Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Jalan Panjang Indonesia Menuju Raksasa AI 2045: Mengapa Banyak Perusahaan Masih Terjebak di Tahap Uji Coba?

Basuki Eka Purnama
05/3/2026 14:54
Jalan Panjang Indonesia Menuju Raksasa AI 2045: Mengapa Banyak Perusahaan Masih Terjebak di Tahap Uji Coba?
Ilustrasi(MI/HO)

AMBISI Indonesia untuk menjadi pemimpin di era kecerdasan buatan (AI) pada 2045 telah diperkuat melalui peta jalan nasional dan visi Making Indonesia 4.0. Namun, realitas di lapangan menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar antara ambisi dan eksekusi. 

Banyak perusahaan di tanah air dilaporkan masih berkutat pada tahap awal dan kesulitan melangkah lebih jauh dari sekadar uji coba.

Fenomena "terjebak di pilot stage" ini menjadi perhatian serius Michael L. Pireca, Chief Financial Officer dari Rimini Street. Menurutnya, masalah utama sering kali berakar pada kesalahpahaman fundamental mengenai teknologi itu sendiri. 

Banyak organisasi memutuskan untuk mengadopsi AI hanya karena dorongan euforia atau sekadar mengikuti tren, tanpa pemahaman mendalam tentang bagaimana teknologi ini dapat memberikan nilai bisnis yang nyata.

"Sering kali, perusahaan terjebak di tahap percontohan karena demo terlihat bagus," jelas Michael. "Tetapi, itu tidak memberikan hasil yang diharapkan atau sesuai dengan demonstrasi awal".

Fokus pada Kebutuhan, Bukan Sekadar Tren

Untuk mengatasi kebuntuan ini, Michael menekankan pentingnya kesiapan bisnis sebelum benar-benar terjun ke implementasi AI. Perusahaan perlu mengevaluasi proses bisnis mereka secara menyeluruh, terutama pada bagian yang masih mengandalkan komponen manual. 

Otomatisasi pada titik-titik tersebut diyakini dapat memberikan manfaat signifikan, meskipun proses yang ada saat ini dianggap sudah berjalan dengan baik.

Pendekatan yang disarankan adalah business-centric, yakni mendahulukan kebutuhan bisnis di atas ketersediaan alat. 

"Fokus pada kebutuhan bisnis terlebih dahulu, baru kemudian cari alat AI atau inovasi yang tepat, bukan hanya mengikuti tren," sarannya. 

Dengan mengidentifikasi titik nyeri (pain points) terbesar dalam operasional, perusahaan dapat menyusun prioritas yang realistis dan memastikan setiap investasi memberikan dampak yang terukur bagi organisasi.

Strategi Pendanaan Inovatif: "Pendapatan dari Penghematan"

Tantangan lain yang tak kalah besar adalah masalah anggaran. Di tengah keterbatasan dana IT, Rimini Street menawarkan model "pendapatan dari penghematan" sebagai solusi pendanaan inovasi. 

Alih-alih mengganti sistem lama dengan perangkat lunak baru yang mahal, perusahaan didorong untuk mengoptimalkan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang sudah ada.

"Perusahaan dapat mendanai inovasi tanpa meningkatkan pengeluaran IT dengan mendapatkan hasil yang lebih baik dari sistem yang ada," ujar Michael. 

Melalui dukungan pihak ketiga yang lebih efisien, perusahaan dapat menghemat biaya operasional IT secara signifikan. Dana hasil penghematan inilah yang kemudian dialokasikan kembali untuk mendanai proyek AI.

Menariknya, Michael menegaskan bahwa model ini tidak bertujuan untuk melakukan efisiensi karyawan. 

"Kami mengganti pengeluaran vendor perangkat lunak, bukan mengganti orang," tegasnya. 

Dengan sistem yang lebih stabil dan efisien, karyawan justru diharapkan dapat beralih ke pekerjaan yang lebih strategis dan memuaskan.

Melalui kombinasi kesiapan bisnis yang matang dan strategi pendanaan yang cerdas, tantangan skala AI di Indonesia diharapkan dapat teratasi tanpa harus membebani anggaran perusahaan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya