Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER Spesialis Penyakit Dalam, dr. M. Vardian Mahardika, M.Biomed, Sp.PD, AIFO-K, menegaskan bahwa obesitas telah dikategorikan sebagai penyakit kronis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2022. Kondisi ini bukan sekadar masalah berat badan, melainkan pemicu berbagai gangguan kesehatan serius, termasuk sistem reproduksi.
Menurut Vardian, obesitas sangat memengaruhi keseimbangan hormon, terutama pada perempuan. Hal ini memicu kondisi seperti Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) hingga endometriosis yang berdampak pada kesuburan (fertilitas).
“Obesitas itu banyak banget datang tiba-tiba dengan fertilitas, misalnya PCOS. Kemudian endometriosis, itu juga bisa terjadi karena kondisi obesitas. Jadi perempuan-perempuan mulai harus lebih aware dengan yang namanya obesitas,” kata Vardian, dikutip Minggu (22/3).
Risiko ini semakin nyata saat perempuan memasuki fase perimenopause di usia 45–50 tahun. Penurunan kadar hormon pada fase ini membuat berbagai penyakit lebih mudah muncul, terutama jika seseorang sudah memiliki riwayat obesitas sebelumnya.
Vardian juga menyoroti kekeliruan masyarakat yang hanya menjadikan berat badan atau Body Mass Index (BMI) sebagai patokan tunggal. Menurutnya, BMI belum tentu mampu menggambarkan distribusi lemak dan komposisi tubuh secara menyeluruh.
“Makanya banyak orang yang badannya kelihatannya tidak obesitas, tapi ketika kita cek lingkar perutnya, perbandingan lingkar perut dengan lingkar paha, tinggi badan, ternyata lemaknya sudah tinggi dan masuk ke kategori obesitas,” tuturnya.
Bahaya obesitas meluas ke berbagai organ tubuh. Di tingkat sistem saraf, obesitas meningkatkan risiko demensia dan Alzheimer.
Sementara pada sistem pernapasan, penderita rentan mengalami sleep apnea atau henti napas saat tidur yang ditandai dengan mendengkur.
Selain itu, obesitas menjadi faktor risiko terbesar untuk:
Mengingat statusnya sebagai penyakit kronis, dr. Vardian menekankan bahwa penanganan obesitas tidak bisa dilakukan sembarangan atau hanya mengandalkan niat semata.
“Kompleks banget kalau kita ngomongin obesitas. Penanganannya tidak bisa niat aja, olahraga, makan dikurangi. Enggak sesimpel itu. Harus ada peran dokter, lifestyle modification, farmakologi (obat-obatan), dan mungkin operasi bariatrik,” pungkas dokter lulusan Universitas Brawijaya tersebut. (Ant/Z-1)
Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup. Ini penyakit kronis yang risikonya besar terhadap kesehatan.
Kemenkes menyebut terdapat 3 penyakit yang banyak ditemukan pada pemudik lebaran 2026 yakni hipertensi (darah tinggi), cephalgia (nyeri kepala), dan gastritis (maag).
GURU Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi FKUI-RSCM, Prof Ari Fahrial Syam mengungkapkan terdapat beberapa penyakit yang sering muncul setelah lebaran.
DI balik suasana penuh kebahagiaan Hari Raya Idul Fitri, penderita penyakit autoimun perlu memberikan perhatian khusus terhadap kondisi kesehatannya agar terhindar dari kekambuhan
Di tengah suasana Lebaran, penderita penyakit autoimun perlu memerhatikan kondisi kesehatannya agar terhindar dari kekambuhan atau flare up.
Secara fisiologis, puasa dapat membantu menyeimbangkan hormon estrogen dan progesteron serta mendukung proses ovulasi yang lebih sehat melalui penurunan resistensi insulin.
Melalui integrasi teknologi reproduksi canggih, populasi dan kualitas kuda pacu di Indonesia mengalami transformasi signifikan.
Miom adalah pertumbuhan jaringan otot dan jaringan ikat di dinding rahim, sedangkan kista merupakan kantong berisi cairan yang umumnya terbentuk di ovarium.
Ilmuwan Amerika berhasil menciptakan embrio manusia tahap awal dari sel kulit.
Salah satu tanda awal yang harus diperhatikan pada wanita adalah siklus menstruasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved