Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
POLA klinis gangguan irama jantung atau Fibrilasi Atrium (FA) di Indonesia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Berbeda dengan negara-negara Barat yang umumnya ditemukan pada lansia, kasus FA di tanah air justru banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni rentang 40 hingga 60 tahun.
Temuan ini disampaikan Guru Besar Kardiologi dan Aritmia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus Dewan Pengawas Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA.
Menurutnya, pergeseran usia ini memiliki dampak sosial dan ekonomi yang luas bagi masyarakat Indonesia.
“Di negara Barat, puncak usia fibrilasi atrium biasanya di atas 60 tahun. Di Indonesia justru banyak pada rentang 40 sampai 60 tahun. Ini kelompok usia aktif dengan tanggung jawab sosial dan ekonomi besar,” ujar Profesor Yoga, dikutip Senin (16/2).
Profesor Yoga menjelaskan bahwa individu pada rentang usia 40-60 tahun biasanya sedang berada di puncak karier dan memegang peran sentral, baik di lingkungan kerja maupun keluarga.
Jika kondisi FA ini memicu stroke, dampak yang ditimbulkan tidak hanya pada fisik pasien, tetapi juga pada stabilitas ekonomi keluarga.
Lebih lanjut, stroke yang dipicu oleh fibrilasi atrium cenderung lebih berat dibandingkan stroke pada umumnya. Hal ini karena gumpalan darah yang terbentuk di jantung dapat lepas dan menyumbat pembuluh darah besar di otak secara mendadak. Kondisi ini meningkatkan risiko kecacatan permanen hingga kematian.
Tantangan terbesar dalam penanganan FA adalah sifatnya yang sering kali tanpa gejala. Sekitar separuh dari kasus yang ditemukan tidak menunjukkan tanda-tanda awal yang jelas, sehingga pasien sering kali terlambat mendapatkan penanganan medis.
“Sekitar separuh kasus fibrilasi atrium tidak menimbulkan gejala sehingga sering tidak terdeteksi sampai terjadi komplikasi,” tambah Yoga.
Sebagai langkah preventif, Profesor Yoga mendorong masyarakat untuk proaktif melakukan deteksi dini secara mandiri. Salah satu metode yang paling sederhana dan efektif adalah MENARI (MErabah NAdi Sendiri).
Langkah skrining mandiri ini sangat disarankan bagi:
Upaya edukasi MENARI ini menjadi bagian utama dari kampanye Pulse Day 2026. Melalui kolaborasi jejaring ahli aritmia regional dan nasional, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap gangguan irama jantung meningkat, sehingga angka kejadian stroke akibat FA dapat ditekan sedini mungkin. (Ant/Z-1)
Firbilasi Atrium merupakan pemicu utama stroke kardioembolik, yakni stroke yang terjadi akibat gumpalan darah yang berasal dari jantung.
Metode MENARI dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk dan tengah pada pergelangan tangan atau leher selama 30 detik, lalu hasilnya dikalikan dua untuk mendapatkan denyut per menit.
Secara medis, stroke terjadi ketika suplai darah ke otak terputus, sehingga otak kekurangan nutrisi dan oksigen. Kondisi ini menyebabkan sel-sel otak rusak atau hancur dalam waktu singkat.
Peneliti temukan orang yang aktif di malam hari (night owls) memiliki risiko stroke dan serangan jantung lebih tinggi, terutama pada perempuan. Simak penjelasannya.
Dokter menyebut stroke muncul karena kebiasaan pria tersebut yang mengonsumsi minuman berenergi berlebihan setiap hari.
Penderita diabetes umumnya menunjukkan empat gejala utama yang saling berkaitan, atau yang sering disebut sebagai gejala klasik 4P.
Stimulasi 40Hz setiap hari mampu menjaga fungsi kognitif pasien, bahkan menurunkan biomarker utama penyakit Alzheimer.
Memasuki tahun 2026, data menunjukkan pergeseran tren medis yang mengkhawatirkan: lonjakan signifikan kasus diabetes tipe 2 pada kelompok usia 20 hingga 30 tahun (Gen Z).
Perkembangan janin yang tidak sempurna hingga memicu PJB dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko dari sisi kesehatan orang tua maupun lingkungan.
Keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved