Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Waspada Fibrilasi Atrium di Indonesia: Menyerang Usia Produktif dan Risiko Stroke Berat

Basuki Eka Purnama
16/2/2026 20:36
Waspada Fibrilasi Atrium di Indonesia: Menyerang Usia Produktif dan Risiko Stroke Berat
Ilustrasi(Freepik)

POLA klinis gangguan irama jantung atau Fibrilasi Atrium (FA) di Indonesia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Berbeda dengan negara-negara Barat yang umumnya ditemukan pada lansia, kasus FA di tanah air justru banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni rentang 40 hingga 60 tahun.

Temuan ini disampaikan Guru Besar Kardiologi dan Aritmia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus Dewan Pengawas Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA. 

Menurutnya, pergeseran usia ini memiliki dampak sosial dan ekonomi yang luas bagi masyarakat Indonesia.

“Di negara Barat, puncak usia fibrilasi atrium biasanya di atas 60 tahun. Di Indonesia justru banyak pada rentang 40 sampai 60 tahun. Ini kelompok usia aktif dengan tanggung jawab sosial dan ekonomi besar,” ujar Profesor Yoga, dikutip Senin (16/2).

Risiko Kelumpuhan di Puncak Karier

Profesor Yoga menjelaskan bahwa individu pada rentang usia 40-60 tahun biasanya sedang berada di puncak karier dan memegang peran sentral, baik di lingkungan kerja maupun keluarga. 

Jika kondisi FA ini memicu stroke, dampak yang ditimbulkan tidak hanya pada fisik pasien, tetapi juga pada stabilitas ekonomi keluarga.

Lebih lanjut, stroke yang dipicu oleh fibrilasi atrium cenderung lebih berat dibandingkan stroke pada umumnya. Hal ini karena gumpalan darah yang terbentuk di jantung dapat lepas dan menyumbat pembuluh darah besar di otak secara mendadak. Kondisi ini meningkatkan risiko kecacatan permanen hingga kematian.

Bahaya Silent Killer dan Pentingnya MENARI

Tantangan terbesar dalam penanganan FA adalah sifatnya yang sering kali tanpa gejala. Sekitar separuh dari kasus yang ditemukan tidak menunjukkan tanda-tanda awal yang jelas, sehingga pasien sering kali terlambat mendapatkan penanganan medis.

“Sekitar separuh kasus fibrilasi atrium tidak menimbulkan gejala sehingga sering tidak terdeteksi sampai terjadi komplikasi,” tambah Yoga.

Sebagai langkah preventif, Profesor Yoga mendorong masyarakat untuk proaktif melakukan deteksi dini secara mandiri. Salah satu metode yang paling sederhana dan efektif adalah MENARI (MErabah NAdi Sendiri).

Langkah skrining mandiri ini sangat disarankan bagi:

  • Masyarakat yang telah memasuki usia di atas 40 tahun.
  • Individu dengan faktor risiko penyerta seperti hipertensi dan diabetes.

Upaya edukasi MENARI ini menjadi bagian utama dari kampanye Pulse Day 2026. Melalui kolaborasi jejaring ahli aritmia regional dan nasional, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap gangguan irama jantung meningkat, sehingga angka kejadian stroke akibat FA dapat ditekan sedini mungkin. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik