Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

AI Tingkatkan Akurasi Diagnosis Kanker Payudara Hingga 92 Persen

Atalya Puspa    
09/3/2026 09:38
AI Tingkatkan Akurasi Diagnosis Kanker Payudara Hingga 92 Persen
Ilustrasi(Freepik)

PEMANFAATAN teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai bertransformasi menjadi alat vital dalam meningkatkan akurasi pemeriksaan diagnostik kanker, khususnya kanker payudara

Teknologi ini dinilai mampu membantu tenaga medis menilai status Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2) secara lebih presisi demi menentukan terapi yang paling tepat bagi pasien.

Dokter Spesialis Patologi Anatomik, Dr. dr. Patricia Diana Prasetyo, MSi.Med, Sp.PA, menekankan bahwa ketepatan penilaian status HER2 merupakan faktor krusial dalam manajemen kanker payudara. 

Menurutnya, terapi target anti-HER2 hanya akan memberikan manfaat maksimal jika didasarkan pada hasil pemeriksaan yang akurat dan konsisten.

“Terapi target anti-HER2, bila diberikan secara tepat, dapat memperpanjang kelangsungan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Karena itu, penilaian atau scoring status HER2 harus akurat dan konsisten,” ujar Patricia dalam keterangan resmi, Senin (9/3).

Urgensi Deteksi Dini di Indonesia

Langkah penguatan deteksi dini menjadi kian mendesak mengingat proyeksi lonjakan kasus kanker di Indonesia. 

Berdasarkan studi terkini, jumlah kasus kanker di tanah air diprediksi meningkat hingga lebih dari 70% pada 2050 jika upaya preventif dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini. 

Saat ini, tercatat sekitar 400 ribu kasus baru kanker setiap tahunnya, dengan angka kematian mencapai 240 ribu jiwa.

Efektivitas Teknologi AI

Patricia menjelaskan, integrasi AI sebagai pendamping klinis terbukti meningkatkan kualitas pemeriksaan secara signifikan. 

Data studi yang dipresentasikan pada ASCO Annual Meeting 2025 menunjukkan bahwa penggunaan AI mampu mendongkrak akurasi penilaian hingga angka 92%.

Selain akurasi, AI berperan besar dalam memperbaiki konsistensi antarpemeriksa. Jika metode konvensional memiliki tingkat konsistensi antar-tenaga medis sekitar 66%, bantuan AI mampu meningkatkan angka tersebut menjadi sekitar 82%.

Lebih lanjut, teknologi ini unggul dalam mendeteksi kategori yang sulit diidentifikasi secara manual, yakni kategori HER2-low dan HER2-ultralow. 

Penggunaan AI tercatat meningkatkan kemampuan deteksi pada subkategori ini hingga 40% dibandingkan metode penilaian konvensional.

Dengan dukungan teknologi tersebut, pemanfaatan AI diharapkan dapat memperkuat ketepatan klasifikasi kanker payudara sekaligus membantu tenaga medis dalam mengambil keputusan klinis yang lebih cepat, tepat, dan terukur bagi keselamatan pasien. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya