Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Lawan Risiko Stroke, Ahli Jantung Global Ajak Masyarakat Deteksi Dini Aritmia Lewat MENARI

Basuki Eka Purnama
13/2/2026 21:56
Lawan Risiko Stroke, Ahli Jantung Global Ajak Masyarakat Deteksi Dini Aritmia Lewat MENARI
Ilustrasi(Freepik)

GANGGUAN irama jantung atau aritmia masih menjadi ancaman kesehatan serius yang sering kali tidak disadari oleh masyarakat. Padahal, satu dari tiga orang secara global berisiko mengalami gangguan ini sepanjang hidupnya. 

Kondisi tersebut sering kali baru terdeteksi setelah terjadi komplikasi berat seperti stroke atau gagal jantung.

Menyikapi urgensi tersebut, para ahli jantung yang tergabung dalam kolaborasi global memperingati Pulse Day 2026 pada 13 Februari 2026 di Jakarta. Kampanye ini menekankan pentingnya deteksi dini secara mandiri melalui langkah sederhana yang disebut MENARI (MEraba NAdi sendiRI).

Pentingnya Deteksi Dini

Dr. dr. Dicky Armein Hanafy, Sp.JP, selaku Head of Pulse Day Task Force, menjelaskan bahwa deteksi dini sangat krusial karena banyak kasus aritmia yang asimtomatik atau tidak menunjukkan gejala.

"Gangguan irama jantung sering kali tidak bergejala dan baru diketahui ketika komplikasi sudah terjadi. Padahal, sebenarnya deteksi dini dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan MENARI (MEraba NAdi sendiRI) secara rutin," ujar Dicky.

Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP, Founder of MENARI, menyoroti jenis aritmia yang paling umum, yakni Fibrilasi Atrium (FA). 

FA meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat dan risiko kematian dua kali lipat. 

"Sekitar 50% kasus fibrilasi atrium tidak terdiagnosis karena penderitanya tidak menyadari adanya gangguan irama jantung dalam dirinya," kata Prof Yoga.

Cara Melakukan MENARI

Metode MENARI dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk dan tengah pada pergelangan tangan atau leher selama 30 detik, lalu hasilnya dikalikan dua untuk mendapatkan denyut per menit.

Masyarakat perlu waspada jika denyut nadi berada di luar rentang normal (60-100 kali per menit) atau terasa tidak teratur. 

Gejala tambahan seperti pusing, nyeri dada, sesak napas, hingga pingsan merupakan tanda yang memerlukan pemeriksaan medis lanjutan, seperti EKG.

Peran Teknologi Wearable

Selain metode manual, teknologi wearable device kini berperan besar dalam skrining medis secara real-time. 

dr. Ardian Rizal, Sp.JP, dari Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), menyebutkan bahwa sensor pada perangkat tersebut memudahkan pemantauan irama jantung yang hilang timbul.

Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi memiliki keterbatasan. 

"Setiap notifikasi ketidakteraturan irama jantung dari wearable devices harus disikapi secara bijak dan dikonfirmasi melalui pemeriksaan EKG klinis oleh dokter jantung," tegas Ardian.

Pulse Day 2026 yang dipimpin oleh Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS) ini diharapkan dapat mengubah kesadaran masyarakat menjadi aksi nyata untuk menekan angka stroke dan menyelamatkan lebih banyak jiwa. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya