Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
DIABETES melitus sering kali dijuluki sebagai ibu dari segala penyakit karena dampaknya yang merusak berbagai organ tubuh jika tidak ditangani dengan tepat.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Wirawan Hambali, Sp.P.D, FINASIM, memaparkan secara rinci mengenai gejala khas yang dialami penderita serta ancaman komplikasi yang mengintai, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Menurut Wirawan, penderita diabetes umumnya menunjukkan empat gejala utama yang saling berkaitan, atau yang sering disebut sebagai gejala klasik 4P.
Gejala tersebut meliputi kadar gula darah tinggi yang disertai penurunan berat badan, nafsu makan meningkat (polifagia), sering buang air kecil (poliuria), dan rasa haus yang berlebihan (polidipsia).
Fenomena penurunan berat badan secara drastis pada penderita diabetes terjadi karena tubuh mengalami krisis energi. Meski kadar gula dalam darah tinggi, gula tersebut tidak dapat masuk ke dalam sel tubuh akibat kekurangan insulin.
"Makanya kita bisa lihat bahwa ada situasi ketika pasien yang diabetes lanjut tidak diobati, yang tadinya gemuk, perlahan-lahan berat badannya turun. Kenapa? Karena tidak bisa terjadi utilisasi glukosa oleh sel-sel," ujar Wirawan, dikutip Jumat (27/2).
Kondisi sel yang "kelaparan" inilah yang memicu polifagia, yaitu dorongan untuk makan secara terus-menerus karena tubuh merasa kekurangan asupan energi secara terus-menerus.
Gejala lain yang sangat umum adalah intensitas buang air kecil yang meningkat drastis. Wirawan menjelaskan bahwa urine penderita diabetes sering kali mengandung kadar gula yang sangat tinggi, sehingga secara alami menarik cairan keluar dari jaringan tubuh. Fenomena medis ini dikenal sebagai diuresis osmotik.
"Air kencing orang diabetes itu mengandung gula, sehingga osmotiknya tinggi, sehingga sebenarnya akan menarik cairan dari dalam tubuh. Itu makanya kenapa orang diabetes itu banyak kencing," tambahnya.
Efek domino dari hilangnya banyak cairan tubuh melalui urine inilah yang kemudian memicu polidipsia, atau rasa haus yang konstan sebagai upaya tubuh untuk mengganti cairan yang hilang.
Lebih lanjut, Wirawan membagi komplikasi diabetes menjadi dua kategori besar:
1. Komplikasi Jangka Pendek (Akut): Terjadi akibat fluktuasi kadar gula darah yang sangat ekstrem dalam waktu singkat. Jika gula darah melonjak terlalu tinggi atau merosot terlalu rendah, pasien berisiko mengalami kondisi darurat medis seperti koma diabetik.
2. Komplikasi Jangka Panjang (Kronis): Disebabkan oleh kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol dalam durasi lama, sehingga merusak sistem pembuluh darah.
Pemahaman akan gejala 4P dan risiko komplikasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk segera melakukan deteksi dini dan pengobatan yang teratur guna mencegah kerusakan organ yang lebih parah. (Ant/Z-1)
Diabetes sering tak disadari dan berbahaya. Kenali gejala, kadar gula normal, hingga cara mencegah dan mengendalikan penyakit ini.
Diabetes Melitus adalah penyakit metabolik akibat gangguan insulin yang menyebabkan gula darah tinggi. Kenali penyebab, gejala awalnya.
DI 2026, anggapan bahwa diabetes melitus adalah penyakit orang tua telah resmi terpatahkan.
Panduan lengkap mengatasi resistensi insulin tahun 2026. Pelajari strategi diet kronobiologi, suplemen alami, dan pola latihan fisik untuk cegah diabetes.
Resistensi insulin bukan hanya masalah gula darah. Ini adalah akar dari berbagai penyakit degeneratif, termasuk hipertensi, obesitas, PCOS pada wanita, hingga peningkatan risiko demensia.
Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup. Ini penyakit kronis yang risikonya besar terhadap kesehatan.
Kemenkes menyebut terdapat 3 penyakit yang banyak ditemukan pada pemudik lebaran 2026 yakni hipertensi (darah tinggi), cephalgia (nyeri kepala), dan gastritis (maag).
GURU Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi FKUI-RSCM, Prof Ari Fahrial Syam mengungkapkan terdapat beberapa penyakit yang sering muncul setelah lebaran.
DI balik suasana penuh kebahagiaan Hari Raya Idul Fitri, penderita penyakit autoimun perlu memberikan perhatian khusus terhadap kondisi kesehatannya agar terhindar dari kekambuhan
Obesitas sangat memengaruhi keseimbangan hormon, terutama pada perempuan.
Di tengah suasana Lebaran, penderita penyakit autoimun perlu memerhatikan kondisi kesehatannya agar terhindar dari kekambuhan atau flare up.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved