Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
PERHIMPUNAN Aritmia Indonesia (Peritmi) menyatakan bahwa perangkat pendukung pemantauan kesehatan, seperti jam tangan pintar (smartwatch), kini dapat menjadi opsi alat bantu deteksi dini gangguan irama jantung atau aritmia.
Teknologi ini dinilai mampu mengatasi kendala pendeteksian aritmia yang sering kali bersifat hilang timbul (paroxysmal) dan tidak menetap.
Dalam konferensi pers Pulse Day 2026 di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, dikutip Rabu (25/2), anggota Peritmi, dr. Ardian Rizal, Sp.JP(K), FIHA, menjelaskan bahwa tantangan utama dalam mendiagnosis aritmia adalah sifat gejalanya yang tidak selalu muncul saat pasien berada di fasilitas kesehatan.
"Masalah diagnosis aritmia itu sering datang dan pergi. Saat diperiksa bisa normal, padahal di waktu lain muncul gangguan irama yang berbahaya," ujar dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia tersebut.
Menurut Ardian, pemeriksaan rekam jantung konvensional di klinik atau rumah sakit umumnya hanya menangkap aktivitas listrik jantung dalam durasi yang sangat singkat.
Durasi ini sering kali tidak cukup untuk menangkap gangguan irama jantung yang muncul sewaktu-waktu.
Meskipun pemantauan jantung selama 24 jam di fasilitas medis dapat memberikan hasil yang lebih akurat, metode tersebut belum tersedia secara luas dan kurang praktis untuk kebutuhan skrining massal.
Di sinilah peran jam tangan pintar menjadi relevan. Dengan dukungan sensor pemantau aliran darah dan denyut jantung, perangkat tersebut dapat merekam aktivitas jantung secara berkelanjutan selama digunakan oleh pemiliknya.
"Perangkat ini cukup peka sebagai skrining awal aritmia. Data rekaman berkelanjutan membantu menangkap kejadian yang tidak muncul saat pemeriksaan singkat," tambah Ardian.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penggunaan jam tangan pintar sebagai alat bantu deteksi awal gangguan irama jantung telah diakui dalam panduan klinis.
Namun, Ardian mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menjadikan hasil rekaman smartwatch sebagai vonis medis.
Hasil pemantauan yang tercatat melalui perangkat tersebut tetap memerlukan konfirmasi lebih lanjut melalui prosedur medis resmi.
Langkah ini krusial untuk penegakan diagnosis yang akurat serta penentuan terapi atau tindakan medis yang tepat bagi pasien.
Dengan adanya teknologi ini, masyarakat diharapkan dapat lebih proaktif dalam memantau kesehatan jantung mereka sebelum berkonsultasi dengan tenaga medis profesional. (Ant/Z-1)
Serangan jantung umumnya disebabkan oleh masalah mekanik pada pembuluh darah, sementara kematian jantung mendadak lebih berkaitan dengan sistem kelistrikan organ tersebut.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan penyakit jantung adalah keterlambatan diagnosis.
Kebocoran aliran darah pada jantung dapat memicu tekanan tinggi pada paru yang berujung pada kondisi fatal yang disebut Sindrom Eisenmenger.
Berbagai penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, kanker, hingga gagal ginjal kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.
Firbilasi Atrium merupakan pemicu utama stroke kardioembolik, yakni stroke yang terjadi akibat gumpalan darah yang berasal dari jantung.
Aritmia terjadi ketika detak jantung bekerja tidak normal; bisa terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan sehingga mengganggu pasokan darah ke organ vital.
Jam tangan pemantau detak jantung adalah perangkat yang berguna untuk melacak intensitas latihan dan memberikan peringatan ketika terdeteksi irama jantung yang tidak teratur.
Gangguan irama jantung dapat menyebabkan stoke jika ada penyempitan pada pembuluh darah di bagian otak.
SVT jika dibiarkan dapat mengakibatkan gagal jantung, stroke, hingga kematian.
Teknik intervensi jantung memungkinkan penanganan beberapa jenis penyakit jantung dilakukan tanpa pembedahan. Teknik ini memberi banyak manfaat bagi pasien.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved