Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

AI, Senjata Baru Melawan Titik Kegagalan Jantung Manusia

Despian Nurhidayat
20/2/2026 08:44
AI, Senjata Baru Melawan Titik Kegagalan Jantung Manusia
Ilustrasi(Freepik)

PENYAKIT kardiovaskular masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global. Namun, di mata CEO AliveCor Priya Abani, teknologi kecerdasan buatan (AI) memiliki potensi besar untuk mengubah peta pertarungan melawan penyakit jantung melalui deteksi dini yang lebih presisi.

Sebagai seorang insinyur, Abani melihat tubuh manusia dari kacamata sistem teknis. Ia mengidentifikasi jantung sebagai bagian yang paling krusial sekaligus rentan.

“Sebagai seorang insinyur, saya menganalisis sistem untuk menemukan ‘titik kegagalan tunggal’. Pada tubuh manusia, titik tersebut seringkali adalah jantung. Salah satu hal yang tragis dari kehilangan ini adalah sebagian besar dapat dihindari,” kata Abani sebagaimana dilansir dari laman resmi Forum Ekonomi Dunia (WEF).

Transformasi dari Perawatan Episodik ke Berkelanjutan

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan penyakit jantung adalah keterlambatan diagnosis

Banyak pasien baru menyadari masalah kesehatan mereka saat kondisi sudah kritis. Abani memperkirakan bahwa sebenarnya 80% penyakit kardiovaskular dapat dicegah jika dipantau sejak dini.

Masalahnya, akses ke dokter sering kali terhambat oleh antrean panjang atau gejala yang tidak segera disadari. 

Abani berargumen bahwa pengecekan jantung seharusnya menjadi kebiasaan harian, layaknya menimbang berat badan.

“Itulah mengapa, seperti halnya menimbang badan untuk memantau berat badan adalah hal yang normal, kita juga harus membiasakan diri untuk memeriksa irama jantung kapan saja dan di mana saja,” tutur Abani.

Melalui teknologi remote patient monitoring (RPM), pasien dapat mengumpulkan data detak dan irama jantung secara mandiri di rumah. Data tersebut kemudian dibagikan kepada penyedia layanan kesehatan untuk dikonsultasikan secara virtual. 

Model ini mengubah pola pengobatan yang sebelumnya bersifat episodik (hanya saat ada gejala) menjadi perawatan berkelanjutan.

Mendeteksi yang Tak Terlihat

Kekuatan utama AI terletak pada kemampuannya menganalisis data dalam skala besar yang tidak mungkin dilakukan oleh mata telanjang manusia. 

Alat berbasis AI mampu menangkap perubahan mikroskopis pada hasil elektrokardiogram (EKG) yang bisa menjadi sinyal awal sebuah gangguan kesehatan.

“Alat-alat ini dapat mendeteksi perubahan kecil yang hampir tidak terlihat yang mungkin menandakan masalah kesehatan atau sesuatu yang perlu diwaspadai,” jelas Abani.

Lebih jauh lagi, AI memanfaatkan data longitudinal untuk melihat gambaran kesehatan pasien secara utuh, bukan sekadar potret sesaat. 

Dengan membandingkan data individu terhadap data anonim dari ribuan pasien lainnya, dokter dapat memprediksi apakah suatu perubahan kecil berisiko berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Komitmen terhadap Privasi

Meski sangat bergantung pada pengolahan data, Abani menekankan bahwa aspek keamanan tetap menjadi prioritas utama. Inovasi kesehatan tidak boleh mengorbankan hak privasi individu.

“Semua ini dapat dan harus dilakukan melalui pengumpulan data yang aman dan pribadi. Seiring semakin banyak perusahaan menciptakan alat yang berfokus pada kesehatan, memastikan privasi setiap pasien menjadi sangat penting,” pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya