Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Waspada Silent Killer: Prevalensi Fibrilasi Atrium di Indonesia Capai 7 Juta Orang

Basuki Eka Purnama
17/2/2026 07:54
Waspada Silent Killer: Prevalensi Fibrilasi Atrium di Indonesia Capai 7 Juta Orang
Ilustrasi(Freepik)

PERHIMPUNAN Aritmia Indonesia (Peritmi) atau Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) memperingatkan masyarakat mengenai tingginya prevalensi fibrilasi atrium (AF) di Indonesia. Gangguan irama jantung ini diperkirakan telah menjangkiti sekitar 3,2% populasi atau setara dengan lebih dari 7 juta orang.

Dalam konferensi pers Pulse Day 2026 bertajuk "Dari Kesadaran Hingga Aksi Nyata Untuk Jantung Sehat" yang digelar di RSJPD Harapan Kita, pekan lalu, Guru Besar Kardiologi dan Aritmia FKUI, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, menekankan bahwa angka tersebut merupakan peringatan serius bagi kesehatan publik.

"Jadi satu hal yang saya kira memberikan satu peringatan kepada kita bahwa ada potensi, karenanya stroke yang besar di situ, 3,2% itu setelah disesuaikan dengan umur, saya menghitung seharusnya ada sekitar 7 juta orang Indonesia yang AF, banyak sekali," ujar Prof. Yoga.

Ancaman Stroke Kardioembolik

Fibrilasi atrium bukan sekadar gangguan detak jantung biasa. Kondisi ini merupakan pemicu utama stroke kardioembolik, yakni stroke yang terjadi akibat gumpalan darah yang berasal dari jantung. 

Prof. Yoga menjelaskan bahwa risiko stroke pada pasien AF melonjak hingga lima kali lipat dibandingkan orang dengan irama jantung normal.

"Risiko stroke pada pasien fibrilasi atrium sekitar lima kali lipat lebih tinggi dibanding orang tanpa fibrilasi atrium. Stroke akibat kondisi ini juga cenderung lebih berat, dengan risiko kematian dalam 30 hari dan kecacatan jangka panjang lebih tinggi," tuturnya.

Berbeda dengan stroke akibat hipertensi yang biasanya berkembang dalam hitungan tahun, stroke pada pasien AF dapat terjadi sangat cepat. 

Gumpalan darah yang terbentuk akibat aliran darah yang tidak normal di serambi jantung bisa terlepas dan menyumbat pembuluh darah otak hanya dalam waktu 24 jam hingga beberapa hari sejak gangguan irama muncul.

Bahaya Kasus Tanpa Gejala

Salah satu tantangan terbesar dalam menangani AF adalah sifatnya yang sering kali tidak menunjukkan gejala atau silent. Data menunjukkan sekitar 15 hingga 50 persen kasus AF tidak memberikan keluhan fisik kepada penderitanya.

"Banyak pasien tidak sadar memiliki fibrilasi atrium. Saat terdeteksi justru sudah terjadi stroke. Padahal jika ditemukan lebih awal dan diobati, risiko stroke bisa ditekan secara bermakna," tambah Prof. Yoga yang juga menjabat sebagai dewan penasihat InaHRS.

Gerakan MENARI sebagai Solusi Dini

Guna menekan angka fatalitas, kampanye Pulse Day 2026 mendorong masyarakat untuk melakukan skrining mandiri secara rutin. Prof. Yoga merupakan penggagas metode MENARI (Meraba Nadi Sendiri), sebuah teknik sederhana untuk memantau ritme nadi secara mandiri.

Melalui deteksi dini lewat rabaan nadi, masyarakat diharapkan mampu mengenali ketidakteraturan detak jantung lebih awal sebelum komplikasi berat seperti stroke terjadi. 

Langkah sederhana ini dinilai krusial untuk mengubah kesadaran menjadi aksi nyata dalam menjaga kesehatan jantung nasional. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik