Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis penyakit dalam konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes dari Universitas Brawijaya dr. Rulli Rosandi Sp.PD-KEMD mengatakan obesitas yang tidak tertangani dapat menjadi pintu masuk berbagai penyakit metabolik lainnya yang dapat menurunkan kualitas hidup.
"Obesitas ini adalah pintu masuk ke penyakit-penyakit yang kita bilang penyakit metabolik, dari awalnya dari obesitas," kata Rulli, Senin (29/9).
Jika diabetes dijuluki mother of all disease, biang dari segala penyakit, obesitas adalah bahan penyakit yang bisa menimbulkan gangguan pada berbagai organ tubuh.
Sebagian besar pasien dengan obesitas memiliki masalah metabolik berupa diabetes, yang dapat menyebabkan tingginya angka penyakit jantung dan ginjal, kata Rulli.
Masalah metabolik karena obesitas juga dapat menyebabkan dislipidemia atau meningkatnya plak kolesterol, hipertensi yang sering disebut sindroma metabolik, sehingga pasien obesitas harus selalu memantau gula darah, tekanan darah dan kadar kolesterol.
Obesitas juga bisa berdampak hingga masalah respirasi yang menyebabkan apnea tidur obstruktif dengan gejala mengorok atau kesulitan bernapas saat berbaring atau tidur.
Masalah lain yang khas ada pada penderita obesitas adalah sendi yang mulai sakit dan badan terasa berat serta napas berat.
"Pada perempuan, obesitas bisa menyebabkan masalah kesehatan seperti polycystic ovarian syndrome (PCOS) atau sindrom polikstik ovarium dan masalah hormonal antara lain kadar testosteron turun pada laki-laki," papar Rulli.
Obesitas juga dapat berdampak pada kesehatan mental pasien karena merasa kurangnya dukungan dalam lingkungan atau dikucilkan dari sosial. Obat untuk menangani depresi juga sering kali menyebabkan berat badan naik sehingga masalah obesitas menjadi tidak kunjung usai.
Rulli menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis agar pasien obesitas bisa mendapatkan penanganan yang tepat, dengan mempertimbangkan indeks massa tubuh (IMT/BMI) rendah, sedang, atau tinggi.
Jika masih di kategori rendah indeks 18-22,9, modifikasi gaya hidup seperti olahraga dan pengaturan diet pada umumnya akan dipilih untuk mengatasi obesitas.
Jika BMI dalam kategori tinggi atau di atas angka 25, hal itu bisa dipertimbangkan dengan obat-obatan untuk menurunkan berat badan atau operasi bariatrik.
Selain melihat BMI, pengukuran obesitas juga bisa dilihat dari komplikasi yang sudah ada untuk mendapatkan pengobatan yang lebih
terarah.
"Contoh misalnya dia sudah dengan diabetes dan sebagainya, maka tentu lebih agresif tata laksananya, tidak lagi hanya berdasarkan pada modifikasi gaya hidup, tidak hanya mengatur pola makan dan olahraga tapi bisa dipertimbangkan untuk memberikan obat-obatan farmakoterapi. Bahkan pada kasus-kasus yang ekstrem, itu bisa dipertimbangkan untuk melakukan tindakan pembedahan," kata Rulli.
Dia juga mengingatkan penanganan obesitas adalah masalah individual dan tidak bisa disamakan dengan orang lain. Angka obesitas yang turun di Indonesia juga diharapkan akan berdampak pada turunnya angka kematian akibat penyakit metabolik dan meringankan beban kesehatan negara. (Ant/Z-1)
Berbeda dengan sekadar tren kesehatan umum, lifestyle medicine merupakan pendekatan medis formal yang menggunakan intervensi gaya hidup berbasis bukti.
Jika langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini, jumlah kasus kanker diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2050.
Penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan penyakit yang kerap muncul akibat meningkatnya populasi kuman di musim hujan.
Virus Nipah secara alami berasal dari kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus atau dikenal sebagai flying fox.
Penularan utama leptospirosis terjadi melalui kontak kulit dengan air atau tanah yang telah tercemar urine hewan pembawa bakteri, dengan tikus menjadi perantara yang paling sering ditemukan.
TANTANGAN dan dinamika penyakit hati di Indonesia disoroti. Penyakit hati di Indonesia menunjukkan pola yang semakin kompleks, mulai dari hepatitis kronis, sirosis, hingga kanker hati.
Dokter menegaskan latihan fisik terukur dapat membantu mengontrol diabetes, obesitas, hipertensi, dan dislipidemia, terutama bila dikombinasikan dengan pola makan seimbang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved