Headline

Istana minta Polri jaga situasi kondusif.

4 Alasan ChatGPT Tidak Boleh Jadi Terapis Mental

Inqilaf Nur Aprilla
29/8/2025 08:42
4 Alasan ChatGPT Tidak Boleh Jadi Terapis Mental
ChatGPT bukan pengganti terapis. Simak 4 alasan mengapa AI berisiko jika dijadikan tempat curhat masalah kesehatan mental.(freepik)

CHATGPT bisa menjawab banyak hal, tetapi satu hal yang pasti, ia bukan pengganti bantuan kesehatan mental. Kasus bunuh diri seorang yang curhat pada ChatGPT menunjukkan betapa berbahayanya menjadikan chatbot sebagai terapis.

Sophie, 29, memilih curhat rencana bunuh dirinya ke ChatGPT. Namun, alih-alih mendapatkan pertolongan, ia justru berakhir tragis.

Kasus lain menimpa seorang remaja 16 tahun, Ia juga sempat membicarakan bunuh diri dengan ChatGPT sebelum ia meninggal

"Orang tersebut mulai memandang chatbot sebagai... mungkin satu-satunya entitas/orang yang benar-benar memahami mereka," kata Dr. Matthew Nour, seorang peneliti di departemen psikiatri di Universitas Oxford. "Jadi, mereka mulai mencurahkan semua kekhawatiran dan pikiran mereka yang paling meresahkan kepada chatbot, mengabaikan orang lain.”

Walau AI mampu memberikan jawaban dengan cepat, ia tetap tidak memiliki empati, rasa aman, maupun kepekaan layaknya manusia. Para ahli menegaskan, risikonya justru jauh lebih besar daripada manfaatnya.

4 Alasan ChatGPT Tidak Bisa Jadi Terapis

Berikut empat alasan mengapa ChatGPT sebaiknya tidak dijadikan terapis mental.

1. Chatbot Bisa Membentuk Lingkaran Umpan Balik Berbahaya

Chatbot seperti ChatGPT  menyesuaikan respons sesuai preferensi pengguna, sehingga menciptakan lingkaran umpan balik yang salah. Hal inilah yang memperkuat keyakinan negatif pengguna.

Sebagai contoh, seseorang yang merasa sendirian mungkin menerima respon yang memperdalam perasaan tersebut. Akhirnya, chatbot menciptakan ilusi pemahaman, padahal hanya memperkuat kesalahpahaman emosional.

2. Chatbot AI Gagal dalam Diskusi Panjang

ChatGPT dapat memberikan nomor hotline krisis di awal obrolan, namun dalam percakapan yang lebih panjang responsnya bisa menjadi tidak konsisten.

Chatbot tidak memiliki "teori pikiran" seperti terapis dan hanya mengandalkan informasi dari pengguna. Akibatnya, kesalahan kecil di awal percakapan bisa berkembang menjadi nasihat yang keliru.

Menurut Nour, chatbot berguna untuk saran umum atau pengingat harian, tetapi tidak layak dijadikan sarana utama kesehatan mental. 

3. Remaja dan Pasien Rentan Sangat Berisiko

Dr. Scott Kollins, psikolog anak dan kepala petugas medis di aplikasi perlindungan identitas dan keamanan daring Aura, menjelaskan bahwa remaja sangat rentan salah menafsirkan respon chatbot sebagai empati manusia. Faktanya, yang mereka operasikan hanyalah sebuah sistem komputer. 

Riset Aura menunjukkan remaja menggunakan chatbot untuk dukungan emosional atau hubungan romantis. Hal ini berisiko memperburuk kesehatan mental dan membuat mereka semakin terisolasi dari dukungan nyata.

4. Cara Aman Untuk Mencari Bantuan Kesehatan Mental

Dr. Scott Kollins, menyarankan remaja mengecek daftar orang dewasa tepercaya sebelum menggunakan chatbot. Komunitas daring juga bisa menjadi ruang didengar, asalkan tetap mendapat dukungan nyata dan kebiasaan sehat.

Jika remaja belum merasa nyaman untuk curhat, menuliskan perasaan bisa menjadi langkah awal yang membantu. Tetap melibatkan orang terdekat juga penting, karena AI tidak selalu bisa diprediksi.

ChatGPT bisa membantu menjawab pertanyaan, tetapi tidak layak menggantikan terapis profesional. 

Jika merasa tertekan atau banyak pikiran, lebih baik berbicara dengan keluarga, teman dekat, atau tenaga profesional. Bantuan manusia jauh lebih aman dibandingkan chatbot. (Mashable/Z-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya