Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

ChatGPT Picu Kenaikan Laporan Pelecehan Ritual Terorganisir di Inggris

Thalatie K Yani
09/3/2026 11:01
ChatGPT Picu Kenaikan Laporan Pelecehan Ritual Terorganisir di Inggris
Ilustrasi(Unsplash)

PENGGUNAAN kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT kini menjadi pintu masuk tak terduga bagi para penyintas kekerasan seksual untuk melaporkan kasus pelecehan ritual terorganisir. Para pakar di Inggris mengungkapkan adanya lonjakan laporan yang dipicu interaksi korban dengan alat AI tersebut saat mencari sarana terapi mandiri.

Pihak kepolisian menyebutkan bahwa praktik pelecehan ritual, sihir, hingga "kekerasan spiritual" (WSPRA) terhadap anak-anak merupakan kasus yang sangat jarang dilaporkan di Inggris. Meski tidak ada tuntutan hukum modern yang secara spesifik mencakup hal ini, kejahatan tersebut ditandai dengan elemen ritualistik, terkadang terinspirasi oleh pemujaan setan atau keyakinan agama esoteris, untuk mengendalikan korban.

AI Sebagai Jembatan Dukungan

Gabrielle Shaw, CEO Asosiasi Nasional untuk Orang-orang yang Dilecehkan pada Masa Kanak-kanak (Napac), mengungkapkan adanya kenaikan laporan yang konsisten dalam 18 bulan terakhir. Menariknya, semakin banyak penyintas yang mengaku diarahkan oleh AI untuk mencari bantuan profesional.

"Selama enam bulan hingga satu tahun terakhir, orang-orang menghubungi saluran bantuan Napac dan mengatakan: 'Saya dirujuk kepada Anda oleh ChatGPT'. Masyarakat menggunakan AI, ChatGPT, sebagai bentuk terapi dan eksplorasi. Ada perasaan campur aduk mengenai hal itu, tetapi jika itu menjadi jalur menuju dukungan, maka itu adalah hal yang baik," ujar Shaw.

Shaw menambahkan bahwa laporan ini bukan sekadar lonjakan sesaat pada hari-hari besar keagamaan tertentu, melainkan kenaikan yang berkelanjutan. Dari 36.700 panggilan selama sembilan tahun ke Napac, sebanyak 1.310 di antaranya menyebutkan pelecehan ritual terorganisir yang sering kali bersifat antargenerasi.

Tantangan dalam Sistem Peradilan

Sejak 1982, tercatat hanya ada 14 kasus pidana di Inggris yang secara resmi mengakui adanya praktik ritualistik dalam pelecehan seksual. Namun, penelitian tahun 2025 oleh psikolog klinis Dr. Elly Hanson menemukan angka hukuman tersebut hanyalah "puncak gunung es".

Salah satu hambatan utama dalam penegakan hukum adalah sifat kasus yang sering terdengar "fantastis" atau tidak masuk akal. Richard Fewkes, direktur program kepolisian Hydrant, mengakui adanya celah keadilan ini.

"Kita perlu meningkatkan sistem secara keseluruhan dalam menanganinya, hal ini ada, memang terjadi, dan sebenarnya tidak dilaporkan (ke polisi). Kita telah mengetahui hal ini selama bertahun-tahun," jelas Fewkes.

Mematahkan Stereotipe Pelaku

Dr. Elly Hanson menekankan kebenaran sering kali hilang di antara keraguan publik dan teori konspirasi fiktif. Ia juga mematahkan stereotipe pelecehan semacam ini hanya terjadi pada budaya tertentu.

"Kami tidak melihat pelecehan ini terjadi pada budaya tertentu saja. Ini adalah sesuatu yang kami lihat terjadi di dalam keluarga kulit putih Inggris yang sering kali memiliki hak istimewa. Hal ini tidak sesuai dengan stereotipe apa pun," tegas Hanson.

Saat ini, kepolisian Inggris di bawah arahan National Police Chiefs’ Council (NPCC) mulai meluncurkan pelatihan khusus bagi petugas untuk mengidentifikasi dan menangani kasus-kasus WSPRA guna memberikan perlindungan yang lebih baik bagi anak-anak. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya