jika tidak ditangani dengan tepat. 

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Wirawan Hambali, Sp.P.D, FINASIM, memaparkan secara rinci mengenai gejala khas yang dialami penderita serta ancaman komplikasi yang mengintai, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Mengenal Gejala Klasik 4P

Menurut Wirawan, penderita diabetes umumnya menunjukkan empat gejala utama yang saling berkaitan, atau yang sering disebut sebagai gejala klasik 4P. 

Gejala tersebut meliputi kadar gula darah tinggi yang disertai penurunan berat badan, nafsu makan meningkat (polifagia), sering buang air kecil (poliuria), dan rasa haus yang berlebihan (polidipsia).

Fenomena penurunan berat badan secara drastis pada penderita diabetes terjadi karena tubuh mengalami krisis energi. Meski kadar gula dalam darah tinggi, gula tersebut tidak dapat masuk ke dalam sel tubuh akibat kekurangan insulin.

"Makanya kita bisa lihat bahwa ada situasi ketika pasien yang diabetes lanjut tidak diobati, yang tadinya gemuk, perlahan-lahan berat badannya turun. Kenapa? Karena tidak bisa terjadi utilisasi glukosa oleh sel-sel," ujar Wirawan, dikutip Jumat (27/2).

Kondisi sel yang "kelaparan" inilah yang memicu polifagia, yaitu dorongan untuk makan secara terus-menerus karena tubuh merasa kekurangan asupan energi secara terus-menerus.

Diuresis Osmotik: Penyebab Sering Berkemih

Gejala lain yang sangat umum adalah intensitas buang air kecil yang meningkat drastis. Wirawan menjelaskan bahwa urine penderita diabetes sering kali mengandung kadar gula yang sangat tinggi, sehingga secara alami menarik cairan keluar dari jaringan tubuh. Fenomena medis ini dikenal sebagai diuresis osmotik.

"Air kencing orang diabetes itu mengandung gula, sehingga osmotiknya tinggi, sehingga sebenarnya akan menarik cairan dari dalam tubuh. Itu makanya kenapa orang diabetes itu banyak kencing," tambahnya.

Efek domino dari hilangnya banyak cairan tubuh melalui urine inilah yang kemudian memicu polidipsia, atau rasa haus yang konstan sebagai upaya tubuh untuk mengganti cairan yang hilang.

Ancaman Komplikasi Akut hingga Kronis

Lebih lanjut, Wirawan membagi komplikasi diabetes menjadi dua kategori besar:

1. Komplikasi Jangka Pendek (Akut): Terjadi akibat fluktuasi kadar gula darah yang sangat ekstrem dalam waktu singkat. Jika gula darah melonjak terlalu tinggi atau merosot terlalu rendah, pasien berisiko mengalami kondisi darurat medis seperti koma diabetik.

2. Komplikasi Jangka Panjang (Kronis): Disebabkan oleh kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol dalam durasi lama, sehingga merusak sistem pembuluh darah.

  • Gangguan Pembuluh Darah Kecil: Berisiko menyebabkan kebutaan (retinopati) dan gagal ginjal.
  • Gangguan Pembuluh Darah Besar: Memicu penyakit jantung koroner dan stroke.
  • Gangguan Non-Pembuluh Darah: Mencakup perlemakan hati serta gangguan saraf yang memengaruhi gerakan atau peristaltik usus.

Pemahaman akan gejala 4P dan risiko komplikasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk segera melakukan deteksi dini dan pengobatan yang teratur guna mencegah kerusakan organ yang lebih parah. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya